Lombok Timur – Puncak perayaan Pesona Budaya 7 Pengadangan yang diselenggarakan pada Minggu (26/11) di Desa Pengadangan, Lombok Timur, bukan sekadar festival budaya, melainkan sebuah manifestasi mendalam dari falsafah hidup Suku Sasak, yaitu Metu Telu. Ribuan warga dari berbagai usia tumpah ruah mengikuti prosesi adat sakral ini, yang dirangkai dengan kirab 5.000 dulang Betetulak.
Inti dari kegiatan ini adalah penanaman kembali nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi kehidupan bermasyarakat. Kepala Desa Pengadangan, Iskandar, menjelaskan secara gamblang Metu itu artinya Lahir dan Telu artinya Tiga. Itu bukan tentang orang sholat 3 kali sehari melainkan falsafah Sasak atau hukum 3 seperti lahir, hidup, dan mati.
“Metu Telu yang menjadi tema festival kita hari ini mengambil maknanya secara zahir yang berfokus pada keseimbangan tiga poros utama: hukum agama, hukum pemerintahan, dan hukum adat,” ungkapnya.
Kehadiran Bupati Lombok Timur, Haerul Warisin, beserta Wakil Bupati dalam prosesi Metu Telu dan teatrikal Midang menjadi simbol kuat dari harmonisasi ketiga unsur kehidupan yang diajarkan dalam falsafah adat. Sinergi antara dua pimpinan daerah ini dinilai merepresentasikan keselarasan antara pemerintahan, adat, dan agama, yang merupakan poros penting bagi masyarakat Pengadangan.
Bupati Haerul Warisin memberikan apresiasi tinggi terhadap kegiatan yang dikemas secara unik dan menarik ini. Ia menekankan bahwa Budaya Pesona Pengadangan harus menjadi sarana efektif untuk pelestarian tradisi, penanaman nilai moral, serta pemersatu masyarakat.
“Budaya salah satu cara untuk menjaga persatuan dan kesatuan, pemerintah akan mendukung kegiatan ini karena kegiatan ini sangat positif,” tegasnya.
Pesona Budaya Pengadangan menampilkan beragam atraksi, mulai dari Gendang Beleq, tari Metu Telu, hingga teatrikal Midang, namun yang paling menyita perhatian adalah kirab ribuan dulang Betetulak. Sebanyak 5.000 dulang dikirab oleh masyarakat dari anak-anak hingga lansia, menunjukkan partisipasi luas yang mengindikasikan bahwa kegiatan ini telah menjadi ruang silaturahmi yang memperkuat hubungan sosial.
“Kekompakan dan harmonisasi ribuan warga yang mengikuti prosesi inilah yang menjadi faktor penentu kesuksesan Pesona Budaya Pengadangan tahun ini, sekaligus mempertegas dukungan pemerintah daerah untuk menjadikan acara ini sebagai agenda tahunan yang wajib diselenggarakan,” tutupnya. (*)













