Tumbuh Dewasa Di Bumi Yang Tua

Beberapa tahun yang lalu, di bawah sebuah pohon yang rindang yang terletak tak jauh dari tempat tinggalnya seorang gadis kecil dengan rambut sebahu terlihat sedang asyik bermain dengan seorang anak laki-laki. Laki-laki yang sejengkal lebih tinggi dari gadis itu bernama Farel, lebih tepatnya Farel Dwiarya. Semenjak Farel pindah ke tempat tinggal gadis itu dan menjadi tetangganya, disitulah pertemanan mereka dimulai. Waktu itu usia mereka baru menginjak lima tahun, keduanya masih terlihat sangat polos dan tanpa terasa sekarang mereka berusia sembilan tahun, mereka telah bersama kurang lebih selama empat tahun. Farel selalu saja berhasil membuat gadis kecil itu menangis, tetapi walaupun begitu Farel selalu menjadi perisai paling depan ketika Kanara di ganggu oleh teman yang lain di sekolahnya. Ketika sudah menangis seperti ini gadis itu akan mengadu kepada Tante Maya seraya berkata “Tanteeee….Farel nakal selalu gangguin Nara”. Maya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Farel dan juga Kanara. Menurutnya kedua anak ini sangat menggemaskan, yang satu usil dan yang satu lagi cengeng. Farel adalah katurunan satu-satunya keluarga Dwiarya, begitu juga dengan Kanara. Hanya saja yang menjadi pembeda diantara mereka yaitu kondisi ekonomi. Farel selalu dikelilingi oleh segalanya, sedangkan Kanara dikelilingi oleh penderitaan. Namun ia belum mengerti akan perbedaan itu, Kanara masih terlalu kecil untuk mengerti segalanya, termasuk tentang kondisi keluarganya. Kanara Ayanika seorang gadis kecil yang terlahir dari keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga.

Tawa mereka kala itu terdengar sangat riang, keduanya terlihat sangat bahagia. Mereka bahkan tak menyadari suara derap langkah kaki yang berjalan kearahnya. Setelah beberapa detik berikutnya kedua anak itu menoleh kebelakang, Maya tersenyum simpul melihat raut wajah mereka yang terlihat sedikit kaget.

“Bunda ngapain kesini” Farel mendongakkan wajahnya ke arah  wajah wanita itu dengan penuh tanya.

“Farel, nak Bunda mau bicara sama Farel” Maya mengelus surai lembut anak laki-laki semata wayangnya itu.

“Bunda mau bicara apa? bicaranya kan bisa nanti Bun.”

“Bunda harus bicara sekarang sayang, dengerin Bunda baik-baik ya nak. Jadi untuk beberapa hari kedepan kita dan ayah akan pergi keluar kota” Jelasnya lembut.

“Yah…Bun aku sama Nara gimana?”

“Farel kamu dengerin aja kata Tante Maya, kan cuma beberapa hari, iyakan Tante?.”

“Iya sayang hanya beberapa hari, Nara baik-baik ya disini. Tungguin Farel kembali ya sayang.” Sejujurnya Maya tidak tega membohongi kedua anak ini, tetapi apa boleh buat ia dan keluarganya harus pindah keluar kota, karena perusahaan suaminya yang terancam bangkrut.

“Nara aku pamit ya, aku janji bakal bawain kamu mainan yang banyak dari sana terus kita bisa main disini lagi” Farel melambaikan tangannya kearah Kanara, sedangkan Maya mencium kening gadis itu.

Setelah kepergian keluarga Dwiarya, Kanara selalu menunggu kedatangan temannya itu. Setiap hari adalah harapan baru baginya. Kanara selalu menatap setiap kendaraan yang lewat di depan rumahnya. Ia selalu berfikir mungkin saja itu Farel, tetapi nyatanya laki-laki itu tak pernah kembali bahkan  sampai Kanara berusia genap delapan belas tahun. Farel tidak menepati janji yang diucapkannya waktu itu. Kanara tidak mengharapkan mainan seperti yang di janjikan Farel, Kanara hanya ingin bertemu, tumbuh secara bersama. Sudah terlalu sering Kanara mencari tahu akun-akun sosial media bernama Farel, tapi itu sebuah usaha yang sia-sia. Toh juga ia tidak akan tahu wajah laki-laki itu seperti apa sekarang ini. Bisa jadi Farel juga melupakan dirinya, kita tidak pernah tahu akan hal itu. Kanara sudah bertekad tidak akan mencari sosok seorang Farel lagi.

