MATARAM – Pemilihan Putri Anak dan Remaja NTB tidak hanya menjadi panggung unjuk bakat dan kecantikan, tetapi juga ruang bagi remaja untuk mengasah kepercayaan diri dan membawa misi sosial, sebagai sosok inspiratif bagi para Remaja Indonesia.
Ajang ini rutin diadakan setiap tahun sebagai wadah bagi generasi muda NTB untuk berkembang, berkarya, dan memberi dampak positif bagi daerah. Dukungan masyarakat melalui voting (VOTE) menjadi energi besar bagi para finalis dalam setiap langkah perjalanan mereka.
Aliefya Thalita Rahma (17) Salah satu perwakilan dari Kabupaten Lombok Timur pada ajang Putri Anak dan Remaja Indonesia NTB, menceritakan pengalamannya kepada massmedia, usai mengikuti ajang bergengsi pemilihan Putri Anak dan Remaja NTB, di Gedung Theater Taman Budaya Provinsi NTB Mataram, Senin (11/05/2026).
Disebutkan oleh Fia, total 32 peserta terbaik yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota di NTB. Adapun jumlah tersebut terdiri dari 20 peserta Puteri Remaja NTB dan 12 peserta Puteri Anak NTB. Seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari audisi, pembekalan, karantina, hingga malam grand final yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan public speaking, attitude, leadership, serta pengenalan budaya daerah.
Fia panggilan sehari-hari adalah Putri Sulung dari Surya Andika dan Sumaini lahir di Sumbawa 15 April 2009, Siswi SMKN 1 Sikur Lotim kelas XI Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fia aktif di OSIS Sebagai Ketua, aktif juga sebagai Host Podcast, pernah Juara dua lomba poster diadakan IP NWDI Pancor, Fia juga pernah magang sebagai penyiar radio RHN FM dan tercatat ikut Paskibra di Kecamatan Sikur Lotim.
Menurut Alifia, yang paling menegangkan dirasakan yaitu pada saat menyampaikan pendapat, Ia merasa sangat gugup. Fia mengakui kekurangan persiapan dirinya, perjalanan mengikuti ajang bergengsi ini tidak mudah. Saat Proses karantina menjadi pengalaman yang berkesan sekaligus menantang.
“Bertemu teman-teman dari berbagai Kabupaten, ada dari Lombok Barat, Lombok Tengah. KLU, Sumbawa, KSB dan Kota Bima, Bahasa dan kebiasaan mereka berbeda-beda, itu yang bikin relasi kami jadi luas dan seru,” ungkap Fia antusias.
Hal yang membanggakan adalah ketika kita saling bertukar cerita mengenai pengalaman di sekolah ataupun di luar sekolah (advokasinya), kegiatan dan pemateri yang diberikan kepada kami juga sangat bermanfaat sebagai bekal kami kedepan. Belajar disiplin, jadwal yang padat dan kegiatan full seharian, bangun subuh untuk makeup, persiapan materi, penampilan talent, deep interview, dan belajar koreo. Tak hanya perbedaan latar belakang peserta yang menarik, tantangan personal pun muncul. Fia menyebutkan bahwa persaingan ketat dari mereka para peserta yang sudah berpengalaman di bidang modeling,” sebutnya.
Fia mengakui dirinya belum pernah masuk ke dunia modeling, belajar modeling pun secara mendadak di sekolah, dibimbing oleh guru-guru, dari mulai catwalk, video profil dan busana, jadi awalnya cukup berat. Tapi ini justru jadi pelajaran berharga yang luar biasa buat Fia,” tambahnya.
Perjalanan dari 32 orang peserta menuju Top 12 besar diwarnai dengan ujian kepercayaan diri dan kemampuan tampil di depan publik. Fia baru menyadari modalnya percaya diri saja tidak cukup, Fia nikmati saja setiap tahapnya. “Dorongan dan support dari orang tua, do’a dan dukungan menjadi bagian penting dari perjalanan ini. Begitu pun support dari sekolah, biaya pendaftaran, perlengkapan dan juga uang saku,” tutupnya.(Asbar)













