Lombok Timur – PKBI Cabang Lombok Timur sebagai Sub-Sub Recipient (SSR) program Eliminasi TBC Indonesia, menyelenggarakan Pertemuan Validasi Data dan Koordinasi antara Komunitas dan Layanan Kesehatan di Aru Coffee, Selong, pada hari Senin, 24 November 2025. Kegiatan ini merupakan upaya strategis untuk meningkatkan kualitas data dan akselerasi penemuan kasus Tuberkulosis (TBC) di Lombok Timur.
Pertemuan koordinasi ini dihadiri oleh total 28 peserta, termasuk perwakilan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan (P3KL), Ketua Tim Kerja P2P, WASOR TB, TO TB, Pemegang Program TB dari 18 Puskesmas dengan capaian rendah, serta Staf dan Koordinator Kader SSR Lombok Timur.
Pada sambutannya, Staff Program dan MEL SSR Lombok Timur, Agus Khairi, menyampaikan tujuan dari pertemuan yang tersebut untuk melakukan validasi data antara Komunitas dan Dinas Kesehatan Lombok Timur. “Tujuan utama dari kegiatan ini adalah melakukan validasi data antara hasil capaian indikator TB Sensitif Obat (SO) dan Resistant Obat (RO) dari tim komunitas dengan data bakteriologis dari seluruh Fasyankes dan Dinas Kesehatan,” terang Agus.
Selanjutnya, Agus menambahkan bahwa pertemuan tersebut untuk menyampaikan tantangan dalam proses penemuan kasus di Lombok Timur. “Selain itu, pertemuan ini bertujuan untuk menyampaikan tantangan dalam proses penemuan kasus melalui kegiatan Investigasi Kontak, Community outreach, dan pendampingan pasien guna mendukung keberhasilan pengobatan (success treatment),” bebernya.
Terakhir, kata Agus, diharapkan ada Rencana Tindak Lanjut yang disusun beserta linimasa yang disepakati dalam rangka pemenuhan target yang sudah ditentukan. “Nanti perlu untuk menyusun strategi/Rencana Tindak Lanjut (RTL) disertai linimasa sebagai hasil dari kegiatan pertemuan validasi ini,” pungkasnya.
Sementara itu, Kabid P3KL, Syahid Ramdlan, mengatakan validasi dan sinkronisasi data sangat penting agar ada kesesuaian antara data yang ada di komunitas dan dinas kesehatan kabupaten, Provinsi sampai ke Pusat. “Harapan kita, melalui kegiatan koordinasi ini, tidak ada lagi mengenai data yang dipegang pusat beda, data yang yang dipegang komunitas berbeda sedangkan pasien yang kita tangani sama sehingga data yang terexpose itu data yang valid,” paparnya.
Capaian dan Strategi Terintegrasi
Berdasarkan data yang dipaparkan untuk periode Januari hingga Oktober 2025, PKBI Lombok Timur sebagai SSR telah mencapai sejumlah indikator utama program. Pada semester 1, capaian Temuan Kasus berada di angka 53%, Investigasi Kontak (IK) sebesar 57,67%, dan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) mencapai 79%. Sementara itu, pada semester 2, terjadi penurunan pada Temuan Kasus menjadi 38% dan IK menjadi 47%, namun capaian TPT berhasil melampaui target dengan angka 101%.
Data capaian Dinas Kesehatan menunjukkan secara keseluruhan, capaian SPM program TBC Kabupaten Lombok Timur berada di angka 82,4%, masih di bawah target nasional 100%. Angka ini bisa memberikan kesan bahwa kinerja program berjalan kurang optimal. Angka keberhasilan pengobatan (treatment success rate) di Lombok Timur sangat membanggakan, mencapai 96,22%. Capaian ini melampaui target nasional sebesar 90%. Namun, keberhasilan ini kontras dengan rendahnya angka penemuan kasus. Dari estimasi jumlah penderita TBC di wilayahnya, Kabupaten Lombok Timur baru berhasil menemukan 51,50% di antaranya. Angka ini jauh dari target penemuan kasus sebesar 90%.
Data mengungkapkan sejumlah besar pasien, baik yang terdiagnosis secara klinis maupun yang terkonfirmasi bakteriologis, belum diinvestigasi kontaknya. Kegagalan dalam melakukan investigasi kontak secara sistematis berarti kita kehilangan kesempatan emas untuk menemukan orang-orang yang mungkin sudah tertular.
Di balik angka-angka kinerja, terdapat masalah operasional mendasar yang menghambat upaya diagnosis TBC di tingkat puskesmas. Perjuangan para tenaga kesehatan di lapangan ternyata diperberat oleh kendala logistik dan peralatan yang sangat vital. Pertama, ketersediaan cartridge TCM yang terbatas sehingga menghambat proses pemeriksaan. Kedua, Alat mikroskop tidak berfungsi di beberapa Puskesmas. Kedua masalah ini memiliki dampak yang sangat serius. Tanpa kartrid TCM dan mikroskop yang berfungsi, kemampuan puskesmas untuk mendiagnosis TBC secara cepat dan akurat menjadi lumpuh.
Pertemuan ini menghasilkan beberapa rekomendasi yaitu:
- Data Investigasi Kontak oleh komunitas akan dientry oleh Petugas Puskesmas sesuai data yang masuk ke SITB hasil bridging
- Melakukan pengkinian data stock logistik TBC
- Petugas Puskesmas menindaklanjuti Alert dan Reminder di SITB
- Memastiakn semua data TBC telah dientry di SITB












