Lotim Penyangga KEK, Bupati Masih Berwacana, Masyarakat Sudah Memulai

Lombok Timur – Kabupaten Lombok Timur (Lotim) merupakan salah satu daerah sebagai penyangga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Untuk itu, seharusnya pemerintah daerah harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Baik dari sisi regulasi, Sumber Daya Manusia, Infrastruktur maupun Rencana Induk Pengembangan Kepariwisataan Daerah (Ripparda), sehingga pendapatan sektor baru di sektor pariwisata untuk menunjang KEK Mandalika dapat terwujud.

Hanya saja, sampai saat ini banyak kendala yang dialami oleh Daerah Lombok Timur, sehingga menyebabkan banyak rencana hanya masih dalam angan-angan dan wacana. Contoh konkritnya yaitu dalam pembahasan Ripparda ini, ada kendala yang harus ditunggu berupa RTRW Lotim tentang zonasi. Itu artinya, ketika bersangkutan dengan zonasi tidak berbenturan dengan RTRW. Hal ini disampaikan oleh Peneliti Lombok Research Center (LRC), Maharani, kepada Media ini, Selasa (6/7).

Menurutnya, hadirnya KEK Mandalika dengan event MotoGP akan mendatangkan wisatawan mancanegara. Untuk itu, sudah semestinya Pemda Lotim melalui Dinas Pariwisata melakukan pembenahan terhadap destinasi-destinasi wisata khususnya yang ada di wilayah selatan. Pasalnya, Lotim merupakan salah satu daerah terdekat dengan kawasan KEK Mandalika yang terdapat di Kabupaten Lombok Tengah (Loteng).

Tidak hanya di bidang pariwisata, imbuh Maharani, Lombok Timur sebagai daerah penyumbang untuk kebutuhan logistic juga harus mampu membaca peluang yang ada itu. Seharusnya pemda melalui dinas pertanian membuat terobosan-terobosan yang nyata.

Lombok Timur memiliki potensi sumber daya lahan yang cukup luas. Berdasarkan data yang ada, luas lahan tersebut sangat potensial untuk dijadikan lahan pertanian. Data Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur (2019) dalam data BPS Lombok Timur Dalam Angka 2020 menyebutkan dari total 160.554 hektar lahan di Lombok Timur, terdapat 47 persen atau 75.787 hektar merupakan lahan kering, 47.598 hektar (30%) lahan sawah, dan 37.169 hektar (23%) lahan bukan pertanian.

Peneliti Senior ini menegaskan pemerintah daerah seharusnya tidak hanya menunggu program dari pemerintah. Ia mencontohkan, beberapa kelompok petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Ternak Berkah Jaya mulai bergerak walaupun dengan dana swadaya dan seadanya. Pengembangan tanaman buah dan sayur sudah dilakukan oleh anggota kelompok. Seperti pengembangan Nanas di Lendang Nangka Utara, Pisang di Gunung Malang Pringgabaya, dan Jeruk di Padak Sambelia.

“Walaupun dengan dana dan teknologi seadanya, Kelompok Berkah Jaya sudah mambuktikan dengan semangat dan harapan yantg besar agar Lombok Timur mampu menjadi daerah penyangga seperti yang selalu didengungkan oleh pejabat-pejabat di Lombok Timur,” ungkap Maharani.

Selama ini pembangunan pertanian Lombok Timur terfokus pada peningkatan produksi pangan, terutama Padi dan Jagung, sehingga sebagian besar dana dan daya telah dialokasikan untuk program-program seperti intensifikasi, jaringan irigasi, dan percetakan sawah.

Masalah lainnya yang harus dihadapi di dalam pemanfaatan lahan kering ini adalah keadaan sosial ekonomi petani atau masyarakat yang menggunakan lahan kering sebagai tempat usahanya. Pendapatan keluarga yang rendah serta kemiskinan di banyak tempat berkolerasi positif dengan uasaha tani di lahan kering. Menurut BPS dari 1,2 juta jiwa lebih penduduk Lombok Timur pada tahun 2019 masih terdapat 16,15 persen atau sebesar 193.560 jiwa penduduk dalam kategori miskin.

“Untuk itu, Lombok Research Center mengajak Bapak Bupati serius dalam pengembangan lahan kering ke depannya untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” ucap Maharani dengan nada optimis.

Maharani mengatakan seiring dengan perkembangan sektor pariwisata di daerah ini dan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada umumnya, maka pembangunan pertanian di Lombok Timur juga harus diarahkan kepada pembangunan pertanian yang berorientasi agribisnis, berwawasan lingkungan, dan mampu untuk mendukung upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia yang menjadi program Pemerintah Kabupaten Lombok Timur. “Dan lahan keringlah jawabannya,” pungkasnya. (HH)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *