Mataram – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT-RI) melaksanakan program Sekolah Damai. Kali ini, Sekolah Damai dilaksanakan di Kota Mataram Nusa Tenggara Barat, Rabu (09/10). Ini merupakan lokasi penyelenggaraan Sekolah Damai yang ke-7 dari 19 Sekolah Damai yang tersebar di seluruh Indonesia.
Bertempat di SMAN 5 Mataram, acara kali ini diikuti oleh 100 guru Sekolah Menengah Atas atau sederajat yang tersebar di Kota Mataram. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB, Dr. Aidy Furqan, S.Pd., M.Pd menyampaikan Sambutan dan Pembukaan Sekolah Damai kali ini dengan fokus utama hari pertama yaitu pelatihan guru mengenai pencegahan Intoleransi, bullying dan kekerasan di satuan pendidikan. Aidy menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi sekolah non-muslim yang penuh nilai toleransi.
“Saya pernah mendatangi sekolah non muslim dan ketika tiba waktu sholat, mereka malah mengingatkan saya. Anak-anak kita sepertinya tidak pernah mengalaminya. Sehingga, saya memiliki program spiritual effect di mana seluruh anak dari berbagai agama dikumpulkan menjadi satu dalam kemah agama dan ketika waktu beribadah mereka beribadah sesuai agama mereka masing-masing. Ini merupakan upaya untuk membangun kesadaran sosial anak-anak dan belajar bersosialisasi dengan agama lain,” tuturnya.
Kemudian pada akhir pidatonya, Aidy menyampaikan harapan-harapannya. Termasuk terkait dengan tindak kekerasan pada satuan pendidikan.
“Kekerasan itu Bapak Ibu pahami merupakan suatu aktivitas yang bahkan sampai kepada masyarakat. Sehingga secara psikologis, kita tidak hanya paham dengan intoleransi, bullying dan kekerasan. Tetapi, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme memiliki peran penting untuk memberikan pemahaman untuk kita. Oleh sebab itu kita mesti paham dulu dan tidak menjadi bagian dari intoleran itu. Saya berharap, dengan adanya agenda ini. Kita mengerti istilah-istilah tersebut dan akan dikuatkan oleh Bapak Direktur,” tambahnya.
Dalam acara tersebut, hadir pula Direktur Pencegahan BNPT Prof. Irfan Idris, M.A. yang dalam pidatonya menyampaikan bahwa NTB menjadi provinsi ketujuh untuk pelaksanaan program Sekolah Damai. “Sekolah Damai kali ini sudah sampai pada provinsi ketujuh. Yang pertama provinsi Sulawesi Tengah. Kemudian ke pulau Jawa dan kemudian keluar pulau yaitu di Mataram,” jelasnya.
Dalam kesempatan ini beliau juga menyampaikan tentang pentingnya memahami perbedaan di tengah keberagaman dan memberikan pemahaman bagi siswa tentang paham radikal.
“Perbedaan itu adalah sunnatullah. Mengapa harus kita harus hidup berbangsa-bangsa, bersuku-suku dan mengapa tidak diciptakan agama yang satu saja? Lalu mengapa ada laki-laki dan perempuan? Tugas kita bukan untuk menghakimi namun melakukan pembinaan. Oleh sebab itu, baik untuk kita menyampaikan pada siswa siswi kita untuk sering membaca dan ketika membaca di sosial media harus dengan tuntas agar tidak terpapar paham-paham radikal,” tegasnya.
Sebagai Penutup, Prof. Irfan berharap kepada semua peserta untuk bersama-sama melakukan pencegahan atas paham-paham radikal dan terorisme. (Mel)













