LOMBOK TIMUR — Potensi wisata Pulau Sumbawa, yang kerap dijuluki “Negeri Intan Bulaeng”, terus memikat wisatawan mancanegara. Panorama alam yang masih perawan dan asri menjadi daya tarik utama, seperti yang diungkapkan oleh Mirzoan Ilhamdi, seorang pemandu wisata (guide) senior asal Masbagik, Lombok Timur.
Pria yang akrab disapa Ming Lombok ini membagikan pengalaman inspiratifnya kepada massmedia.id, Kamis (30/7), saat mendampingi tiga wisatawan asal Prancis menjelajahi pesona Pulau Sumbawa selama 11 hari.
Ketiga wisatawan tersebut, yakni James Picard (56), Max Clement (23), dan Laurent Simone (48), mempercayakan perjalanan mereka melalui agen perjalanan di Prancis yang bermitra dengan local expert di Indonesia. Menurut Ming, Sumbawa dipilih secara khusus karena menyajikan keindahan alam yang autentik dan belum banyak dijamah keramaian, mulai dari pantai berair biru jernih, air terjun menawan, hingga kawasan hutan yang sangat terjaga.
”Perjalanan dimulai setibanya mereka di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin, Sumbawa Besar. Para tamu kami jemput dan langsung menuju Samawa Seaside Resort untuk beristirahat. Pada hari pertama ini, mereka kami ajak menikmati pemandangan matahari terbenam (sunset) yang memukau di Pantai Ai Lemak,” tutur Ming.
Eksplorasi budaya, sejarah, dan kearifan lokal menjadi fokus pada hari kedua. Rombongan diajak mengunjungi pasar tradisional untuk melihat langsung interaksi ekonomi masyarakat lokal serta mencicipi kuliner khas Sumbawa. Perjalanan kemudian berlanjut ke Istana Dalam Loka, sebuah mahakarya arsitektur rumah panggung peninggalan Kesultanan Sumbawa yang dibangun pada 1885 oleh Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III.
Tak jauh dari pusat kota, wisatawan juga singgah di Desa Wisata Pamulung. Di sana, mereka terkesima melihat proses pembuatan kain tenun bermotif tradisional serta deretan rumah panggung warga yang masih dipertahankan hingga kini.
”Mereka sangat menikmati suasana pedesaan yang sederhana dan ramah. Bahkan, sajian ikan bakar dengan sambal kecap ala kadarnya dari warga setempat justru memberikan kesan yang sangat mendalam bagi mereka,” tambah Ming.
Memasuki hari ketiga, petualangan berlanjut ke Pulau Moyo. Kawasan yang dijuluki “Pulau Sang Putri” karena pernah dikunjungi oleh mendiang Putri Diana ini memanjakan wisatawan dengan keindahan alam tropis. Para tamu menghabiskan waktu dengan berenang di air terjun, melakukan soft trekking, serta berburu foto spesies kupu-kupu liar.
Hari keempat diisi dengan pengalaman eksotis yang paling dinantikan: berenang bersama hiu paus (whale shark). Rombongan bertolak dari Sumbawa Besar menuju Desa Labuan Jambu—pelabuhan utama untuk melihat hiu paus—dengan waktu tempuh sekitar 2,5 jam dan menginap di kawasan tersebut guna menjaga stamina.
Demi mengejar momentum matahari terbit, mereka memulai pelayaran pada pukul 04.00 WITA. Menempuh perjalanan laut selama 1,5 jam menuju bagang (bagan) nelayan, para wisatawan akhirnya bisa menyelam dan berenang langsung bersama raksasa laut yang ramah tersebut.
Usai bercengkrama dengan hiu paus, perjalanan darat selama tiga jam diteruskan menuju Nanga Miro atau Labuan Kenanga, titik penyeberangan menuju Pulau Satonda. Di pulau yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Moyo Tambora ini, wisatawan kembali dihibur dengan ragam aktivitas alam.
Mulai dari snorkeling, menyelam, mendayung kayak di danau vulkanik, berkemah, hingga berburu panorama alam dilakukan sebelum rombongan kembali beristirahat di hotel untuk melanjutkan etape perjalanan berikutnya. (Asbar/Bersambung)















