israeJAKARTA – Mayoritas besar masyarakat Indonesia menyatakan ketidaksetujuannya terhadap serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Berdasarkan temuan terbaru dari survei nasional yang dirilis pada 2 April 2026, tingkat legitimasi publik atas perang tersebut berada pada level yang sangat rendah.
Survei yang dilakukan secara bersama oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), SaifulMujani Research & Consulting (SMRC), dan Indikator Politik Indonesia ini menunjukkan bahwa serangan AS-Israel tidak memiliki pijakan dukungan yang kuat di mata warga Indonesia.
Hasil survei telepon terhadap 1.066 responden ini mengungkapkan bahwa sebanyak 83,1% warga Indonesia tidak setuju atau sangat tidak setuju dengan serangan Amerika-Israel terhadap Iran. Sebaliknya, hanya sekitar 4,9% warga yang menyatakan dukungannya.
“Dalam skala 0-100, rata-rata skor legitimasi publik atas perang ini hanya mencapai 37,2, yang dikategorikan sangat rendah,” tulis laporan rilis tersebut. Rendahnya skor ini mencakup tiga komponen utama:
- Indeks dukungan terhadap perang: 29,0.
- Indeks alasan yang membenarkan serangan: 38,1.
- Indeks kebijakan pemerintah terkait Board of Peace: 44,5.
Publik Indonesia juga menolak berbagai argumen yang digunakan untuk melegitimasi serangan tersebut. Sebanyak 59,4% warga tidak setuju bahwa perang tersebut terpaksa dilakukan karena Iran dianggap sebagai ancaman nuklir bagi Israel. Selain itu, 66,4% warga meragukan klaim bahwa pemerintah Iran telah membunuh ribuan rakyatnya sendiri. Bahkan, opini publik mengenai pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, menunjukkan mayoritas (55,3%) menganggap tindakan tersebut tidak dapat dibenarkan.
Survei ini juga memotret sikap kritis publik terhadap kebijakan luar negeri Pemerintah Indonesia. Meskipun Presiden Prabowo Subianto telah memutuskan Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP) Gaza bentukan Donald Trump, mayoritas warga (50,9%) justru tidak setuju dengan keputusan tersebut. Terkait rencana pengiriman 8.000 tentara Indonesia ke Gaza sebagai wujud dukungan pada BoP, sebanyak 44,9% warga menyatakan tidak setuju, sementara yang setuju berada di angka 33,8%.
Peneliti menemukan beberapa faktor utama yang membuat publik Indonesia enggan memberikan legitimasi pada perang tersebut:
- Kurangnya Perspektif Realisme: Mayoritas warga (67%) tidak setuju dengan pandangan bahwa hubungan antarnegara didasari saling mengancam dan membenarkan pemusnahan negara lain demi pertahanan diri.
- Penolakan Narasi “Tanah yang Dijanjikan”: Sebanyak 53,7% publik Indonesia tidak setuju dengan pandangan bahwa Israel adalah tanah air yang dijanjikan Tuhan bagi bangsa Yahudi.
- Komitmen Demokrasi: Publik memiliki preferensi kuat pada sistem demokrasi (63,5%) dibandingkan kepemimpinan militer atau otoritarianisme.
Metodologi Survei
Survei ini dilakukan pada periode 12-31 Maret 2026 menggunakan metode double sampling dengan sampel yang dianalisis sebanyak 1.066 responden. Margin of error survei diperkirakan sebesar 6%. Seluruh responden adalah WNI yang memiliki telepon seluler, yang mewakili sekitar 80% populasi nasional.
Hasil survei ini diharapkan menjadi masukan penting bagi pemerintah agar setiap keputusan luar negeri terkait konflik Timur Tengah memiliki legitimasi publik yang kuat. (*)












