Kreativitas Tanpa Batas, Pendidik Sebaya SMPN 5 Selong Lahirkan Media Kampanye Pencegahan Perkawinan Anak yang Inovatif

Lombok Timur – Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) menggelar pertemuan Pendidik Sebaya untuk Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksual (PKRS) di SMP Negeri 5 Selong, Senin (19/5).

Pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas (PKRS) adalah proses pembelajaran yang bertujuan memberikan pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan terkait kebersihan organ reproduksi, perilaku seksual pranikah, kehamilan, serta masalah reproduksi. Tujuan utama PKRS adalah mencegah masalah penyakit menular seksual, membantu anak dan remaja mengenali tubuh mereka, memahami konsekuensi perilaku seksual, dan melindungi diri dari kekerasan seksual.

Pertemuan ini menghadirkan 15 orang Pendidik Sebaya (Peer Educator) yang berasal dari siswa SMP Negeri 5 Selong. Pendidik Sebaya ini berdiskusi untuk merancang dan membuat media edukasi dan sosialisasi PKRS di sekolahnya. Para Pendidik Sebaya ini didampingi oleh Guru Setara yang berasal dari sekolah tersebut.

Field Officer untuk Lombok Timur, Samsul Hadi, menyampaikan kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi capaian PKRS di SMPN 5 Selong. “Ini dalam rangka evaluasi capaian dan tantangan pendidikan sebaya dalam mendukung implementasi PKRS di sekolah,” terangnya melalui keterangan tertulis yang disampaikan ke media ini.

Selain itu, luaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah adanya media sosialisasi yang dibuat oleh Pendidik Sebaya. Media ini ke depan akan digunakan untuk melakukan edukasi dan sosialisasi di lingkungan SMP Negeri 5 Selong. Para Pendidik Sebaya tersebut antusias dalam membuat media edukasi PKRS.

Media Edukasi yang dipilih oleh Pendidik Sebaya tersebut adalah permainan yang tentunya digemari oleh anak-anak seusia mereka. Ada Teka-Teki Silang (TTS) yang berisi pertanyaan tentang PKRS. Ada juga kelompok yang mengadopsi permainan Monopoli sebagai media edukasi. Mereka juga membuat daftar pertanyaan seputar PKRS sebagai bagian dari permainan Monopoli yang mereka buat.

Dampak Program PKRS di SMP Negeri 5 Selong

Di sela kegiatan, media ini mewawancarai salah seorang Guru Setara terkait dampak program PKRS yang masuk sekolahnya. Alfiandi menyampaikan Program PKRS di SMPN 5 Selong sangat berdampak positif bagi sekolah. Di antaranya penurunan angka perkawinan usia anak yang melibatkan siswa di SMP Negeri 5 Selong. Dipaparkan oleh Alfiandi, sebelum 2021, angka perkawinan usia anak di sekolah tersebut sangat tinggi. Terdapat 17 kejadian pada tahun 2019-2020 yang lalu. Namun pada tahun 2024 menurun jadi 1 kejadian saja dan awal tahun 2025 ini tidak ada kejadian. 

 

“Dulu, tahun 2019-2020 hampir 17 orang yang menikah. Di bawahnya itu ada 5 atau 6 orang. Yang paling parah pada tahun 2019 – 2020 itu. Dampak program ini sangat banyak. Untuk perkawinan anak tahun ini tidak ada. Tahun kemarin (2024) hanya 1 kejadian,” terang Guru Setara ini.

Selain itu dampak yang juga dirasakan dari Program PKRS ini adalah perubahan perilaku siswi yang datang bulan saat sekolah. Alfiandi menuturkan kalau dulu ada siswi yang datang bulan biasanya langsung pulang karena mau. Tapi sekarang dengan adanya Program PKRS yang sudah diterapkan, siswi yang menstruasi saat di sekolah langsung menuju ke ruang BK untuk meminta pembalut yang sudah disediakan di sana. Sehingga siswi yang bersangkutan tidak perlu pulang dan bisa melanjutkan kegiatan belajar di sekolah.

“Ketika mereka datang bulan, mereka disediakan pembalut di sekolah. Mereka sekarang bisa terbuka, kalau dulu mereka langsung pulang. Kalau sekarang tidak, mereka ke ruang BK (ganti pembalut)  dan setelah itu balik lagi ke kelas,” tutur Alfiandi.

Dampak lain yang dirasakan oleh pihak sekolah adalah adanya perubahan pola pikir terkait dengan kesetaraan gender di antara siswa. “Ada perubahan pola pikir, yang semula mereka malu-malu mengerjakan sesuatu yang bukan tugas mereka seperti menyapu. Ternyata mereka sudah bisa saling memahami diri, artinya betul-betul kesetaraan gender itu diterapkan,” ungkap Alfiandi.

Mengenai Pendidik Sebaya atau Peer Educator (PE), Alfiandi menerangkan bahwa keberadaan mereka sangat penting. Karena dengan bahasa mereka sendiri mereka lebih efektif menjangkau teman sebayanya untuk memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi. Dan juga,menurut Alfiandi, siswa-siswi akan lebih terbuka dengan permasalahannya kepada Pendidik Sebaya karena seumuran.

“Mereka aktif untuk yang PE (baca: peer educator). Penting sekali peran mereka untuk memberikan informasi-informasi tentang kesehatan reproduksi kepada teman sebayanya. Dengan menggunakan bahasa mereka akan lebih cenderung siswa yang lain akan tertarik atau lebih terbuka dengan permasalahan mereka (siswa),” tambah Alfiandi.     

Untuk tindak lanjut program ke depan, pihak sekolah rencana akan menerapkan PKRS ini pada mata pelajaran Bimbingan Konseling atau Muatan Lokal (Mulok). Karena sekolah memandang PKRS ini relevan dengan model Kurikulum yang berlaku sekarang yaitu lebih menekankan metode bermain dalam proses pembelajarannya. 

“Model Pembelajaran yang dilakukan di PKRS itu merupakan metode pembelajaran yang luar biasa. Metode yang dipakai cocok dengan kurikulum yang berlaku sekarang. Kami tidak hanya berhenti sampai di sini. Kami berupaya agar sekolah memberikan ruang untuk pelajaran PKRS. Mudah-mudahan bisa di Mata Pelajaran BK atau Mulok,” pungkas Alfiandi. (*)

DPRD Lombok Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *