Lombok Timur – Desa Pulau Maringkik merupakan satu-satunya Desa berupa pulau yang ada di Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur, Provinsi NTB. Luas wilayah Sekitar 11 Hektar dengan jumlah penduduk tercatat sebanyak 2168 Jiwa. Hal ini menjadikannya Desa kepulauan Nelayan terpadat di Indonesia.
Desa Maringkik tercatat di Jejaring Desa Wisata (JADESTA) yang merupakan Program dari Kemenparekraf RI guna mendorong sekaligus mempromosikan Desa Wisata yang ada di seluruh Indonesia.
“Desa Pulau Maringkik memiliki banyak Destinasi Wisata, ada Wisata Pulau Pasir, Pasir panjang dan Wisata Budaya Tenun khas Pulau Maringkik. Di Pulau Maringkik juga banyak Tempat Spot indah untuk berfoto dan masih banyak lagi hal menarik untuk dikunjungi,” kata Kaur Perencanaan Desa Maringkik Rijalul Iman kepada massmedia di Kantor Desa pada hari Minggu tanggal 2 Juli 2023.
Lebih lanjut kata Rijal, Desa Maringkik terbagi menjadi 7 RT, Maringkik Induk, Maringkik Barat dan Selatan. Mata pencaharian mereka rata-rata Nelayan, sebagian kecil berdagang, Penenun dan memelihara kambing.
Sedangkan Bahasa yang digunakan sehari-hari bahasa Bajo, karena sebagian besar penduduknya berasal dari Bajo. Uniknya pulau ini dihuni juga oleh beberapa suku lainnya seperti, Bugis, Ende NTT, Mbojo dan Sasak. Semuanya melebur menjadi satu.
“Di sini tidak ada Sumber mata Air bersih, tidak ada sumur, seperti di daerah daratan lain, artinya Masyarakat disini sangat minim Air bersih. Air bersih ada dialirkan dari PAM Daerah dari Keruak. Namun debit airnya sangat kecil sehingga pembagian air diatur secara bergiliran dua hari satu kali dibagi beberapa kelompok. Satu KK itu hanya dapat 7 Baskom plastik ukuran kecil. Air bersih tersebut dipergunakan untuk masak, bilas dan mandi itu pun sangat tidak cukup,” sebutnya.
Rijalul Iman yang juga ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pulau Maringkik menjelaskan bahwa Warisan budaya Masyarakat di Pulau Maringkik adalah menenun, membuat kain tenun khas pulau Maringkik. Pemasarannya berdasarkan pesanan dari luar pulau, harga tergantung motif,” jelasnya.
“Pulau Maringkik memiliki ciri bertebing dengan banyak tebing karang yang tersebar di sekitar pulau. Di selatan pulau terdapat tebing karang yang menjorok ke lautan dan berwarna keemasan saat diterpa cahaya matahari. Karakteristik inilah yang menjadikannya sebagai pulau nelayan terindah,” terangnya.
Di bawah tebing yang menjorok ini terdapat sebuah terowongan kecil yang tembus ke lautan, kita bisa jalan menuju Terowongan ini, orang sini bilang Toroh Igah. Terowongan ini menjadi spot favorit wisatawan,” sebut Rijal.
Ada juga Pulau Pasir. Jika sedang surut muncul menjadi daratan bisa nyebrang dari Pulau Maringkik ke pulau pasir namanya pulau Kere. Luasnya bisa mencapai 10 Are,” tambah Rijalul.
Ada yang unik dan sulit ditemukan di desa lainnya di NTB yaitu begitu banyaknya orang memelihara Kambing yang hidup liar di sana. Tidak ada satupun kandang ditemukan. Masing-masing diberi tanda. Kalau tidak pakai kalung, Kambing tersebut dicat warna agar tidak tertukar dengan punya orang lain. Uniknya, di sana tidak ada rumput atau tanaman liar, tapi Kambing tersebut pertumbuhannya normal. Ketika hal ini di tanyakan kepada Kaur Desa yang juga Ketua Pokdarwis Desa Maringkik Rijal, Ia mengatakan bahwa kambing di Pulau Maringkik makan segala. “Kambing di sini bebas trayek artinya memakan apa saja, seperti kertas, kertas kardus, plastik, jerigen minyak bahkan kain juga dimakan,” katanya sambil menunjuk Kambing yang memang familiar di sekitar lokasi.
Di bagian lain Pulau Maringkik, ketika Tim massmedia akan kembali pulang pada sore harinya tepatnya di kawasan dermaga lama, ketika Air laut surut terdapat sebuah jalan pasir putih memanjang diperkirakan lebih dari 2 km yang muncul saat air laut surut. Jalan pasir ini bisa menjadi penghubung antara Pulau Maringkik dengan Pulau (Gili) Bembek yang juga dilalui Jaringan PLN. (Asbar)