Kring….kring…suara lonceng sekolah menggema menandakan jam sekolah telah usai, inilah saat-saat yang di nantikan oleh seluruh siswa kecuali Kanara. Gadis ini terbilang cukup unik, disaat semua teman-temannya merindukan bangunan kokoh penuh cerita yang diberi nama rumah itu, hanya dia yang tidak merindukannya. Jujur Kanara lebih senang berada di sekolah, bukan karena dia senang belajar. Kanara belajar ketika ada ulangan saja, sama seperti murid yang lainnya. Tetapi menurut Kanara, sekolah jauh lebih menenangkan dibandingkan dengan rumahnya yang selalu penuh drama. Itulah alasan Kanara lebih menyukai sekolah. Pasalnya belakangan ini ibunya sering kali mengeluh tentang kondisi ekonomi keluarganya yang jauh dari kata cukup, apalagi harus membayar biaya sekolah Kanara yang terbilang cukup tinggi. Kanara keluar menuju gerbang sekolah, mengulurkan lengan kanannya di seberang jalan dan menghentikan kendaraan umum. Langkahnya yang mulai terlihat berat itu, memasuki sebuah rumah dengan pagar bercat hitam serta bangunan rumah yang berwarna abu-abu. Suasananya mulai berbeda ketika Kanara menginjakkan kakinya di teras depan rumah, dapat terdengar dengan jelas dialog antara dua orang dari dalam rumah itu dengan nada yang tinggi, Kanara jelas mengenal suara itu, ya suara itu milik ibunya. Kanara lantas membuka pintu depan dan segera menuju arah suara itu. Begitu pintu itu terbuka, Kanara disuguhkan oleh pemandangan yang tidak pernh ia lihat sebelumnya. Hanya ada satu pertanyaan yang terlontar dari Sarah untuk anaknya Kanara “kamu mau ikut ibu atau ayah?” Deg.. dada Kanara rasanya sesak, kini ia tahu masalah yang di hadapannya saat ini tak seperti biasanya, masalah kali ini jauh lebih berat. Kanara hanya diam mematung tanpa menjawab pertanyaan Ibunya, bahkan gadis ini tak meneteskan air mata sedikitpun. Mungkin ia sudah muak dengan semua drama ini, terlebih lagi bisa dibilang ibunya ini memiliki sifat yang sedikit egois, suka mengambil keputusan sendiri tanpa memikirkan akibatnya.

“Kamu harus ikut dengan ibu Nara” tutur wanita itu.

“Aku mau sama ayah” 

“Jangan bodoh Nara, hidup kamu tidak akan terjamin kalau kamu tinggal bersama ayahmu. Lihat hidup kita saat ini, kita semua melarat Naraa” teriak Sarah pada anaknya.

Kanara tahu hati ayahnya jelas terluka, saat dirinya diragukan oleh sosok seorang wanita yang telah menemaninya selama delapan belas tahun. Tapi Kanara tetaplah Kanara, anak yang selalu kuat dengan  pendiriannya. Kanara juga sangat dekat dengan ayahnya, bisa dibilang ia lebih dekat dengan ayahnya ketimbang dengan ibunya. 

“Kalau kamu memang tidak ingin ikut dengan ibu, maka jangan salahkan ibu jika kamu menderita nantinya” ucap Sarah, lalu meninggalkan ruangan itu dan mengemasi barang-barang miliknya, sebelum ia pergi seutuhnya dari rumah itu.

“Kamu yakin Nara mau tinggal sama Ayah?” Lelaki ini tak pernah berubah, selalu bertutur bahasa lembut bahkan saat sedang mengalami masalah sekalipun seperti saat ini.

“Kenapa nggak Ayah? Nara yakin rezeki, maut, jodoh, itu semua udah ada yang ngatur, tugas kita sebagai manusia hanya bisa berusaha.”

Hasan memeluk putri semata wayangnya itu dan mengecup pucuk kepala gadis itu. Sedangkan disisi lain, Sarah sudah siap dengan barang bawaannya. Kanara kemudian mengulurkan tangan kanannya kepada ibunya, namun ibunya berlalu begitu saja. Kanara tahu ibunya marah saat ini, karena ia lebih memilih ayahnya. Tapi Kanara mengerti ibunya perlu waktu, toh ia juga bisa mengabari ibunya kapanpun ia mau. Kanara kembali memandang wajah yang lesu itu, kemudian setetes air mata mulai turun tanpa permisi. Hati kecil itu jelas terluka melihat ayahnya diperlakukan seperti ini. Terkadang kita berpikir bahwa dunia ini tak pernah adil, padahal jika ditelaah tak ada satupun manusia yang tidak membutuhkan keadilan, tergantung bagaimana kita menyikapi dan menyuarakannya. 

Selang beberapa minggu setelah perceraian ayah dan ibunya, Kanara mendapati kabar bahwa ibunya akan menikah dan pindah ke kota Bandung bersama suami barunya. Sarah selaku ibunya Kanara memita untuk bertemu dengannya sebelum pindah ke kota baru, tetapi permintaan itu ditolak mentah-mentah oleh Kanara. Lebih baik tidak bertemu dari pada nantinya akan menimbulkan luka baru, luka yang kemarin saja belum mengering sepenuhnya. Kali ini Sarah mengalah, ia tak bisa memaksakan putrinya itu, dengan kehadiran Kanara waktu akad itu saja sudah cukup baginya. 

Kanara membersihkan badannya sebelum membaringkannya di atas kasur, membiarkan raga dan jiwanya beristirahat sejenak dari seluruh penat yang tercipta. Ia tak boleh menjadi lemah, karena sebentar lagi akan ada ujian akhir yang akan menjadi penentu kelulusannya. Kanara harus mempersiapkan segalanya agar ia bisa mendapatkan beasiswa seperti yang ia targetkan, agar tidak membebankan ayahnya. Pagi ini cuacanya sedikit tak bersahabat, gemercik air hujan diiringi dengan desiran angin yang membawa hawa dingin lantas tak menyurutkan  langkah Kanara yang tengah memeluk sebuah tas berbalut plastik sembari bersembunyi dibalik payung besarnya. Netranya yang legam bak burung gagak namun teduh seakan menyimpan dirgantara didalamnya menambah kesan ayu diwajahnya. Hujan deras telah mengguyur kotanya saat ini. Jalanan yang biasanya ramai akan lalu lalang kendaraan kini tampak sepi tak bertuan. Kanara lantas menghela nafas lega setelah memasuki ruang kelasnya. Seperti dugaannya kelaspun tampak sepi, hanya sekitar 20 dari 35 anak yang hadir hari ini. Jam pertama pun dimulai, Kanara memperhatikan guru yang sedang menjelaskan di depan dengan saksama. Tiba-tiba seorang guru Bimbingan Konseling (BK)  datang menjemput Kanara. 

“Ada apa bu, kenapa ibu memanggil saya?” tanya Kanara dengan rasa penasaran.

“Maaf ibu harus menyampaikan kabar buruk ini, baru saja tetanggamu datang ke sini dan mengabarkan bahwa ayahmu di larikan ke rumah sakit. Temui ayahmu Kanara.” tanpa berpamitan Kanara langsung naik ke lantai dua untuk mengambil tasnya dan menelepon tetangganya melalui telepon sekolah. Setelah tahu ayahnya dilarikan ke rumah sakit mana, Kanara langsung menyusuli ayahnya. Namun sayangnya Kanara datang terlambat, ayahnya telah dipanggil sang pencipta. Menurut penjelasan dokter, pak Hasan mengalami serangan jantung, dan untung saja ada tetangganya yang membawa beliau ke rumah sakit. Kanara di dampingi oleh tetangganya untuk membawa jenazah pak Hasan pulang ke kediamannya, dan sore ini akan langsung dimakamkan. Kanara tak ingin menunda lagi, toh juga tak ada yang perlu ditunggu. Setelah pemakaman selesai dilakukan, Kanara hanya diam mematung tak bergeming sedikitpun. Setiap temannya yang datang, memeluk gadis itu dengan erat sebagai tanda penguatan untuk dirinya. Hari-hari pun berlalu, gadis itu kini tengah menjalani ujian akhir seorang diri, tak ada satupun yang menjadi penyemangatnya. Sosok ibu yang ia harapkan juga telah meninggalkannya. Tapi ia punya mimpi dan cita-cita, maka atas dasar itu ia menjadi manusia yang kuat. Takdir tetaplah takdir, tak akan pernah bisa dirubah, tetapi percayalah bahwa Tuhan telah menjanjikan kebahagiaan setelah penderitaan.

Dibawah guyuran hujan seorang gadis tampak berdiri kaku didepan gundukan tanah. Dia bahkan mengabaikan seragam putih abunya serta amplop coklat di tangan kirinya itu basah terguyur air hujan. Diletakkannya buket bunga mawar putih yang dibawanya sedari tadi diatas gundukan tanah didepannya itu. Sepasang netranya yang legam melirik goresan nama yang terukir indah diatas nisan itu dengan pilu. Gadis dengan amplop coklat itu lantas tertawa kecil tatkala mengingat serpihan memori yang kini telah berubah menjadi kelabu. Kedua sudut bibirnya terangkat hingga membentuk senyuman manis bak bulan sabit. Senyum bak bulan sabit itu kian merekah kala mengingat betapa bahagianya dia dimasa lalu. Hingga tiba-tiba bahu ringkih itupun bergetar. Dia menangis. Kanara sedang menangis, sambil berucap “Nara sudah lulus ayah, Nara bahkan dapat beasiswa kedokteran di Malang. Nara bakal berangkat ke Malang ayah, Nara janji nati Nara bakal temuin ayah ketika libur tiba” Kanara beranjak perlahan meninggalkan makam ayahnya.

Gadis itu sedang menunggu jadwal keberangkatannya ke kota Malang di Lombok International Airport, malam ini cuacanya sedikit dingin karena ditemani rintik-rintik sendu. Sejujurnya Kanara merasa sangat berat untuk meninggalkan tempat kelahirannya, tapi ia harus melanjutkan pendidikannya, karena ini adalah bagian dari salah satu mimpi ayahnya. Pak Hasan tak ingin melihat anaknya memiliki nasib yang sama dengannya. Tempat ini  menyimpan banyak kenangan bagi Kanara, tempat inilah yang selalu menjadi saksi bagi Kanara tentang bagaimana ia beranjak dari balita hingga sekarang ini,  tentang pahit manisnya hidup yang ia alami, tentang seorang  ayah yang selalu ceria walau hatinya sedang terluka, tentang kebohongan seorang ibu yang menutupi rasa laparnya demi kekenyangan anaknya dan masih banyak hal yang tak bisa ia ingat secara terperinci, yang jelas tempat ini tahu segalanya tentang Kanara. 

Ini baru pertama kalinya Kanara melihat dunia luar, ternyata Malang itu indah, menyuguhkan segala pesonanya pada malam hari hingga membuat Kanara jatuh hati pada kota ini. Saat ini Kanara sudah berkomunikasi lagi dengan ibunya, bahkan ibunya juga mengucpakan turut berduka sedalam-dalamnya atas kepergian pak Hasan, karena bagaimanapun pak Hasan pernah menjadi bagian dalam hidupnya, dan yang membuat hati Kanara merasa senang ialah ketika ibunya berjanji akan sering-sering mengunjungi dirinya di kota ini. Menyusuri trotoar kota Malang adalah kegiatan Kanara saat ini, gadis itu merasa jenuh hingga mencari udara segar. Di seberang jalan tampak seorang wanita paruh baya keluar dari supermarket dan kesusahan membawa barang belanjaannya, Kanara yang tak tega melihat itu kemudian menghampiri wanita itu.

“Biar saya bantu bu, ini mau dibawa kemana bu?” tanyanya dengan ramah.

“Oh..nggak usah nak, ibu lagi nungguin anak ibu yang jemput” Kanara yang sedang menunduk memegang barang-barang itu langsung mendongakkan kepalanya, Kanara mundur beberapa langkah dan tanpa sengaja menabrak seseorang yang ada di belakangnya. 

“Ini anak ibu sudah datang” Kanara menoleh ke arah belakang mendengar ucapan ibu itu.

“Ini siapa bun?” 

“Bunda nggak tau namanya sayang, yang jelas gadis ini tadi mau nolongin bunda bawa barang-barang ini” jelasnya.

Kanara menatap dalam mata teduh itu, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyum simpul. Gigi gingsul gadis itu mulai terlihat. Sedangkan disisi lain Farel hanya diam mematung dengan wajah datar.

“Farel” hanya satu kata itu yang diucapkannya.

“Maaf apa kita sudah pernah bertemu sebelumnya?”

Kanara menggelengkan kepalanya, kemudian ibu itu tersenyum ramah dan berjalan menuju ke arah mobil bersama anaknya. 

“Kita pernah bertemu di Lombok, Farel” ucapnya dengan lantang. 

Seketika kedua orang itu menoleh, kemudian mendekati gadis itu.

“Kanara…anak bunda, kenapa tidak memberitahu bunda dari tadi. Bunda kan nggak tahu wajah Nara seperti apa” Maya memeluk gadis itu dan mengecup pucuk kepalanya, dan Farel laki-laki itu masih saja diam mematung. 

“Masih cengeng nggak sekarang?”

“Farel” tegur bundanya, wajah tak berdosa itu malah menampakkan giginya cengengesan.

“Ke sini sama siapa nak? Ayah sama ibu gimana kabarnya sekarang, sehat?” 

Kanara meneteskan air matanya, membuat Maya dan Farel kebingungan.

“Kita bicara di sana ya sayang” Maya menunjukkan sebuah kedai yang ada di tepi jalan itu. 

Farel mengulurkan sehelai tisu, membiarkan gadis itu merasa tenang sejenak. Setelah merasa tenang, Kanara menceritakan semuanya ke Maya dan Farel. Tentang perceraian ayah dan ibunya hingga alasan mengapa ia berada di tempat ini. Mendengar cerita itu, Maya menangis dengan pilu ikut merasakan penderitaan yang gadis itu alami selama ini.

“Maaf atas ketidak hadiranku disaat kamu membutuhkan, dan maaf karena tidak menepati janji. Gadis cantik tidak boleh menangis kan, kenapa nangis hm?” Farel mengelus lembut surai gadis itu di dalam dekapannya. 

“Kamu hebat Nara, bisa beranjak dewasa dengan baik dalam keadaan seperti ini” lanjutnya. 

“Menjadi dewasa itu ternyata tidak enak” gumamnya masih dalam pelukan hangat laki-laki itu.

Semenjak pertemuan itu, kini Kanara tak lagi tinggal sendiri di kota ini, pasalnya keluarga Dwiarya meminta gadis itu untuk tinggal bersama di kediamannya. Perlakuan baik terus-menerus diterimanya, seolah menjadi tuan putri di rumah ini. Sosok seorang ayah yang selalu dibutuhkannya kini menjelma kembali dalam diri ayah Farel dengan selau memberi dukungan, bunda yang selalu mencurahkan cintanya, serta seorang kakak yang selalu melindungi adiknya, semuanya terasa begitu lengkap. Walaupun hidupnya saat ini penuh dengan cinta, Kanara tak pernah sekalipun lupa dengan mendiang ayahnya, gadis itu selalu berziarah ke makam ayahnya ketika libur tiba. Bahkan ia juga mengajak Farel ikut bersamanya. Seiring berjalannya waktu, Farel terpikat oleh pesona gadis itu. Farel mengakui kecantikan yang ada pada diri Kanara, beda halnya dengan Kanara, ia malah terlihat biasa saja bahkan tak mengerti dengan apa yang dirasakan Farel saat ini. Padahal Farel telah menjelaskannya melalui mata bahwa tatapan itu tidaklah hampa belaka, dan menjelaskannya melalui jabat tangan bahwa genggaman itu bukanlah tanpa makna. Tapi apalah daya, Kanara yang disuguhkan perlakuan seperti itu malah merasa memiliki seorang kakak. 

Hari ini adalah hari yang spesial bagi Kanara, karena hari ini akan diadakan wisuda bagi para mahasiswa yang telah berhasil menempuh semua persayaratan untuk lulus, tak terkecuali dengan Kanara. Kanara di dampingi oleh empat orang hebat yang telah mendukung dirinya selagi mempuh pendidikan. Sarah meneteskan air mata kebahagiannya melihat putri semata wayangnya itu yang kini telah bergelar seorang dr. Sedangkan Azhari Dwiarya selaku ayhnya Farel, Maya, dan Farel ikut tersenyum girang  merasakan kebahagiaan Kanara.

“Aku akan kembali ke Lombok untuk menemui ayah, ayah harus tahu kalau aku sudah wisuda. Aku juga akan melamar pekerjaan disana” jelasnya pada empat orang itu. 

“Kamu tidak akan pulang sendiri Nara.”

“Aku tahu pasti kak Farel mau anterin aku kan?” semenjak bergabung dengan keluarga Dwiarya, Kanara membiasakan dirinya menyebut nama Farel dengan sebutan kakak.

“Lebih dari itu, aku juga akan tinggal bersamamu.”

“Mana bisa seperti itu?”

“Bisa saja, jika kau mau menikah dengan ku maka itu akan terjadi” Farel menyatakan cintanya di depan semua keluarganya. Sarah, Maya, serta Azhari saling tatap-menatap kemudian tersenyum.

“Terima saja sayang” tutur Maya memandang Kanara.

Selesai menggelar pesta pernikahannya dengan Farel, kedua pasutri itu kemudian berpamitan kepada Azhari, Maya dan juga Sarah. Azhari dan Maya rencanya ingin menetap di kota ini, sesekali akan berkunjung ke Lombok untuk menemui anak dan menantunya itu. Sedangkan Sarah, ia juga akan kembali ke Bandung.

Kanara kembali mengunjungi makam ayahnya untuk kesekian kalinya, melepas rindunya dengan memeluk batu nisan itu, tapi kedatangannya kali ini tak lagi seorang diri. Kini ia ditemani oleh seorang teman lama yang sekaligus menjadi suaminya itu. Kanara mengelus-elus batu nisan itu. Dulu ketika ayahnya masih ada, beliau sering sekali mengelus kepala putrinya itu, kini gantian Kanara yang melakukannya walaupun kondisinya sudah berbeda. Setelah puas menceritakan segalanya kepada ayahnya, Farel dan Kanara beranjak dari makam itu menuju kediaman Farel yang dulu. Keduanya telah sepakat akan tinggal dirumah itu.

Menjadi dewasa di bumi yang tua seperti sekarang ini tidakk semudah yang kita kira, tetapi juga tidak serumit yang kita bayangkan. Ketahuilah bahwa yang menarik dari sebuah perjalanan adalah bukan tentang tempat mana saja yang sudah berhasil kita lalui. Bukan juga tentang apa yang terjadi bisa sesuai dengan keinginan kita. Tapi tentang pengalaman dan proses yang panjang dan bagaimana kita bisa menghargai hal apa yang sudah kita miliki.

 

DPRD Lombok Timur

Respon (5)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *