Arunika

Aku adalah keindahan tanpa suara
Biar mereka menilai semaunya

Aku adalah gugusan arunika
Yang tampak dari buritan

Aku adalah sajak-sajak langit
Terlihat nyata dalam balutan mega

Terkadang orang berceloteh padaku
Bermain rayu dan bertukar semu
Aku hanya mampu meniru
Insan berkabut meramu kelu

Terkadang aku dijadikan samsak
Disaat mereka sesak
Saat tangis mulai isak
Antara hiruk pikuk tawa mengakak

Aku adalah mentari pagi yang ingin dikenang
Semesta menjelma rajah
Sanjung puan indah
Berderit hati megah

DPRD Lombok Timur

Respon (16)

  1. Puisi ini membawa segala serba dalam air, layaknya tenggelam didasar laut, hanyut dan mulut terbungkam karena lilitan air, ‘Arunika’ meraba aksa, meluluh rintih.

  2. Mantab anakku..
    Sedikit saya mau perjelas tentang kata ” buritan” atau “butiran” ? Sebab memiliki makna berbeda itu.. kalu memang maksudnya bagian belakang kapal, berarti benar sudah “Buritan” tapi kalau maksudnya butiran.. apakah masih bisa di edit ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *