Seni  

Wahyudi Idris, Pendiri Sanggar Tari Banaspatiraja

massmedia.id, Lombok Timur – Wartawan massmedia.id berkesempatan untuk menengok aktifitas Sanggar Seni “Banaspatiraja” yang ada di Kampung Karang Siswa Masbagik Selatan, Senin (22/3). Untuk menuju ke sana kita harus menyusuri jalan setapak dan kalau menggunakan kendaraan hanya motor yang bisa masuk ke lokasi Sanggar ini. Saat tiba di sana langusng diterima oleh Wahyudi Idris yang sedang asik mengajar tari.

Pendiri dan Pemimpin Sanggar Seni Banaspatiraja ini, selanjutnya bercerita bahwa sanggar yang dipimpinnya berdiri sejak tahun 2014 dengan nama sanggar “Banaspatiraja” yang artinya membangun Generasi Pair Timur.  Kegiatan di Sanggar miliknya terdapat beberapa seni tradisi, seperti Gamelan, Tari Tongkeq, Tari Kreasi, Gendang Beleq untuk Anak Sekolah Dasar. “Jadwal kursus tari hanya dua kali dalam satu minggu yaitu hari Senin dan Kamis,” tuturnya.

Peserta kursus di sanggarnya berasal dari berbagai daerah seperti dari Songak, Selong, Sakra, Lenek, rata rata pelajar SMP dan SMA,  hanya beberapa dari kalangan Mahasiswa. Salah seorang muridnya, bernama Jani lulusan Prodi Sendratasik Universitas Hamzanwadi dari Sakra yang ketika ditemui sedang belajar Tari Dayang-dayang. Menurut Jani, latihan tari di Sanggar Banaspatiraja ini untuk meningkatkan keterampilan menari dirinya, ke depan untuk bisa melatih seandainya di Sakra nanti mendirikan Sanggar Seni.

Wahyudi yang menggemari tari sejak kecil, sampai saat ini telah menciptakan banyak tari tarian, sebut saja Tari Dayang-dayang, Tari Belanjakan, Tari Peresean, Tari Dedare Nyesek yang sering dipentaskan di event Budaya Pringgasela.

Pengalaman di tingkat Nasional bersama Dinas Pariwisata Lombok Timur mengikuti Acara Pesona Budaya Kabupaten Lombok Timur, dua kali yaitu pada tahun 2008 dan tahun 2015, Drama Tari Tegining Teganang tampil di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) anjungan NTB,  menampilkan prosesi “Enjenengan”, yaitu drama pengukuhan Kepala Desa secara tradisi.

Pada tahun 2018 di kota Praya pada cara Hari Anak Nasional Wahyudi juga menampilkan permainan Anak Tradisional seperti Elong Acong, Berebahan, Selodoran, Berorosan Pelepah Kelapa, Berempokan dan dongeng tradisional cerita rakyat, Tegining Teganang, Terujat-ujat, Tegode-gode dan lainnya. Selain itu pada rentang waktu tahun 2016, 2018 dan 2019, Wahyudi pernah mengikuti acara Pelestarian Seni dan Budaya yang hampir Punah yaitu, Rebana Lima, Kelenang Nunggal, Tongkeq, Tarian Sandikala, Layangan Guang.

Wahyudi yang berprofesi guru ini menuturkan bakat menari yang dimilikinya turun-temurun dari Niniknya bernama Isak (Alm.) lalu  ke orang tuanya Idris dan ke dirinya.

Menurut Wahyudi, sanggar seni tari saat ini sangat jarang, di Lombok Timur saja hanya ada di Masbagik dan Sanggar Sri Gede Semu yang ada di Lenek. Dia berharap ada pembinaan dari pemerintah agar seni tradisi tidak punah dimakan zaman. (Asbar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *