Sarjaya “Jaya Trekker” Menjadi Guide Sejak Usia Tiga Belas Tahun

Lombok Timur – Sarjaya, atau nama kerennya Jaya Trekker, menceritakan pengalamannya merintis jalur destinasi dan menjadi Guide Profesional kepada wartawan massmedia, Jum’at (4/6), saat berkunjung ke tempat kerjanya di Hotel Surya Tetebatu di mana Ia sebagai Manajer Operasional.

Lelaki kelahiran Tetebatu, 39 tahun lalu itu senang berprofesi sebagai pemandu wisata. Dimulai pada Usia 13 tahun, Jaya kecil terjun di pariwisata sebagai Guide Smull dan sebagai penjual postcard jalanan. “Mula-mula saya sebagai guide hanya dibayar dengan sesuap nasi, yang penting makan di restoran,” katanya sambil memutar memorinya ke masa-masa susah.

“Seiring dengan berjalannya waktu saya dipanggil oleh management Hotel R. Soejono Tetebatu ditawari untuk menjadi Anak angkatnya Bapak Williem Gunertion (Alm) berkebangsaan Belanda. Beliau yang membiayai sekolah saya sampai kuliah di Akademi Pariwisata (Akpar) Mataram, lulus tahun 2005,” tutur Jaya.

Waktu itu Ia mendirikan Komunitas yang diberi nama “Semul Guide” yang beranggotakan, Bram, Zeti, Ipon, Sanip dan Pajero. Mereka kompak tetap berjuang untuk perkembangan wisata, mempromosikan semua Destinasi dan membuat banyak atraksi dan mempromosikan Gili Kondo dan pantai Pink serta treking jalur Timbanuh.

Di Tetebatu, Jaya dan kawan kawan membuka air terjun Sarang Walet dan air terjun Tibu Topat sebagai Destinasi alternatif.

Ia mengaku tidak mudah untuk membuka jalur ke tempat destinasi baru. Banyak kendala selain medan yang sulit seperti bukit Sangkareang. Juga kita menghadapi masyarakat yang pro dan kontra serta anggaran dengan dana sendiri dan perlu waktu dan tenaga ekstra.

“Saya yang pertama membawa booking.com dan pencetus mempromosikan wisata melalui media online,” akunya.

Selanjutnya Jaya menjelaskan sudah 26 tahun dirinya mengabdi di pariwisata. Keuntungan yang Ia dapatkan menjadi guide, minimal bisa berinteraksi dengan turis, baik domestik maupun mancanegara. Juga kian mengenal budaya mereka, sekaligus mengasah kemampuannya berbahasa.

“Jujur saya banyak mendapat pengetahuan dari turis-turis yang datang ke sini, termasuk juga menguasai dua bahasa yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Belanda,” tutupnya. (Asbar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *