Pengrajin Gerabah Berdaya: Mengembangkan Kerajinan Gerabah Menjadi Produk Wisata di Desa Masbagik Timur

LOMBOK TIMUR – Dosen Program Studi Sosiologi Universitas Mataram, Azhari Evendi, S.Sos., M.A. bersama mahasiswa nya Alfani, Dannis, dan Dicky serta Kolaborasi & Sinergi dengan Agus Khairi, M.Pd. selaku Pegiat Pariwisata Masbagik Timur melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Pengrajin Gerabah Berdaya: Mengembangkan Kerajinan Gerabah Menjadi Produk Wisata di Desa Masbagik Timur”, Minggu, 20 September 2026, mulai pukul 09.00 WITA hingga selesai. Kegiatan yang berlangsung di Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) Jami’atul Quro’, Gubuk Luah, Desa Masbagik Timur, tersebut menjadi ruang dialog antara akademisi, pengrajin, pegiat pariwisata, dan pelaku industri pariwisata dalam merumuskan strategi pengembangan gerabah sebagai produk unggulan wisata berbasis potensi lokal. 

Kegiatan ini dilaksanakan dengan melihat gerabah bukan semata-mata sebagai produk kerajinan rumah tangga, tetapi sebagai bagian dari warisan budaya, identitas sosial masyarakat Sasak, sekaligus sumber daya ekonomi yang berpotensi dikembangkan menjadi daya tarik pariwisata. Pengembangan tersebut menjadi semakin relevan di tengah perubahan orientasi pariwisata yang tidak lagi hanya bertumpu pada keindahan alam, tetapi juga pada pengalaman, kebudayaan, kreativitas masyarakat, dan keunikan produk lokal. Dalam konteks tersebut, gerabah Masbagik Timur memiliki modal sosial dan budaya yang penting karena proses pembuatannya masih mempertahankan pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun.

Gerabah sebagai Warisan Budaya dan Potensi Ekonomi

Salah satu narasumber, Agus Khairi, pegiat pariwisata di Masbagik Timur, menjelaskan bahwa gerabah memiliki potensi besar untuk dikembangkan, baik dari sisi ekonomi maupun pariwisata.

Menurutnya, gerabah bukan lagi sekadar benda yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, melainkan produk budaya yang memiliki nilai ekonomi dan daya tarik wisata apabila dikembangkan melalui inovasi dan strategi pemasaran yang tepat.

“Gerabah sudah banyak diteliti dan memiliki banyak potensi. Potensi jual belinya juga semakin terbuka. Seiring perkembangan zaman, penggunaan dan bentuk gerabah semakin luas. Karena itu, gerabah ini sangat menjanjikan untuk dikembangkan sebagai produk ekonomi sekaligus produk wisata,” ujar Agus Khairi.

Ia menegaskan bahwa gerabah Masbagik Timur merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Sasak. Keahlian membuat gerabah yang diwariskan antargenerasi bukan hanya menunjukkan keterampilan teknis, tetapi juga membentuk identitas budaya masyarakat setempat. Dalam proses tersebut, perempuan memiliki posisi penting sebagai penjaga sekaligus penerus tradisi. Aktivitas pembuatan gerabah tidak hanya memiliki dimensi ekonomi, tetapi juga mengandung makna sosial karena menjadi bagian dari praktik kehidupan masyarakat Sasak.

“Gerabah merupakan warisan budaya Sasak di Masbagik Timur. Keahlian yang diwariskan secara turun-temurun merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat. Di dalamnya terdapat peran perempuan sebagai penjaga sekaligus penerus tradisi. Gerakan dan proses pembuatannya sarat makna karena merekatkan kehidupan sosial masyarakat Sasak,” jelasnya.

Menurut Agus, karakteristik utama gerabah Masbagik Timur terletak pada keautentikan teknik pembuatannya. Pengetahuan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadikan gerabah memiliki karakter alami sekaligus nilai budaya yang tinggi. Beberapa teknik tradisional yang menjadi ciri proses produksi antara lain penggunaan perbot, tatap batu, pembakaran terbuka, serta pemanfaatan warna-warna alami. Teknik tersebut tidak sekadar menjadi metode produksi, tetapi juga merupakan pengetahuan lokal yang menjadi bagian dari identitas kerajinan masyarakat.

Keautentikan tersebut, menurutnya, justru dapat menjadi modal penting dalam pengembangan wisata berbasis pengalaman. Wisatawan tidak hanya membeli produk jadi, tetapi dapat diperkenalkan kepada proses bagaimana sebuah benda gerabah dibentuk, dikeringkan, dibakar, hingga menjadi produk yang siap digunakan.

Gerabah sebagai Produk Wisata Edukatif

Agus Khairi juga mengidentifikasi sejumlah peluang pengembangan gerabah Masbagik Timur sebagai bagian dari ekosistem pariwisata desa.

Pertama, pengembangan desa wisata edukasi yang memungkinkan wisatawan memperoleh pengalaman langsung dalam proses pembuatan gerabah. Wisatawan dapat melihat sekaligus mencoba tahapan pembuatan gerabah sehingga kunjungan tidak berhenti pada aktivitas melihat dan membeli produk.

Kedua, gerabah sebagai daya tarik wisata lokal maupun mancanegara. Produk gerabah dapat dikembangkan sebagai cenderamata, produk dekoratif, maupun produk fungsional yang memiliki nilai estetika dan identitas lokal.

Ketiga, diperlukan inovasi desain dan penguatan UMKM. Produk gerabah dapat dikembangkan ke dalam berbagai bentuk, seperti vas bunga, asbak, gelas, peralatan rumah tangga, dekorasi interior, dan berbagai produk kreatif lainnya yang menyesuaikan kebutuhan pasar tanpa menghilangkan karakter tradisionalnya. Namun, Agus juga mengingatkan bahwa pengembangan tersebut menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah regenerasi pengrajin muda yang semakin menurun. Selain itu, pengrajin perlu menemukan keseimbangan antara mempertahankan tradisi dan merespons perkembangan desain serta selera pasar modern.

Yang menjadi tantangan adalah bagaimana tradisi ini tetap dipertahankan, tetapi pada saat yang sama produk mampu mengikuti perkembangan zaman. Kita membutuhkan generasi muda yang mau meneruskan keterampilan tersebut, kemudian memperkuat desain, pemasaran, dan daya saing agar gerabah tidak berhenti sebagai warisan, tetapi berkembang menjadi sumber ekonomi baru,” katanya.

“Untuk menjawab tantangan tersebut, Agus menawarkan sejumlah langkah strategis, antara lain pelatihan desain bagi pengrajin muda, kolaborasi dengan desainer dan kreator, penguatan digital marketing, promosi melalui berbagai kanal media, serta ekspansi pasar ke segmen konsumen yang lebih luas.

Namun, Agus juga mengingatkan bahwa pengembangan tersebut menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah regenerasi pengrajin muda yang semakin menurun. Selain itu, pengrajin perlu menemukan keseimbangan antara mempertahankan tradisi dan merespons perkembangan desain serta selera pasar modern.

“Yang menjadi tantangan adalah bagaimana tradisi ini tetap dipertahankan, tetapi pada saat yang sama produk mampu mengikuti perkembangan zaman. Kita membutuhkan generasi muda yang mau meneruskan keterampilan tersebut, kemudian memperkuat desain, pemasaran, dan daya saing agar gerabah tidak berhenti sebagai warisan, tetapi berkembang menjadi sumber ekonomi baru,” katanya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Agus menawarkan sejumlah langkah strategis, antara lain pelatihan desain bagi pengrajin muda, kolaborasi dengan desainer dan kreator, penguatan digital marketing, promosi melalui berbagai kanal media, serta ekspansi pasar ke segmen konsumen yang lebih luas. Dengan demikian, pengembangan gerabah tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah produksi, tetapi juga pada peningkatan nilai tambah, kualitas produk, identitas merek, dan perluasan pasar.

Potensi Lokal sebagai Fondasi Pariwisata Berkelanjutan

Perspektif pengembangan gerabah dari sisi manajemen dan strategi pariwisata disampaikan oleh Azhari Evendi, dosen Sosiologi Universitas Mataram.

Menurut Azhari, pengembangan gerabah sebagai produk wisata harus ditempatkan dalam kerangka pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism). Potensi lokal harus menjadi fondasi utama dalam membangun destinasi karena masyarakat merupakan aktor yang memiliki pengetahuan, sumber daya, dan pengalaman langsung terhadap kebudayaan yang hendak ditawarkan kepada wisatawan.

“Potensi lokal adalah kunci. Pariwisata pedesaan sangat bergantung pada sumber daya lokal yang dimanfaatkan sebagai faktor utama dalam menggerakkan usaha pariwisata. Desa yang berhasil menggerakkan usaha pariwisatanya memiliki dasar yang kuat untuk menerapkan pariwisata berkelanjutan,” ujar Azhari.

Ia menjelaskan bahwa pengembangan pariwisata berbasis masyarakat tidak cukup hanya dengan menghadirkan objek wisata. Sistem kepariwisataan harus mampu menciptakan rantai ekonomi lokal yang memberikan manfaat kepada masyarakat.

“Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat akan berjalan dengan baik apabila sistem kepariwisataan yang dibangun mampu menghidupkan perekonomian masyarakat lokal. UMKM, sumber daya lokal, dan peran perempuan merupakan bagian penting dalam mengukur sejauh mana masyarakat memperoleh manfaat dari pengembangan pariwisata desa,” jelasnya.

Dalam konteks tersebut, Azhari mengajak masyarakat Masbagik Timur untuk melihat gerabah sebagai sebuah ekosistem pariwisata, bukan sekadar produk yang diperjualbelikan. 

Belajar dari Pengembangan Pariwisata Sade

Dalam paparannya, Azhari juga mengangkat pengalaman Desa Sade sebagai salah satu pembelajaran mengenai bagaimana kekhasan budaya lokal dapat berkembang menjadi daya tarik pariwisata.

Menurutnya, pengembangan Sade mulai mendapatkan perhatian wisatawan asing pada dekade 1970-an. Salah satu cerita yang berkembang adalah ketika seorang pemandu lokal membawa wisatawan asal Jerman untuk pertama kalinya berkunjung ke Sade. Kekuatan utama Sade terletak pada kekhasan budaya yang dipertahankan, seperti rumah tradisional, hasil tenun, serta pola kehidupan masyarakat. Kekhasan tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Sasak, tetapi kemudian memiliki nilai wisata ketika dikelola dan diperkenalkan secara tepat. 

“Yang penting dari Sade adalah bagaimana masyarakat mempertahankan kekhasannya. Rumah tradisional, tenun, dan cara hidup masyarakat menjadi bagian dari daya tarik. Pengelolaannya pada awalnya dilakukan secara swakelola, sederhana, dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia,” ungkap Azhari.

Perkembangan Sade kemudian menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan aktivitas pariwisata dapat berjalan beriringan apabila masyarakat ditempatkan sebagai aktor utama. Menurut Azhari, pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi Masbagik Timur untuk mengembangkan gerabah dengan karakter dan sumber daya yang dimiliki sendiri.

Membangun Wisata Gerabah Masbagik Timur

Azhari menegaskan bahwa langkah pertama yang diperlukan adalah membangun komitmen kolektif untuk menjadikan Masbagik Timur sebagai destinasi wisata kerajinan gerabah yang kuat di Lombok Timur. Komitmen tersebut harus diterjemahkan ke dalam sistem pengelolaan yang jelas. Wisatawan harus memperoleh pengalaman yang terintegrasi sejak datang hingga meninggalkan destinasi.

“Yang kita perlukan adalah komitmen untuk menjadi destinasi wisata kerajinan gerabah terbaik di Lombok Timur. Tetapi komitmen saja tidak cukup. Kita harus memiliki manajemen atau pengelolaan wisata yang baik, mulai dari wisatawan masuk sampai mereka meninggalkan destinasi,” tutur Azhari.

Menurutnya, produk gerabah harus menjadi atraksi utama, sementara sektor pendukung seperti kuliner, homestay, hospitality, kebersihan, transportasi, dan pelayanan wisata perlu dikembangkan secara simultan. Selain itu, diperlukan jaringan antar destinasi agar wisata gerabah tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari paket perjalanan wisata Lombok Timur.

“Gerabah merupakan warisan budaya yang tidak ternilai. Karena itu, perlu dibentuk manajemen pariwisata yang berfokus pada gerabah sebagai daya tarik utama. Kelompok Pengrajin Gerabah Berkelanjutan dapat menjadi salah satu bentuk kelembagaan untuk memastikan pengembangan tersebut berjalan secara konsisten,” jelasnya.

Dalam konsep tersebut, pengrajin ditempatkan sebagai aktor utama. Gerabah dikembangkan menjadi produk unggulan pariwisata, sementara daya tarik pendukung dibangun untuk memperpanjang pengalaman wisatawan dan meningkatkan lama tinggal serta belanja wisatawan di desa.

Azhari juga menekankan pentingnya pelayanan wisata yang berkualitas.

“Wisata tidak hanya tentang apa yang kita jual, tetapi bagaimana wisatawan mendapatkan pengalaman. Masyarakat perlu menjaga kebersihan, memberikan pelayanan yang baik, mudah tersenyum, ramah, dan mampu menciptakan suasana yang membuat wisatawan ingin kembali,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan wisata gerabah diharapkan tidak berhenti pada promosi produk, tetapi membangun ekosistem ekonomi lokal yang melibatkan pengrajin, UMKM, perempuan, pemuda, pelaku kuliner, homestay, pemandu wisata, hingga pelaku ekonomi kreatif.

Wisatawan Harus Mendapatkan Pengalaman

Perspektif lain disampaikan Edi, seorang tour guide dari Treng Wilis. Ia menekankan pentingnya merancang aktivitas wisata yang memungkinkan wisatawan memperoleh pengalaman secara langsung.

Menurut Edi, wisatawan tidak seharusnya hanya datang, melihat, kemudian meninggalkan lokasi. Setiap destinasi perlu menyediakan rangkaian aktivitas yang dapat membuat wisatawan terlibat.

Ia mencontohkan bahwa wisatawan perlu mengetahui secara langsung di mana proses pembuatan gerabah dilakukan, bagaimana proses pembakaran berlangsung, bagaimana teknik pembentukannya, serta bagaimana produk tersebut dapat diperoleh atau dibuat sendiri.

“Wisatawan itu jangan hanya datang kemudian melihat. Mereka harus memiliki aktivitas. Misalnya, mereka bisa melihat proses pembuatan gerabah, mengetahui bagaimana proses pembakaran dilakukan, mencoba membuat gerabah, kemudian membeli produk yang mereka hasilkan atau produk dari pengrajin,” ungkap Edi.

Menurutnya, konsep tersebut akan membuat gerabah menjadi lebih dari sekadar barang dagangan. Gerabah dapat menjadi pengalaman wisata yang memiliki nilai edukatif dan emosional.

Ia juga menilai bahwa keterlibatan wisatawan dalam proses pembuatan gerabah dapat memperkuat promosi secara organik. Wisatawan yang memperoleh pengalaman menarik berpotensi membagikan pengalaman tersebut melalui media sosial, sehingga memberikan efek promosi bagi destinasi.

“Intinya, dalam pariwisata harus ada aktivitas yang membuat tamu tidak bosan. Masbagik Timur sudah memiliki sesuatu yang bisa dikerjakan dan dibeli wisatawan, yaitu gerabah. Tinggal bagaimana pengalaman tersebut dikemas menjadi sebuah produk wisata yang menarik,” tambahnya.

Pentingnya pengalaman wisatawan di destinasi wisata kerajinan ini diperkuat dengan pernyataan salah seorang wisatawan dari Spanyol, Juan, yang ikut bersama pemandu wisatanya ke lokasi kegiatan diskusi. Saat ditanya mana yang lebih disuka antara proses dan produk, JUan menjawab bahwa proses sangat penting dengan berbagai alasan.

“Proses lebih disukai wisatawan karena bisa merasakan bagaimana warga lokal menjalankan aktivitasnya atau kegiatannya, termasuk pembuatan kerajinan gerabah,” ungkapnya.

Dari Diskusi Menuju Aksi dan Eksekusi

Sementara itu, H. Abdul Aziz, Ketua Homestay Lombok Timur, memberikan penekanan agar kegiatan pengabdian dan diskusi tidak berhenti pada forum akademik, tetapi diterjemahkan menjadi agenda nyata.

“Kami ingin teman-teman datang ke desa kami bukan hanya untuk berdiskusi, tetapi mari kita lakukan aksi, kita eksekusi, dan kita selesaikan bersama,” tegas H. Abdul Aziz.

Menurutnya, Lombok Timur telah memiliki sejumlah modal penting untuk membangun ekosistem pariwisata, termasuk keberadaan paket wisata dan agenda budaya.

Ia menyebutkan bahwa festival gerabah dan festival budaya tahunan Lombok Timur dapat menjadi salah satu instrumen promosi sekaligus ruang konsolidasi bagi pelaku ekonomi kreatif dan pariwisata. 

“Festival budaya Gerabah tahunan sudah masuk dalam kalender. Paket wisata pada dasarnya sudah tersedia. Yang kita butuhkan sekarang adalah bagaimana produk gerabah ini mendapatkan branding yang lebih kuat, termasuk melalui influencer dan promosi digital,” ujarnya.

Ia juga membuka ruang kolaborasi bagi akademisi, pengrajin, pemerintah, pelaku pariwisata, kreator, dan masyarakat untuk melakukan evaluasi terhadap paket wisata yang sudah tersedia.

“Kalau ada usulan mengenai kekurangan paket wisata, mari kita diskusikan bersama. Jangan hanya melihat kekurangan, tetapi kita cari solusinya dan kita kerjakan bersama. Generasi dan pelaku pariwisata kita sudah ada. Tinggal bagaimana kita memperkuat ekosistemnya,” lanjutnya.

Abdul Aziz berpandangan bahwa masa depan Lombok memiliki keterkaitan erat dengan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan sektor pariwisata secara berkelanjutan.

“Lombok akan menjadi besar karena pariwisatanya, tetapi pariwisata yang besar harus dibangun dari masyarakat yang kuat. Karena itu, produk lokal seperti gerabah harus mendapatkan ruang yang lebih besar dalam ekosistem pariwisata,” tegasnya.

Pengabdian sebagai Ruang Kolaborasi Akademik dan Masyarakat

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini menunjukkan bahwa pengembangan potensi lokal membutuhkan pendekatan lintas sektor. Gerabah tidak cukup dipahami hanya dari perspektif kerajinan, tetapi perlu dilihat melalui dimensi sosial, budaya, ekonomi, kewirausahaan, pemasaran, dan pariwisata.

Dari perspektif sosiologi, pengembangan gerabah menjadi produk wisata juga berkaitan dengan bagaimana masyarakat mempertahankan pengetahuan lokal sekaligus melakukan adaptasi terhadap perubahan sosial dan ekonomi.

Tradisi yang diwariskan antargenerasi perlu dijaga, tetapi keberlanjutannya membutuhkan ruang inovasi agar mampu menjawab perubahan kebutuhan pasar. Karena itu, regenerasi pengrajin muda menjadi persoalan strategis yang perlu mendapatkan perhatian.

Model pengembangan yang dapat dibangun antara lain melalui pembentukan kelompok pengrajin berkelanjutan, pelatihan desain dan kewirausahaan, digitalisasi pemasaran, penguatan merek produk, pengembangan paket wisata edukatif, penyelenggaraan festival gerabah, kolaborasi dengan desainer dan kreator, serta integrasi dengan destinasi wisata lain di Lombok Timur.

Selain itu, diperlukan sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, pemerintah daerah, pengrajin, UMKM, kelompok perempuan, generasi muda, pelaku pariwisata, influencer, dan komunitas kreatif. Melalui kolaborasi tersebut, gerabah Masbagik Timur diharapkan tidak hanya mampu bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang menjadi produk unggulan ekonomi kreatif dan daya tarik wisata berbasis masyarakat.

Menjadikan Gerabah sebagai Identitas Wisata Masbagik Timur

Kegiatan Pengabdian ini menegaskan bahwa gerabah Masbagik Timur memiliki tiga dimensi penting yang dapat dikembangkan secara simultan yaitu warisan budaya, kekuatan ekonomi masyarakat, dan daya tarik pariwisata. Keberadaan teknik tradisional seperti perbot, tatap batu, pembakaran terbuka, serta penggunaan warna alami memberikan karakter autentik yang tidak mudah ditemukan pada produk industri massal. Tantangannya adalah bagaimana menjaga autentisitas tersebut sembari melakukan inovasi yang relevan dengan perkembangan pasar dan preferensi wisatawan.

Dengan menempatkan pengrajin sebagai aktor utama, masyarakat sebagai pemilik budaya, dan gerabah sebagai atraksi utama, Masbagik Timur memiliki peluang untuk membangun model wisata yang tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual pengalaman, pengetahuan, cerita, dan nilai budaya. Oleh karena itu, pengembangan “Wisata Gerabah Masbagik Timur” perlu diarahkan sebagai proses jangka panjang yang berbasis masyarakat, berorientasi pada keberlanjutan, serta mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat lokal. 

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat oleh dosen dan mahasiswa Sosiologi Universitas Mataram ini menjadi salah satu langkah awal untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman masyarakat di lapangan. Dari ruang diskusi tersebut, muncul gagasan bahwa gerabah tidak semestinya hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dapat dikembangkan sebagai identitas budaya sekaligus masa depan ekonomi masyarakat Masbagik Timur. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *