LOMBOK TIMUR – Arus digitalisasi yang kian masif membawa tantangan baru bagi dunia pengasuhan anak. Perkembangan teknologi digital yang pesat sering kali membuat anak usia dini terpapar gawai sejak dini, namun sayang tidak selalu diimbangi dengan pengawasan yang memadai dari lingkungan keluarga. Merespons fenomena dan keresahan tersebut, tim dosen dari Universitas Mataram (UNRAM) turun langsung menggelar program edukasi dan sosialisasi pengabdian kepada masyarakat di TK Ashomadi, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur.
Kegiatan strategis yang dihadiri oleh 60 orang wali murid tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) ini difokuskan secara khusus pada peningkatan literasi digital fungsional keluarga serta strategi komunikasi dialogis antara orang tua dan anak.
Ketua Tim Pengabdi UNRAM, Nurhasanah, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa masyarakat sasaran di wilayah ini mayoritas bekerja di sektor informal, seperti petani, buruh bangunan, dan pedagang kecil. Kesibukan harian tersebut kerap mendorong orang tua menjadikan gawai sebagai “solusi instan” atau pengasuh digital (digital babysitter) saat mereka sedang lelah bekerja, tanpa menyadari dampak jangka panjangnya terhadap perkembangan bahasa, sosial-emosional, dan konsentrasi anak.
“Kami sangat menyadari bahwa melarang penggunaan gawai secara total pada masa kini bukanlah solusi yang realistis dan justru bisa memicu konflik dengan anak. Oleh karena itu, kami mengedukasi orang tua agar memiliki pemahaman untuk membatasi waktu layar (screen time) yang sehat, yakni maksimal satu jam per hari,” jelas Nurhasanah.
Selain pembatasan waktu, para orang tua juga dibekali pengetahuan mendasar untuk mengenalkan fitur aman bagi anak pada perangkat gawai mereka, seperti pemanfaatan mode anak (kids mode) dan YouTube Kids, guna menyaring konten yang tidak pantas ditonton oleh anak usia dini.
Integrasi Nilai Kearifan Lokal Sasak
Keunikan dan daya tarik utama dari program pengabdian UNRAM ini adalah sentuhan pendekatan kultural yang kental di dalam materi sosialisasinya. Tim pengabdi yang juga beranggotakan para akademisi pendidikan yakni Muslihatun Maulidian, M.Ed., Dr. Abdul Kadir Jaelani, M.Pd., , Muhamad Rozi Irman Ziadi, M.Ed., dan Azizah Nurul Fadlilah, M.Pd. secara inovatif memadukan nilai-nilai kearifan lokal budaya Sasak ke dalam modul panduan pengasuhan (parenting).
Nilai-nilai luhur masyarakat Sasak seperti ajinin (saling menghormati dan menghargai) serta tindih, maliq, dan merang (kesantunan, pengendalian diri, serta menjaga kehormatan diri) diangkat sebagai pilar utama. Tujuannya adalah agar orang tua dapat berkomunikasi secara lebih empatik dan tidak lagi mengandalkan bentakan atau perintah satu arah.
Melalui forum diskusi yang dikemas hangat dan interaktif, para orang tua diajak untuk merefleksikan kembali gaya komunikasi yang selama ini mereka terapkan. Mereka saling berbagi pengalaman dan mendiskusikan cara bernegosiasi dengan santun namun tegas, terutama ketika anak mulai merajuk karena durasi bermain gawainya telah habis.
Pembagian Buku Saku dan Keberlanjutan Program
Untuk menunjang pemahaman dan mempermudah penerapan oleh wali murid saat berada di rumah, tim UNRAM turut membagikan buku panduan saku pengasuhan digital. Buku ini dikemas secara praktis, berbahasa sederhana, dan kaya akan ilustrasi bergambar sehingga sangat mudah dipahami.
Antusiasme peserta terhadap program ini terlihat sangat tinggi, terbukti dari rata-rata tingkat kehadiran yang mencapai 88,7% dari total undangan. Di penghujung kegiatan, para pendidik dan dosen mencatat adanya peningkatan kesadaran yang signifikan pada orang tua mengenai bahaya gawai bagi perkembangan kognitif otak anak usia dini.
Inisiatif dari akademisi UNRAM ini mendapat apresiasi penuh dari pihak sekolah. Kepala Sekolah TK Ashomadi menyambut sangat baik langkah edukatif ini dan berkomitmen kuat untuk menjaga kesinambungannya. Melalui sinergi erat antara perguruan tinggi, pihak sekolah, dan tumbuhnya kesadaran di tengah masyarakat ini, anak-anak usia dini di Lombok Timur diharapkan dapat tumbuh kembang secara sehat, cerdas secara emosional, dan senantiasa terhindar dari dampak negatif era disrupsi digital. (*)













