Jakarta – Program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, Makan Bergizi Gratis (MBG), mendapatkan apresiasi tinggi dari masyarakat. Temuan survei terbaru Indikator Politik Indonesia periode 15-21 Januari 2026 menunjukkan bahwa mayoritas publik merasa puas dengan pelaksanaan program tersebut. Kendati demikian, publik memberikan catatan merah terkait potensi penyelewengan dana atau korupsi dalam program ini.
Tingkat Kepuasan Tinggi
Berdasarkan data survei, tingkat kepuasan publik terhadap program MBG mencapai angka 72,8%. Angka ini merupakan gabungan dari responden yang menyatakan “sangat puas” sebesar 12,2% dan “cukup puas” sebesar 60,6%. Hanya 19,9% yang menyatakan kurang puas dan 4,5% yang tidak puas sama sekali.
Tingginya kepuasan terhadap MBG ini berkorelasi kuat dengan kepuasan terhadap kinerja Presiden. Data menunjukkan bahwa 88,5% responden yang puas dengan program MBG juga menyatakan puas dengan kinerja Presiden Prabowo.
Skeptisme Terhadap Korupsi
Meskipun program ini populer, Indikator Politik Indonesia menemukan adanya krisis kepercayaan terkait integritas pelaksanaannya. Mayoritas responden, yakni 61,7%, menyatakan kurang percaya atau tidak percaya sama sekali bahwa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis bebas dari korupsi.
Hanya 33,8% responden yang percaya bahwa program ini dijalankan tanpa dikorupsi. Indikator mencatat hal ini sebagai peringatan serius, mengingat ketidakpercayaan publik yang tinggi ini masih ditoleransi saat ini hanya karena sifat program yang sangat populis.
Preferensi Penerima Bantuan: Mayoritas Ingin Merata
Terkait target penerima, survei ini juga mengungkap bahwa masyarakat lebih menginginkan program ini bersifat universal. Sebanyak 60,0% responden berpendapat bahwa program MBG sebaiknya diberikan kepada seluruh anak di Indonesia, bukan hanya menyasar kelompok miskin atau wilayah tertinggal.
Hanya 19,8% yang setuju jika program ini dikhususkan untuk anak-anak yang membutuhkan saja, dan 13,2% yang setuju jika hanya untuk wilayah terpencil dan miskin. Saat ini, sekitar 35,5% responden mengaku ada anggota keluarganya di rumah yang sudah menerima manfaat program tersebut.
Masalah Ketepatan Sasaran
Evaluasi kritis juga muncul dari kelompok yang tidak puas dengan kinerja Presiden. Salah satu alasan utama ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo adalah persepsi bahwa bantuan (termasuk MBG) tidak tepat sasaran atau kurang merata, yang disebut oleh 16,2% responden yang tidak puas.
Metodologi Survei
Survei ini dilakukan pada 15-21 Januari 2026 melalui wawancara tatap muka. Populasi survei adalah warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih. Penarikan sampel menggunakan metode multistage random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 1.220 orang. Margin of error survei diperkirakan ±2,9% pada tingkat kepercayaan 95%.












