Lombok Timur – Saparul Anwar atau dikalangan pelukis dikenal dengan nama Phalonk, salah seorang pelukis asal Desa Lendang Nangka, bersama Yayasan Senine Aksi Indonesia menyelenggarakan Pameran Lukisan Tunggal (Mini Solo Exhibition) bertempat di MU Homestay Desa Wisata Kembang Kuning Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur dari Tanggal 15-30 Oktober 2025.
Hadir pada pembukaan Mini Solo Exhibition Femme Vitale, Kabid SDM Dinas Pariwisata Lombok Timur Ridho Rasyid, Pendiri LHA Lombok Ahyak Mudin, Ketua LHA Provinsi NTB H.Abd Azis Zuhdi, Anggota Lombok Homestay Association, Komunitas Seni Waktu, Komunitas Perupa Lotim dan Komunitas Senine Aksi Indonesia.
Phalonk lahir 1991 di Desa Lendang Nangka, istrinya Nova hardianti dan mempunyai putra satu, Yusuf Nolong Anwar (1), sejak kecil hobi melukis tapi untuk menjadi perupa atau seniman profesional sejak tahun 2011. Phalonk Jebolan Institut Seni Indonesia (ISI ) Yogyakarta, mengambil Jurusan Kriya Logam Fakultas Seni Rupa.
Menurut Phalonk, Mini Solo Exhibition tersebut bertujuan untuk membangun atau mengubah paradigma Seni Rupa Lombok yang cenderung dengan gaya realis atau naturalis agar khazanah seni rupa lombok semakin beragam. Lukisan yang dipamerkan yaitu Femme Vitale, lukisan yang menjelaskan tentang kedudukan perempuan dalam kehidupan sosial yang memainkan peran sangat penting dan semakin diakui di berbagai bidang.
“Perempuan tidak hanya berkontribusi secara signifikan dalam keluarga yang bertanggung jawab atas perawatan anak-anak, pendidikan dan kesejahteraan dalam keluarga, tetapi juga memiliki peran penting dalam pembangunan sosial, ekonomi, politik dan budaya. Perempuan kini sering kali menjadi pemimpin dan inovator di berbagai bidang, menghasilkan kontribusi perkembangan masyarakat secara keseluruhan,” tutur Phalonk.
“Aliran yang saya tampilkan kali ini merupakan naif ekspresionis minimalis, mengambil lokasi MU Homestay Desa Kembang Kuning dan merupakan tempat yang strategis bagi dirinya karena karya yang Ia pamerkan pada project kali ini memang minimalis,” katanya.
Ketika dialog dengan pengunjung, salah seorang tamu warga Perancis Laura (23) menanyakan tentang keunikan dari semua lukisan yang ada disana, semuanya tidak ada Hidung? “Kenapa saya tidak melukiskan hidung di setiap objeknya, karena saya mengimajinasikan apakah tanpa hidung masih bisa disebut bagian dari sempurna karena banyak kita temukan di dunia nyata yang cacat hidungnya menjadi bahan bulian bagi yang lainnya dan saya sangat mengkritik hal itu, dan karya seni itu sendiri tidak untuk dibully melainkan untuk kita nikmati karena karya seni itu sendiri mempunyai nilai intelektual, nilai estetika dan artistik,” tegasnya.
Diakuinya bahwa Proses yang dilalui ketika melukis itu butuh proses yang tidak sebentar. “Mungkin sangat mudah bagi saya akan tetapi yang bikin sulit itu ketika kita mencari tema yang akan kita kerjakan dan butuh beberapa study bentuk untuk mencapai itu,” akunya.
Dirinya pernah mencoba beberapa bidang di seni rupa. “Bahkan lintas kesenian saya geluti seperti di bidang perfilman dan musik, saya lebih suka bereksperimen,” ungkapnya.
Ketika Massmedia menanyakan tentang jurusan kriya logam di Fakultas Seni Rupa tempat kuliah, tapi hari ini pameran lukisan perupa dari cat, kata Phalonk telah banyak juga yang Ia buat Kriya logam itu seperti pembuatan karya seni yang medianya terbuat dari logam, seperti dari Kuningan dan Tembaga. (Asbar)














