Opini  

Sedikit Catatan untuk Dewan Kesenian Lombok Timur

Wahyu Nusantara Aji, Seniman Kamunitas Rabu Langit Lombok Timur

Oleh: Wahyu Nusantara Aji

“KESENIAN, apa pun bentuknya, tidak lahir dari sebuah lembaga yang dibentuk segelintir manusia yang merasa paling bertanggung jawab terhadap masa depan kesenian.”

– Udo Z. Karzi dan Budi P. Hatees

 Kutipan sarkas di atas merupakan sebuah pembuka suatu esai panjang yang ditulis Udo dan Budi tentang peran dewan kesenian di tempat mereka, di Lampung sana. Sebuah esai yang begitu skeptis memandang sebuah lembaga seni bentukan pemerintah itu baik dari peran maupun kinerjanya selama ini. Bagi mereka, lembaga bukanlah kesenian dan tidak bisa menganggap dirinya sama dengan seniman, sebab bagi mereka “Lembaga apa pun hasil bentukan itu, sekalipun bernama dewan kesenian, tidak ada satu karya seni pun yang bisa dihasilkannya. Tidak sepotong puisi, tidak sebentuk lukisan, tidak selembut gerak tari, tidak selenting bunyi, dan, ini yang paling penting, lembaga itu justru telah meletakkan kesenian bukan sebagai kesenian.”

Udo dan Budi begitu lihai menulis soal duduk perkara berkesenian dalam esai yang berjudul Kesenimanan di Dewan Kesenian Lampung itu, mereka menganalogikan dan memberikan definisi yang menurut saya begitu mengena dan sesuai dengan realitas lembaga kesenian sampai sekarang ini. Misalnya ketika mereka mengatakan :

“SELAMA bertahun-tahun seni terstigmatisasi dalam benak elite pemerintah daerah sebagai dunia yang artifisial. Seni adalah semacam benda artistik yang cuma berfungsi untuk dekorasi, pelengkap sebuah acara peresmian gedung atau penyambut tamu kenegaraan. Seni akhirnya tidak membutuhkan kreativitas, bentuk-bentuk baru. Seni adalah apa yang sudah ada dan tumbuh di masyarakat. Seni tidak pernah dianggap sebagai salah satu bentuk kreatif dari kebudayaan manusia.”

Mereka juga memberikan perbandingan-perbandingan yang tepat antara kesenian dengan hal-hal di luar kesenian. Lihat saja bagaimana mereka membandingkan pencapaian dalam seni tentu berbeda dengan pencapaian dalam bidang ekonomi dan pasar, nilai seni tidak seperti ukuran nilai tukar rupiah dan mengukurnya tentu tidak sama dengan bagaimana data pertumbuhan ekonomi diukur. Sebab hal itu sama-sekali tidak menunjukkan kreativitas yang alternatif, unik, dan artistik.

Bagi mereka dewan kesenian terutama yang di Lampung selama bertahun-tahun, dikelola tanpa konsep yang jelas, tanpa perencanaan-perencanaan yang matang, dan akhirnya, menghasilkan segala sesuatu yang tidak jelas serta tidak matang pula.

Membaca keseluruhan esai tersebut membuat saya tergelitik untuk memberikan sedikit catatan tentang dewan kesenian terutama dewan kesenian di Lombok Timur, tempat saya menginjakkan kaki selama ini.

Yang menarik dari esai itu bagi saya selain tentu saja membukakan tabir pandangan kita terhadap pola berkesenian yang kurang sehat di berbagai tempat di Indonesia adalah bagaimana seorang Udo dan Budi yang ternyata merupakan mantan pengurus Dewan Kesenian Lampung itu sendiri memantik suatu wacana atau suatu diskursus di tubuh kesenian Lampung. Udo yang merupakan mantan Ketua Penelitian dan Pengembangan Dewan Kesenian Lampung periode 2005-2008 sementara Budi adalah Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung periode 2005-2008 tidak segan menyampaikan pandangannya terhadap perilaku berkesenian orang-orang di sekitar  mereka. meski esai itu bertitimangsa 2005 yang saya cukup yakin mereka ketika itu belum mengemban jabatan-jabatan tersebut.

Artinya, sebagai seorang seniman mereka memiliki kesadaran terhadap realitas berkesenian yang buruk dan mencoba memberikan suara terhadap hal itu, yang pada kemudian hari mereka memiliki kesempatan untuk mengambil peran dan memperbaiki apa yang sebelumnya mereka kritik. Perkara mereka kemudian didapuk dan apakah mereka berhasil mengembalikan peran dewan kesenian di Lampung bagi saya adalah hal lain yang bisa kita kaji kemudian.

Saya tidak bisa membayangkan entah bagaimana raut wajah dan respon para seniman terutama para dewan kesenian ketika pertama kali membaca esai mereka, tetapi dari sini kita melihat adanya suatu ekosistem baik yang bekerja secara tidak langsung. Bagaimana kemampuan tulisan dan kritik mampu membuka mata berbagai orang terhadap suatu persoalan yang ada di sekitar mereka.

Sebuah dialektika yang sehat antar seniman, yang sangat saya yakin tidak ada kebencian personal apalagi dendam pribadi di dalamnya. Hal yang tentu murni dari hati seorang seniman memandang dunia kesenian yang dihidupi dan menghidupinya. 

Sebab seorang seniman tentu bukan orang yang cengeng dan baperan. Bukan seorang yang ketika ada yang mengkritik karya apalagi cara berkeseniannya lantas kemudian menganggap hal itu sebagai serangan, apalagi bulliyan. Seorang seniman adalah figur budaya sekaligus intelektual yang sehat. Sebab, seandainya tidak begitu, bagaimana kita akan mengharapkan suatu karya seni yang adiluhung dan kreatif bisa lahir dari tangan seorang seniman dangkal, yang memandang seluruh persoalan kritik adalah sebuah serangan dan bukan suatu evaluasi yang membangun.

Di Lombok Timur ini, alhamdulilah saya mendengar kabar bahwa dewan kesenian baru saja dibentuk dan dilantik langsung oleh Bupati. Meski begitu jauh terlambat, namun kehadirannya bagi seorang seniman adalah satu syukur di antara banyak musibah yang menimpa menurut hemat saya. Kita melihat sebuah langkah kecil yang mulai ditunjukkan pemda terhadap kesenian dan semoga saja ada langkah-langkah selanjutnya yang tentu saja arahnya ke depan, bukan ke belakang.

Saya tentu berharap dewan kesenian yang nantinya bekerja tidak menjadi lembaga kolot seperti yang digambarkan dalam esai Udo dan Budi itu, atau yang dalam bahasa mereka disebut sebagai yang ‘artifisial’ saja, hanya menjadi benda artistik yang cuma berfungsi untuk dekorasi, pelengkap sebuah acara peresmian gedung atau penyambut tamu kenegaraan.

Saya dan tentunya kita semua juga berharap dewan kesenian mengemban perannya benar-benar sebagai seorang dewan yang memiliki martabat sehingga dalam kerja-kerjanya yang mewakili para seniman nanti tidak dihanyutkan oleh kepentingan-kepentingan elit. Jangan sampai kesenian hanya menjadi barang dagangan saat kontestasi politik dan kemudian kembali dilupakan.

Dan untuk Bapak Ketua Dewan Kesenian Lombok Timur yang saat tulisan ini dibuat saya tahu lewat story whatsappnya sedang di atas pesawat yang konon katanya dibiayai dari hasil iuran Bapak Bupati, Sekda dan para elite lainnya untuk perjalanan ke Belitong memenuhi undangan menonton pertunjukan teater Dewan Kesenian Belitong, semoga catatan saya ini bisa menguatkan langkah pelungguh tidak hanya ke Belitong tapi juga di jalan dewan kesenian nantinya, dan tidak dianggap sebagai sebuah serangan apalagi suatu bullyan.

Selain saya yang menunggu oleh-oleh, ada banyak pekerjaan rumah yang juga menunggu diatasi dan diselesaikan sepulang pelungguh nanti. Saya kira tidak perlu saya rincikan seperti para aktivis membuat rincian dan kajian soal kenaikan BBM dan masalah sosial lainnya sebelum turun berdemo kemarin, sebab tentu pelungguh beserta seluruh jajaran pastinya sudah memiliki analisis dan pemetaan masalah kesenian yang jauh lebih komprehensif dibanding seniman tai ayam macam saya ini.

Terakhir untuk Dewan Kesenian Lombok Timur, izinkan saya menulis sekali lagi kutipan esai Udo dan Budi itu sebagai penutup :

“Terus berperang ide dan gagasan. Jangan pernah merasa puas atas apa yang sudah ada. Gelisahlah. Andalkan rasionalitas, kreativitas, lalu tanyakan: untuk apa lembaga ini dibentuk? Kemudian jawab sendiri.”

Matur Tampiasih.

*Wahyu Nusantara Aji, seniman tai ayam yang bergiat di Komunitas Rabu Langit, Lombok Timur.

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *