Opini  

Selayang Pandang Tentang “A Dad’s Notes”

Oleh: Hamzani Wathoni, M.Ed

Pernahkah Anda melihat seorang anak bertanya kepada orang tuanya, lalu orang tuanya mengatakan, “Sudah, nggak perlu banyak tanya. Lakukan saja apa kata orang tua”? Kalimat seperti ini mungkin terdengar wajar, bahkan dianggap bagian dari “disiplin”. Namun di balik jawaban singkat itu, sering kali ada sesuatu yang pelan-pelan padam: rasa ingin tahu, keberanian bertanya, dan kehangatan dialog antara anak dan orang tua. Dari kegelisahan kecil seperti inilah buku “A Dad’s Notes” lahir.

Catatan Pendek Sejak 2013

Buku “A Dad’s Notes” bukan kumpulan teori kering, tetapi rangkaian catatan pendek yang ditulis sejak 2013. Isinya sederhana: potongan percakapan sehari-hari antara seorang ayah dan anak-anaknya. Ada yang lucu, ada yang mengharukan, ada juga yang membuat kita mengernyit dan berpikir, “Oh, ternyata anak bisa melihat seperti itu.”

Catatan-catatan ini merekam proses belajar bukan hanya anak yang belajar dari orang tua, tetapi juga orang tua yang belajar dari anak. Jika dilihat dengan kacamata teori belajar sosial, setiap dialog kecil di dalamnya adalah “kelas” terbuka: anak mengamati, meniru, mencoba, lalu menyimpan pola di dalam pikirannya.

Anak Menyalin Cara Kita Menjadi Orang Dewasa

Salah satu contoh yang muncul dalam buku ini adalah ketika seorang anak berkata dengan polos: “Saya juga ingin punya anak biar bisa saya marahi nanti.” Sekilas, ini terdengar seperti candaan. Kita mungkin tertawa dan menganggapnya lucu. Tetapi jika kita berhenti sejenak, kalimat ini menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: di kepala sang anak, terbentuk sebuah “naskah” bahwa menjadi orang tua itu identik dengan memarahi anak.

Artinya, tanpa sadar, cara kita berbicara, menegur, atau mengekspresikan emosi sedang direkam dan di-copy paste oleh anak sebagai gambaran bagaimana menjadi orang dewasa kelak. Inilah yang dijelaskan oleh teori belajar sosial: anak bukan hanya belajar dari nasihat, tapi terutama dari contoh nyata yang ia lihat setiap hari, intonasi suara, pilihan kata, cara marah, cara meminta maaf, cara bercanda, bahkan cara diam.

Buku “A Dad’s Notes” mengajak kita melihat ulang momen-momen kecil seperti ini. Bukan untuk menyalahkan diri sebagai orang tua, tetapi untuk lebih sadar bahwa setiap respon kita sedang “dicontek” oleh mata dan hati kecil yang memperhatikan.

Ketika Anak Bertanya, Mereka Sebenarnya Sedang Mencari Kita

Tulisan-tulisan dalam buku ini juga menekankan satu hal penting: ketika anak bertanya, mereka tidak sekadar mencari jawaban, mereka sedang mencari orang tuanya.

Pertanyaan seperti:
“Kenapa harus shalat?”
“Kenapa ayah marah?”
“Kenapa aku nggak boleh begini?”

Sering kali bukan sekadar soal informasi, tetapi permintaan halus:

“Boleh nggak aku ngobrol sama Ayah/Ibu? Bisa nggak aku ditemani sebentar? Masihkah aku penting di matamu?”

Ketika respon yang mereka terima adalah, “Sudah, nggak usah banyak tanya,” maka yang tertutup bukan hanya topik pembicaraan, tetapi juga pintu komunikasi. Pelan-pelan anak belajar bahwa bertanya itu merepotkan orang tua, bahwa rasa ingin tahunya tidak dihargai, dan bahwa lebih aman diam daripada mengganggu.

Di sinilah “A Dad’s Notes” mengingatkan kita: membatasi anak untuk bertanya bisa menjadi bentuk lain dari “pembunuhan” kreativitas berpikir. Anak yang terlalu sering disuruh diam ketika bertanya, akan tumbuh menjadi remaja yang enggan mengemukakan pendapat, dan menjadi orang dewasa yang takut salah setiap kali ingin belajar hal baru.

Dari Catatan Pribadi Menjadi Cermin Bersama

Sebagai catatan harian, kisah-kisah di dalam “A Dad’s Notes” lahir dari ruang tamu, dapur, perjalanan ke sekolah, atau obrolan menjelang tidur. Namun ketika dibaca ulang, cerita-cerita ini ternyata bukan hanya tentang satu keluarga, tetapi tentang banyak keluarga di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa:

  • Orang tua lelah, tetapi anak butuh diajak bicara.
  • Orang tua ingin anak patuh, tetapi anak juga butuh diajak berpikir.
  • Orang tua ingin yang terbaik, tetapi kadang bingung bagaimana caranya.

Melalui gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami, buku ini mengajak kita merenungkan kembali:

  • Bagaimana cara kita menegur?
  • Bagaimana kita menjelaskan sesuatu yang penting?
  • Apakah kita lebih sering mematikan pertanyaan, atau justru memeluknya?

Kenapa “A Dad’s Notes” Penting untuk Dibaca?

Buku ini penting bukan karena penulisnya sempurna sebagai orang tua, tetapi justru karena ia mengakui bahwa ia sedang belajar. “A Dad’s Notes” layak dibaca karena:

  1. Membantu orang tua bercermin tanpa merasa dihakimi.
    Cerita-cerita di dalamnya dekat dengan pengalaman sehari-hari, sehingga pembaca bisa tersenyum, tertawa, lalu pelan-pelan merenung.
  2. Menghubungkan praktik pengasuhan dengan teori belajar sosial secara sederhana.
    Anda tidak perlu latar belakang pendidikan psikologi atau pendidikan untuk memahami pesan-pesannya. Teori dijelaskan lewat cerita, bukan lewat istilah yang rumit.
  3. Menguatkan keyakinan bahwa menjadi orang tua adalah proses belajar sepanjang hayat.
    Tidak ada ayah atau ibu yang sempurna, tetapi selalu ada kesempatan untuk menjadi sedikit lebih baik dari kemarin melalui cara kita mendengar, menjawab, dan menemani anak.
  4. Mengajak kita memulihkan ruang bertanya di rumah.
    Dengan membaca buku ini, kita diingatkan kembali bahwa rumah seharusnya menjadi tempat paling aman untuk bertanya, salah, memperbaiki, dan mencoba lagi.

Pada akhirnya, “A Dad’s Notes” bukan sekadar buku tentang ayah dan anak. Ini adalah undangan halus bagi siapa pun yang peduli pada pendidikan, keluarga, dan masa depan: mari belajar kembali menjadi orang dewasa yang layak ditiru. Bukan karena kita sempurna, tetapi karena kita mau terus bertumbuh bersama anak-anak yang kita cintai.

DPRD Lombok Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *