Lombok Timur – Dengan semangat gotong royong dan cinta terhadap budaya serta alam, warga Desa Telagawaru kembali menggelar Perhelatan Molang Maliq Mualan Benyer 2025 pada 22 Juni 2025 di kawasan Mata Air Mualan Benyer. Tidak seperti tahun sebelumnya yang merupakan gelaran perdana dengan dukungan dari Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan, tahun ini perhelatan digelar secara mandiri dan swadaya penuh oleh masyarakat, tanpa dukungan pendanaan eksternal.
Hal ini menjadi bukti kuat bahwa masyarakat benar-benar peduli dan berkomitmen terhadap pelestarian lingkungan hidup, budaya tradisi, dan karya seni lokal. Meski dilakukan tanpa dana bantuan, semangat warga tidak luntur. Antusiasme sangat terasa sejak sehari sebelumnya, 21 Juni, saat warga berbondong-bondong membersihkan kawasan mata air, mendekorasi lokasi, hingga menyiapkan logistik perhelatan dengan penuh semangat dan keceriaan.
Ritual Pesuq Beras, yang dilakukan para ibu-ibu di sore hari dengan membawa beras dan mencucinya di mata air, menjadi salah satu momen sakral yang kembali dihadirkan. Malam harinya, suasana kampung hangat dengan aktivitas memasak bersama sebagai bentuk persiapan untuk hari puncak.
Tanggal 22 Juni, sekitar pukul 09.00 WITA, warga mulai berdatangan dan memenuhi lokasi acara. Tamu undangan dan masyarakat terlihat antusias menyambut perhelatan yang telah mereka nantikan. Acara dibuka dengan sambutan dari Akeu Surya Panji, Ketua Perkumpulan Seni Menduli Selayar, yang menegaskan bahwa perhelatan ini adalah lanjutan dari gelaran perdana tahun lalu, namun dengan skala yang lebih sederhana karena dilakukan secara swadaya. “Kami tetap konsisten karena ini soal merawat sumber air dan budaya kami sendiri,” ujar Akeu.
Junaedi, Sekretaris Desa Telagawaru, menyampaikan rasa bangganya terhadap kekompakan warga dan berkah melimpahnya air. Acara kemudian dibuka oleh Arpin, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur, yang mengapresiasi upaya warga yang tetap solid dalam menghidupkan tradisi.
Yang berbeda dan menjadi sorotan utama tahun ini adalah peran generasi muda sebagai pelaku utama pentas seni. Jika di tahun sebelumnya pentas seni menampilkan karya orisinal para generasi tua, tahun ini karya kreasi inovatif dari ritual Kebangru’an dipentaskan oleh kelompok muda Bajang Benyer, hasil garapan Irma Septiana dan dikembangkan oleh Vicka Yulia, keduanya murid seni dari Yuga Anggana yang kini menjadi pendidik.
Yuga Anggana menyampaikan bahwa hampir seluruh panitia dan pengisi acara tahun ini berasal dari kalangan muda. “Ini jadi bukti bahwa proses enkulturasi berjalan. Nilai-nilai budaya, semangat pelestarian alam, dan kearifan lokal berhasil diwariskan,” ujarnya.
Tantangan perhelatan tahun ini cukup terasa, terutama dalam menyatukan persepsi antara Yuga selaku pendamping, Perkumpulan Seni Menduli Selayar sebagai penggagas, serta Pemerintah Desa dan masyarakat sebagai pelaksana di lapangan. Koordinasi kebutuhan teknis dan penentuan waktu yang tepat agar tidak berbenturan dengan agenda warga lainnya menjadi bagian tersendiri dari proses ini.
Meski perhelatan tahun ini disebut “tidak semeriah tahun sebelumnya”, bukan karena kurangnya semangat, tapi karena keterbatasan dalam sosialisasi dan publikasi akibat tidak adanya dana pendukung. Namun demikian, setiap tahapan inti acara berlangsung dengan lancar dan penuh makna.
Selain ritual dan pentas seni, sekitar 10 UMKM lokal turut serta menjajakan berbagai produk, dari makanan tradisional, kerajinan tangan, hingga hasil bumi. Kehadiran mereka memberikan warna tersendiri dan menjadi bagian penting dari dampak ekonomi acara ini. Beberapa pelaku UMKM mengaku penjualan mereka meningkat tajam dibanding hari biasa.
Acara ditutup dengan Dzikir dan Doa Bersama, dilanjutkan dengan Begibung, makan bersama seluruh warga dan tamu yang hadir sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.
Perhelatan Molang Maliq Mualan Benyer 2025 menjadi bukti bahwa tanpa hingar bingar, sebuah acara budaya tetap bisa hadir hangat dan bernyawa ketika digerakkan oleh niat tulus dan kerja kolektif masyarakat. Ini bukan sekadar acara tahunan, tapi juga cermin hidupnya warisan leluhur di tangan generasi kini. (*)















