Anomali Cuaca Terjang Lombok Timur, Petani Tembakau Terancam Gagal Panen dan Rugi Ratusan Juta

LOMBOK TIMUR – Cuaca ekstrem dan tak menentu yang melanda Kabupaten Lombok Timur dalam beberapa hari terakhir membawa mimpi buruk bagi para petani tembakau, khususnya di wilayah Kecamatan Suela. Hujan dengan intensitas tinggi yang terus mengguyur di tengah masa tanam mengakibatkan tanaman tembakau layu, membusuk, dan memicu ancaman gagal panen massal.

Fenomena ini menjadi pukulan telak bagi para petani yang sebelumnya telah mempersiapkan masa tanam dengan mengacu pada perkiraan cuaca. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bulan Mei seharusnya sudah memasuki awal musim kemarau. Namun, realita di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.

“Biasanya bulan Mei sudah mulai kemarau, tapi ini di luar perkiraan karena hujan masih cukup lebat,” ungkap Lalu Nurdin, salah seorang petani tembakau setempat, Selasa (19/5).

Sifat tanaman tembakau yang sangat rentan terhadap kelebihan air membuat hujan deras berturut-turut ini berakibat fatal. Curah hujan yang kelewat batas memicu pembusukan pada area batang dan akar tanaman.

“Beberapa hari ini hujannya cukup deras dan intens, cuaca tak menentu sehingga tanaman tembakau milik saya tiba-tiba layu. Kalau sudah begini, tidak bisa dipanen karena pasti akan mati. Ini saja sudah kering karena akarnya sudah busuk, jadi sudah tidak bisa hidup lagi,” jelas Nurdin sembari menunjukkan tanaman tembakaunya yang rusak parah.

Kondisi ini praktis membuat Nurdin harus menelan pil pahit. Biaya operasional yang tidak sedikit—mulai dari pengadaan bibit, pupuk, obat-obatan, hingga upah buruh tanam—hangus begitu saja. Untuk lahan seluas 35 are miliknya, ia menaksir kerugian materiil menembus angka di atas Rp 10 juta.

Dampak cuaca ekstrem ini rupanya merata dan menghantam banyak petani di kawasan tersebut. Lalu Subli, petani tembakau lainnya, menyebutkan bahwa sekitar 80 persen dari total tanaman tembakaunya tak lagi bisa diselamatkan.

Ia memaparkan bahwa fenomena gagal panen ini tidak hanya terjadi di desanya, melainkan meluas ke desa-desa tetangga dengan estimasi luasan lahan terdampak mencapai puluhan hektar.

“Sama saja, semua petani tembakau merugi. Hujan deras yang tiba-tiba datang membuat tembakau layu dan mati,” tutur Subli.

Lebih lanjut, Subli membeberkan bahwa nilai kerugian yang ia tanggung jauh lebih besar, bahkan mencapai ratusan juta rupiah. Hal ini mengingat skala penanaman yang ia lakukan cukup masif di berbagai titik lokasi.

“Saya menanam tembakau jenis kasturi rajang di beberapa lahan. Kalau dihitung, biaya produksi yang saya keluarkan bisa sampai ratusan juta,” pungkasnya dengan nada getir.

Kini, para petani tembakau di Lombok Timur hanya bisa pasrah sembari berharap ada solusi dan perhatian dari pihak terkait untuk meringankan beban kerugian akibat anomali cuaca yang tak terprediksi ini. (HH)

DPRD Lombok Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *