Budaya  

Pusat Latihan Balai Warna Alam Pringgasela Sebagai Wujud Melestarikan Kain Tenun Pringgasela

Lombok Timur – Songket Tradisi Gallery Pringgasela, didirikan oleh Bapak Muhir (Alm) dari tahun 1982. Almarhum dikenal sebagai tokoh Masyarakat, tokoh Budaya dan tokoh Agama. Bapak Muhir adalah orang tua dari Sareh Erwin. Dari tahun 1988 Sareh Erwin melanjutkan pengelolaan Songket Tradisi Gallery Pringgasela sampai saat ini.

Sejak tahun 1988 Songket Tradisi Gallery Pringgasela di bawah pengelolaan Sareh Erwin berkembang cukup pesat. Banyak terobosan-terobosan dilakukan berupa kerjasama dengan pihak luar Negeri maupun dalam Negeri, pemasaran berdasarkan pesanan ekspor ke Eropa dan Australia, sering mengikuti pameran di Bali, Jakarta, Surabaya, Jogjakarta, dan  di tempat lainnya yang dibiayai oleh rekanan maupun promosi secara mandiri.

Sareh Erwin, kepada massmedia Selasa (22/3) menuturkan, keahlian menenun para penenun di Pringgasela ini didapatkan secara turun-temurun, yakni dari orangtua atau kakek-nenek mereka. Wajib bagi generasi selanjutnya untuk meneruskan estafet kemampuan menenun, karena ini bagian dari adat istiadat Desa Pringgasela di Lombok yaitu Suku Sasak.

Lebih lanjut dijelaskan Sareh Erwin, bahwasanya Kain Tenun Pringgasela terbuat dari bahan-bahan alami, yaitu kapas pilihan yang dipintal menjadi gulungan benang sebagai bahan utamanya. Pintalan benang tersebut diwarnai menggunakan bahan pewarna alami dan menghasilkan warna pastel yang unik. “Warna alami tersebut berasal dari dedaunan, akar-akaran, biji-bijian, kulit pohon, batang pohon, bunga-bungaan dan juga yang lainnya yang sifatnya alami dan berasal dari alam,” sebutnya.

Namun ada keprihatinan di dalam diri Sareh Erwin (64) yang juga dikenal sebagai guide senior, yaitu bagaimana agar warisan dari leluhurnya ini tidak punah dan tetap dicintai oleh kaum milenial. Karena menurutnya generasi milenial ini kurang begitu berminat untuk  membuat kain tenun (sasak:Nyesek).

Dari keprihatinan inilah timbul keinginan untuk melestarikan budaya pembuatan kain tenun khas Pringgasela terpikirkan. Sehingga didirikanlah sebuah tempat yang disebut, Balai Warna Alam (BWA)  Pringgasela. Di sinilah tempat diajarkan dasar mulai dari pemintalan, pewarnaan, sampai pembuatan kain tenun.

Misalnya lanjut Erwin, warna-warna pastel, diambil dari sari biji pinang, akar mengkudu, kulit kayu, dari tanaman Indigofera tinctoria atau tanaman tarum, tanaman suji, bunga-bungaan, daun Mangga, pohon Nangka, pohon Mahoni dan banyak lagi yang lainnya.

“Kita bisa saja menggunakan seluruh tumbuh-tumbuhan untuk kita jadikan sebagai bahan pewarna selama tidak merusak ekosistem itu sendiri. I tinya selama kita menggunakan tumbuh-tumbuhan untuk dijadikan bahan pewarna tugas kita bagaimana kita bisa mengunci warna alam tersebut agar tetap kuat dan tidak luntur sehingga konsumen yang memakai produk kita puas dan nyaman,” terang Erwin.

Selanjutnya, semua bahan pewarna tadi direbus di gentong yang terbuat dari tanah, dipanaskan memakai kayu bakar hingga getahnya mengeluarkan warna.  Demikian seterusnya hingga mendapatkan warna yang diinginkan dan beragam.

“Setelah mendapatkan warna yang diinginkan, pintalan benang tadi dicelupkan ke dalam beberapa gentong yang terbuat dari tanah yang sudah diisi dengan berbagai macam warna. Tahapan pewarnaan ini tidaklah lama, hanya beberapa hari saja hingga benangnya di jemur sampai kering setelah diwarnai,” jelasnya.

Balai Warna Alam, juga melatih.anak-anak SD, SMA, sering juga menjadi tempat penelitian dan tempat belajar Mahasiswa di antaranya dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dari Jogjakarta maupun universitas berasal dari luar Negeri. Mereka rata-rata menghabiskan waktu  tiga sampai 7 hari. Yang paling sering adalah dikunjungi oleh Turis Mancanegara yang dibawa oleh tour guide. Mereka senang ikut belajar dan melihat bagaimana proses pembuatan kain tenun Pringgasela.

Pada 1996, Songket Tradisi Gallery dan Balai Warna Alam Pringgasela dengan Tradisi Textile Australia membuat kesepakatan bersama untuk pemasaran ke luar Negeri seperti Australia, Belanda, Jerman, Belgia dan lain-lain.

Keuntungan dari hasil kerjasama tersebut  diperuntukkan bagi kegiatan sosial kemasyarakatan berupa operasi katarak, pembagian kacamata plus, bantuan benang dan alat tenun, atau jenis bantuan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat.

“Kegiatan sosial ini kerjasama dengan John Fawcett Foundation. Kegiatan sosial kesehatan operasi katarak ini tidak hanya di Lombok saja, tetapi telah dilaksanakan di berbagai daerah di seluruh Indonesia,” terang Erwin.  

Sayang Akibat dari bencana gempa Lombok 2018 dan pandemi covid-19, Balai Warna Alam untuk sementara tidak aktif sampai situasi normal kembali.

Sareh Erwin berharap, Pemerintah Lombok Timur untuk mencanangkan agar masyarakat menanam kapas kembali. Karena sampai saat ini bahan baku kapas untuk bahan benang masih didapatkan dari perorangan saja dan terbatas sehingga sangat sulit didapatkan. Bahkan mereka harus mendatangkan benang dari luar Lombok sehingga nilai produksinya cukup tinggi.

“Atas nama pribadi mewakili Tokoh Adat dan Budaya Pringgasela mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Lombok Timur, yang sudah mewajibkan setiap hari Kamis terutama Pegawai Negeri Sipil untuk menggunakan pakaian adat Sasak. Hal ini bagian dari pada pelestarian Budaya Sasak agar dicintai oleh generasi berikutnya. Di samping itu juga agar pengrajin kain Tenun di Pulau Lombok ini bisa terangkat perekonomiannya,” tutup Erwin. (Asbar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *