Lombok Timur – Tim massmedia bersama ibu Helda Farida Eiger dari Jerman dan Anggota LHA Lombok Asmuni berkunjung ke bukit Jeringo Lombok Timur menemui Sareh Erwin dan Lukman Nulhakim yang berhasil mengembangkan Agrowisata dengan menanam buah Naga, Jum’at 19 Desember 2025.
Lima belas tahun yang lalu l, Sareh Erwin dan Lukman Nulhakim memulai menanam buah Naga di lereng puncak jeringo Kecamatan Suela Kabupaten Lombok Timur. Bagi mereka Bisnis Buah Naga merupakan peluang yang bagus untuk meraih untung.
Sejauh mata memandang, terlihat hamparan perbukitan dan pelabuhan laut kayangan dan pulau Sumbawa, cekungan teluk, pulau-pulau kecil membuat Desa Puncak Jeringo ini menjadi primadona wisatawan.
Desa wisata puncak Jeringo adalah sebagai daerah tujuan wisata (DTW), dengan pemandangan alam yang indah.Desa Wisata Puncak Jeringo juga memiliki jalur menuju Bukit Puncak Semaring yang memiliki savana dan pemandangan yang indah serta Air terjun Selir yang menawan.
Melihat potensi desa jeringo yang begitu besar sebagai daerah Agro Wisata, Terpikirlah oleh Sareh Erwin dan kawannya untuk membuat bukit jeringo ini menjadi objek Agrowisata yang Handal.
Kondisi bukit Jeringo terdiri dari batu-batuan cukup besar. Mereka mulai penanaman Pohon Banten atau Pohon Makasar ditanam pada celah tanah bebatuan, mereka mulai dari menggali lubang, menanam kayu Makasar (di lombok disebut kayu Banten), berfungsi sebagai penyanggah Bibit Pohon Naga, pohon tersebut tanam pada lahan seluas 2 Hektar sekitar 1500 Pohon Naga.
Pada Awalnya kata Sareh,” dirinya dianggap gila karena orang lain di sekitar Bukit Jeringo kebanyakan menanam jagung atau padi rau, sedangkan Sareh menanam pohon Makasar atau pohon Banten. Pohon tersebut digunakan sebagai tonggak untuk menanam Bibit Pohon Naga, tonggak dari pohon Makasar ini cepat tumbuh sehingga cocok untuk tonggak pohon naga. “Di beberapa wilayah biasanya tonggak pohon naga memakai beton dan ban bekas, tentu akan memakan biaya cukup besar,” tegasnya.
Seiring berjalannya waktu, mereka merawatnya setiap hari. Setelah 6 bulan baru mulai panen perdana dengan jumlah tidak begitu banyak, mereka mencoba menjual ke pasar-pasar yang di Lombok dan sekarang bahkan sampai ke pulau Bali, menghasilkan 50 sampai 60 ton.
Tanaman hyloreus sp. atau buah naga tidak selalu berbuah sepanjang tahun. Petani buah naga di puncak jeringo lombok Timur, tidak mendapat penghasilan lebih saat bulan-bulan buah naga tidak berbuah.
Sareh menjelaskan, bahwa produksi buah naga mencapai puncak pada saat musim panen yaitu bulan Oktober hingga April. Di luar bulan tersebut, buah naga tidak berbuah atau disebut off-season. Sistem penanaman buah naga konvensional tidak bisa memenuhi permintaan pasar selama off-season.
Lebih lanjut kata Sareh, untuk menghindari gangguan dari hama pada saat musim buah naga. Di sekeliling lahan di pasang Lampu LED Tumbir yang merambat dan berkedip dan Jaring Pelindung setinggi 3 meter agar monyet (kera) dan kelelawar tidak masuk ke ladang,” tutupnya. (Asbar)













