Lombok Barat – Di beranda rumah panggungnya yang sederhana di Dusun Madak Belek, Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, Abd. Aziz terlihat tekun menyulam alat tangkap kepiting, Selasa malam, 19 Mei 2026.
Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan penangkap kepiting bakau ini memanfaatkan waktu malam untuk memperbaiki dan merangkai bubu lipat tradisional berbahan kawat dan jaring hijau-biru. Tumpukan bubu yang sudah jadi terlihat di sampingnya, siap dibawa melaut esok hari.
“Kalau beli terus mahal, mas. Satu bubu bisa 40-50 ribu. Mending bikin sendiri, bisa diperbaiki kalau rusak. Sekali bikin bisa tahan berbulan-bulan,” ujar Aziz sambil tersenyum, menunjukkan hasil rakitannya.
Bagi nelayan di pesisir Sekotong, membuat alat tangkap sendiri bukan hal baru. Keterampilan menyulam bubu diwariskan turun-temurun. Selain menghemat biaya operasional, cara ini memungkinkan nelayan menyesuaikan ukuran dan bentuk bubu dengan kondisi perairan dan target kepiting di sekitar Teluk Sekotong.
Aziz biasanya berangkat melaut dini hari dan menebar puluhan bubu di sekitar hutan bakau. Kepiting hasil tangkapan kemudian dijual ke pengepul di desa atau dibawa ke pasar di Lembar. Hasilnya menjadi penopang utama ekonomi keluarga.
Meski terlihat sederhana, nelayan kepiting seperti Aziz menghadapi tantangan cuaca, harga jual yang fluktuatif, hingga kerusakan alat tangkap. Karena itu, malam hari sering dimanfaatkan untuk “maintenance” peralatan agar siap tempur saat musim kepiting bagus.
Upaya mandiri seperti yang dilakukan Aziz menjadi potret ketangguhan nelayan tradisional Lombok Barat. Di tengah modernisasi alat tangkap, bubu rakitan tangan masih jadi pilihan karena ramah lingkungan dan ekonomis. (*)










