Fokus Penanganan Sampah, Kepala Desa Dasan Lekong Dijuluki “Kades Sampah”

massmedia.id, Lombok Timur – Penggunaan barang-barang sekali pakai saat ini seolah sudah tidak bisa terlepas dari kehidupan masyarakat. Kantong plastik bekas belanjaan, sendok makan plastik dari nasi kotak, sikat gigi plastik, dan styrofoam adalah contoh kecil penggunaan barang-barang bahan baku dari plastik dalam kehidupan sehari-hari. Barang-barang plastik pada akhirnya akan menjadi sampah tidak terurai yang menggunung dan mengancam kondisi lingkungan

Adalah Kepala Desa (Kades) Dasan Lekong, Lalu Rajabul Akbar, yang menaruh perhatian terhadap gerakan sosial lingkungan hidup bebas sampah atau zero waste di desanya. Dengan kegiatannya tersebut bahkan sering juga ia dipanggil “Kades Sampah. Julukan itu melekat karena di mana pun pertemuan selalu bicara tentang sampah dan kebersihan lingkungan. Dalam mimpinya, Lombok ke depan harus bebas sampah.

Ketika ditemui wartawan media ini di rumahnya, Senin (16/3), Laki-laki yang akrab dipanggil Mamiq Akbar ini sedang membuat kerajinan dari barang bekas styrofoam. Menurutnya barang bekas styrofoam adalah salah satu sampah yang tidak terurai dan banyak dijumpai di pelosok-pelosok. Melihat keadaan ini Kades Dasan Lekong menggagas dan turun langsung membuat Pot bunga dengan memberikan contoh membuatnya sendiri dari bahan styrofoam, semen, pasir dan cat. Kepala Desa yang berjiwa seniman ini mengatakan dalam waktu dekat akan mengadakan pameran kreasi limbah styrofoam, dengan harapan agar desa Dasan Lekong menjadi desa percontohan desa zero waste di Lombok Timur maupun di Nusa Tenggara Barat.

Saat ini menurut Kades yang mantan wartawan ini, hampir 85 persen sampah masyarakat sudah tidak menumpuk di jalan-jalan lagi. Mereka mengumpulkannya di bank sampah di desanya yaitu Bank Sampah INGES, (Indah, Nyaman, Gemuk, Sejahtera). Selanjutnya menurut Kades yang berjiwa seniman ini, Desa Dasan Lekong membuat gerakan Posyandu Keluarga, suatu gerakan masyarakat  dari bayi, remaja dan lansia, yang mana mereka mengumpulkan sampah, menimbang balita, juga memberikan konseling kepada remaja tentang pernikahan dini dan narkoba, juga pengobatan untuk lansia. 

“Ada 11 Posyandu dan ada 3 Posyandu Keluarga yang terintegrasi dengan Bank Sampah INGES”, pungkasnya. Ia menambahkan bahwa Gerakan Posyandu Keluarga dilaunching oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemerintahan Desa Kependudukan dan Catatan Sipil Provinsi NTB pada tahun 2019 yang lalu.

Kepala Desa yang sering diundang menjadi Narasumber zero waste ini menjelaskan kegiatan kebersihan Desa Dasan lekong telah mendapat bantuan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dari Kementerian PUPR senilai 500 juta. IPAL dibangun di 1 tempat yg dimanfaatkan oleh 2 kekadusan atau wilayah, yaitu di Gubuk Bongkot dan Gubuk Keken. Sebanyak 100 rumah yang mengalami kesulitan air bersih akhirnya saat ini bisa menikmati manfaatnya. Dan dua orang dari Kelompok Penerima Manfaat diundang oleh Kementerian PUPR  ke Jakarta, nantinya diharapkan menjadi percontohan tingkat Nasional.

Menurut informasi yang disampaikan oleh Mamq Rajab, dalam waktu dekat akan diadakan hearing dengan DPRD Lombok Timur dengan peserta dari Asosiasi Bank Sampah Lombok Timur yg diinisiasi oleh kades Dasan Lekong sendiri. Hearing ini akan membahas tentang sampah agar DPRD Lombok Timur dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur mengalokasikan anggaran untuk sosialisasi zero waste agar sampai kepada masyarakat secara cepat dan tepat karena dianggapnya saat ini hanya sebagai seremonial saja. (Asbar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *