Nama saya Baharudin. Saya anak biasa seperti yang lainnya, saya lulusan SMP Negeri di daerah Lombok Timur. Di SMP saya tidak terlalu senang karena pergaulannya yang terlalu bebas, ada teman yang suka mabuk, merokok, balap motor dan lain-lainnya. Tapi ada juga teman yang baik, tidak semunya buruk.
Saat libur kelulusan teman-teman mengajak saya untuk jalan-jalan menggunakan motor. Hampir setiap hari saya diajak keluar dan paling sering diajak keluyuran tidak jelas. Di rumah juga sering kena omel oleh orang tua gara-gara sering bergadang. Saya tidur paling cepat jam 12 malam, hampir setiap malam bapak menegur saya tuk tidur lebih cepat. Ibu juga sering menegur dan mengingatkan tuk makan karena seringnya tidak makan teratur. Semua itu karena main gadget dan lebih focus ke gadget itu sendiri dapripada mendengar kata-kata orang tua.
Tak terasa sudah waktunya untuk mendaftar sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Setelah memikirkan kemana saya akan melanjutkan sekolah akhirnya saya membulatkan tekad untuk mendaftar di pondok pesantren. Saya bosan bergaul dengan teman-teman yang tidak jelas tujuannya seperti masa di SMP, dank arena itulah saya ingin mondok.
Saya sangat bersyukur Allah menunjukan hidayahnya kepada saya untuk melanjutkan sekolah ke pondok pesantren. Awalnya saya ragu tapi keinginan untuk merubah diri menjadi yang lebih baik menguatkan tekad saya untuk mondok. Ibu dan bapak sangat senang mendengar keinginan saya melanjutkan sekolah ke pondok posantren, saking senangnya mereka langsung mendaftarkan saya ke Pondok Pesantren Al Badriyah.
Tak berselang lama, setelah pendaftaran saya dikirim ke pondok. Ibu, bapak, kakak dan adik saya semuanya ikut mengantarkan saya. Setelah sampai di pondok pesantren al badriyah, saya sangat senang melihat pondoknya bagus dan pasilitas lengkap. Setelah melihat-lihat pasilitas pondok saya dan keluarga di antar oleh pengurus pondok ke kamar yang akan saya tempati, didalam kamar yang saya tempati ibu dan bapak memberikan pesan yang begitu dalam dan menasehatiku untuk apa-apa yang harus kulakukan di pondok.
Waktupun tak terasa ternyata sudah waktunya untuk keluargaku berpamitan dan pulang. Aku merasa agak sedih karena pertama kali ditinggalkan oleh ibu dan kakakku. Air mata ini tak bisa kubendung lagi, sebagai anak laki-laki akupun tak merasa malu meneteskan air mata walaupun di tempat umum saat orang tuaku berpamitan pulang. Ditempat dimana baru pertama kali saya tempati dan tidak ada seorangpun yang saya kenal. Saya melawan kesedihan itu dengan mengingat tekad saya dan tujuan saya mondok.
Haripun berjalan dngan cepat dan malampun tiba. Selesai sholat berjamaah isya’ terdengar sebuah pengumuman yang berisi semua santri baru untuk berkumpul di aula. Disana semua santri diberi tahu kegiatan tiga hari pertama di pondok yaitu Orientasi Santri Baru (OSABA) dan pendaftaran bahasa arab setelah OSABA selesai. Kebetulan ada program pondok yang mewajibkan semua santri baru harus belajar bahasa arab selama empat bulan penuh. Setelah selesai barulah pelajaran formal dimulai, untungnya aku orang yang cepat bergaul, aku langsung berkenalan dengan santri yang satu ruangan denganku dan malam itu aku langsung tidur dengannya. Keesokan harinya kami dibangunkan pukul 04:00 pagi untuk bersiap-siap sholat subuh berjamaah, memang sudah jadi peraturan pondok. Setelah memunaikan sholat saya langsung mandi dan bersiap-siap untuk OSABA. Begitulah keseharian saya selama tiga hari di pondok.
Setelah OSABA berakhir, saya dan teman-teman melanjutkan dengan belajar bahasa arab yang di anjurkan oleh ustadz kami. Hari-hari pertama saya kurang suka dengan program bahasa arab ini, tapi lama kelamaan saya mulai menyukainya dan senang dengan pelajaran bahasa arab. Sayapun mulai rajin belajar bahasa arab dan sesekali berbicara dengan teman menggunakan bahasa arab. Setiap hari saya juga menghafalkan setiap kosa kata yang diberikan ustadz kepada kami, tiga bulan pun berlalu, sekarang saya sudah punya banyak teman dan saya semakin senang di pondok.
Tak terasa ujuan akhir program bahasa arab akan dilaksanakan satu minggu lagi, saya pun giat untuk belajar, setiap ada waktu luang saya menyempatkan diri untuk belajar agar lulus dalam program ini. Hari ujian pun dilaksanakan pada hari Sabtu, saya menjawab soal dengan seluruh kemampuan saya dan tidak lupa juga berdo’a agar dipermudah dalam menjawab soal-soal, ujianpun telah berakhir.
Acara penutupan untuk program bahasa arab pun dilakukan pada hari Senin. Acara diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, pidato, drama dan lainnya. Namun yang paling saya tunggu adalah pengumuman nilai terbaik, ustadz pun mulai mengumumkan peraih juara satu, dua, dan tiga. Saya sangat berharap bisa mendapatkan juara, peraih juara pertamapun disebutkan dan bukan nama saya yang disebutkan, saya merasa kecewa namun saya masih berharap mendapat juara kedua atau ketiga, juara keduapun disebutkan namun lagi dan lagi bukan nama saya yang di sebut, saya semakin merasa kecewa. Namun saat juara ketiga disebutkan ternyata nama saya yang di sebut, saya sangat terkejut dan senang karena bisa mendapatkan juara karena saat bersekolah di SMP saya tidak pernah mendapat juara. Dan dari sinilah dimulainya perubahan dalam diri saya, dari prilaku buruk menjadi lebih baik.













Mantap karya anak pondok asli
Teruslah berkreasi, berkarya mengeluarkan ide2 brilian.
Teruslah berkarya adekku, kami sekeluarga bangga padamu..
Teruslah berusaha menjadi yang terbaik dan melakukan yang terbaik
Ukirlah cerita kehidupan yang mengandung pelajaran positif untuk dirimu dan orang lain
mantap
Maa syaa allah adek sholeh… tetap semangat dan teruslah berkarya dek, semoga berkah selalu dek yah🤲☺
Semangatt selalu untuk berkarya
Maa Syaa Allah keren Banget dek pokoknya terinspirasi ❤️❤️❤️ semoga ke depannya makin banyak membuat karya yg menginspirasi 😘
Jadilah generasi emas Indonesia di Masa depan, Rubahlah warna di negara ini dengan tulisanmu
MasyaAllah kerenn, sangat menginspirasi🙌🏻
MasyaAllah kerenn, sangat memotivasi🙌🏻
Semoga makin banyak santri” al-badriyah yg mampu memberikan manfaat dgn ilmu dan pengalaman yg mereka miliki