Oleh. Muhammad Aulia, Sekjen PW KAMMI NTB
Perpecahan yang terjadi di tubuh KAMMI seharusnya tidak hanya dipandang sebagai konflik organisasi. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk kembali menafsirkan ideologi gerakan secara utuh. Sebab, organisasi yang besar bukanlah organisasi yang bebas dari konflik, melainkan organisasi yang mampu menjadikan konflik sebagai ruang refleksi dan pembaruan.
Sudah saatnya kita berhenti bermain “kucing-kucingan” dalam memaknai identitas gerakan. Kredo KAMMI pada butir pertama telah menegaskan: “Kami adalah orang-orang yang berpikir merdeka, tidak ada satu orang pun yang memaksa kami bertindak. Kami bertindak atas dasar pemahaman, bukan taklid.” Kalimat ini bukan sekadar slogan yang dihafalkan dalam forum-forum kaderisasi, tetapi harus menjadi prinsip yang hidup dalam setiap sikap dan keputusan organisasi.
Berpikir merdeka berarti berani menyampaikan pandangan berdasarkan argumentasi dan nilai yang diyakini, tanpa terjebak dalam fanatisme kelompok maupun kepentingan sesaat. Ketaatan kepada organisasi tidak boleh menghilangkan daya kritis, sebagaimana sikap kritis juga tidak boleh menghilangkan adab dan komitmen terhadap mekanisme organisasi.
Semangat baru KAMMI juga semestinya mengantarkan gerakan ini menjadi lebih mandiri. KAMMI harus mampu berdiri di atas nilai dan cita-citanya sendiri, tanpa dibayangi oleh kepentingan atau intervensi pihak mana pun. Independensi bukan hanya menjadi jargon, melainkan harus tercermin dalam sikap politik organisasi, keberpihakan kepada masyarakat, dan keberanian menyuarakan kebenaran.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan KAMMI bukan hanya siapa yang memimpin organisasi, tetapi sejauh mana nilai-nilai independensi, keberanian berpikir, dan keberpihakan kepada umat benar-benar diwujudkan dalam ucapan maupun tindakan. Jika momentum ini mampu melahirkan refleksi yang jujur dan pembaruan yang nyata, maka konflik hari ini dapat menjadi titik awal bagi lahirnya KAMMI yang lebih dewasa, lebih mandiri, dan lebih setia pada ideologi gerakannya.












