Beda bendera bukan alasan untuk terpecah, mahasiswa harus kembali membaca momentum, bergerak berbasis data, dan mengawal kepentingan rakyat.
MATARAM – KAMMI NTB menginisiasi ruang diskusi publik bertema “Pemuda: Membangun NTB & Indonesia Pasca Gerakan Agustus 2026” sebagai momentum untuk merefleksikan kondisi gerakan mahasiswa sekaligus membangun kembali konsolidasi antarelemen mahasiswa di NTB, Sabtu (5/9).
Diskusi ini mempertemukan berbagai organisasi mahasiswa dan pemuda untuk membicarakan persoalan yang sedang dihadapi masyarakat, baik di tingkat daerah maupun nasional. Dari forum tersebut, muncul satu kesadaran bersama bahwa gerakan mahasiswa tidak boleh terus terjebak dalam sekat organisasi.
Ketua Umum HMI Badko Bali-Nusra menegaskan bahwa perbedaan bendera tidak boleh membuat mahasiswa saling berhadapan.
“Kita sebagai mahasiswa tidak boleh menganggap mahasiswa lain sebagai kompetitor walaupun kita beda bendera.”
Ia juga menegaskan kesiapan HMI untuk ikut mengawal RUU Perampasan Aset. Mahasiswa dinilai tidak boleh hanya menunggu janji dari elite politik, tetapi harus memastikan proses pembahasannya benar-benar dikawal.
“Kita akan kawal RUU Perampasan Aset. Jangan sampai mahasiswa termakan janji pimpinan DPR RI yang menjanjikan tanggal 15 Desember akan disahkan. Kita harus kawal, bukan hanya percaya pada janji.”
Sementara itu, Ketua Umum DPD GMNI NTB mengajak mahasiswa untuk tidak melupakan sejarah gerakan. Gerakan hari ini, menurutnya, harus belajar dari perjuangan masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
“Kita harus refleksi terhadap gerakan-gerakan di masa lampau untuk kemudian melihat gerakan kita hari ini. Apa yang kurang, apa yang harus diperbaiki, dan apa yang harus kita lanjutkan.”
Ketua Umum LMND NTB turut menyoroti sejumlah persoalan yang berkembang di NTB maupun nasional, terutama persoalan lapangan pekerjaan bagi anak muda. Menurutnya, isu tersebut harus menjadi perhatian bersama karena menyangkut masa depan generasi muda dan kondisi sosial masyarakat.
Dalam forum tersebut, Pengamat Politik Iskandar, S.Sos., M.A. melihat adanya pelemahan gerakan mahasiswa yang perlu segera ditanggapi. Menurutnya, kampus harus kembali menjadi ruang tumbuhnya gerakan intelektual dan mahasiswa harus membangun gerakan berdasarkan data.
“Kalau mau membuat gerakan, mahasiswa harus punya data. Jangan hanya ramai dalam aksi, tapi tidak punya dasar dan kajian yang kuat.”
Artinya, gerakan mahasiswa tidak cukup hanya bermodal keberanian untuk turun ke jalan. Ada kerja-kerja intelektual yang harus dibangun: membaca persoalan, mengumpulkan data, mengkaji, kemudian menentukan sikap.
Sebagai inisiator diskusi, Ketua PW KAMMI NTB menegaskan bahwa anak muda dan mahasiswa harus mampu membaca setiap momentum yang ada. Momentum tidak boleh berhenti sebagai wacana, tetapi harus dikonsolidasikan menjadi gerakan yang nyata.
” Anak muda dan mahasiswa harus pintar memanfaatkan momentum. Jangan sampai momentum lewat begitu saja. Kita harus mampu membaca keadaan dan mengonsolidasikan gerakan.”
Bagi KAMMI NTB, forum ini bukan sekadar ruang untuk berdiskusi dan bertukar pandangan. Lebih dari itu, KAMMI NTB ingin membuka ruang pertemuan bagi berbagai elemen mahasiswa untuk membangun kembali komunikasi, konsolidasi, dan kerja-kerja bersama.
Cipayung NTB memiliki tanggung jawab untuk kembali hadir dalam persoalan-persoalan publik. Perbedaan ideologi dan warna organisasi bukan alasan untuk berjalan sendiri-sendiri ketika kepentingan rakyat sedang dipertaruhkan.
KAMMI NTB siap membuka ruang konsolidasi dan Cipayung NTB siap bergerak bersama.
Karena gerakan mahasiswa bukan tentang siapa yang paling besar, siapa yang paling banyak massa, atau siapa yang paling kuat. Gerakan adalah tentang keberanian membaca persoalan, keberpihakan kepada rakyat, dan konsistensi mengawal setiap tuntutan sampai tuntas.
Beda Bendera, Bukan Berarti Beda Perjuangan. (*)












