LOMBOK TIMUR – Di Dusun Polak Penyayang, Kampung Baru, Masbagik Selatan, Senin (19/09), seorang lelaki 45 tahun duduk di gundukan tanah sambil menatap perangkapnya. Di tangannya, sebuah kurungan kecil berisi burung burung kecial, Namanya Dahlan.
Warga Tunjang Utara, Paok Motong, Sikur, Lombok Timur ini bukan pemburu pengalaman. Ia seorang bapak dari 4 orang anak.
Banyak orang tidak tahu, mencari burung di perkampungan tidak sesederhana memasang jaring.
“Kadang ketemu ular di atas pohon mangga. Kadang di pinggir hutan dengar suara-suara yang tidak jelas dari mana asalnya. Kalau takut, anak di rumah tidak makan,” kata Dahlan pelan.
Setiap hari ia keliling. Bukan hanya kampung-kampung yang banyak pohon mangganya, tapi sampai ke bibir hutan. Bekalnya selalu sama parang di pinggang, lem tikus yang lengket di jari, sapu lidi yang diracik jadi perangkap yang disebut KELIMBER, beberapa ekor burung kecial untuk pancingan, MP3 tua yang baterainya sudah retak, dan bungkusan nasi serta tembakau.
Pukul 06.00 pagi, saat orang lain baru membuka matanya, Dahlan sudah menyebrang menyisir sungai.
Ia berhenti di tempat yang ia rasa ramai burung. Lidi dioles lem. Burung pancingan ditaruh di sampingnya. Lalu MP3 dinyalakan keras-keras, meniru kicauan kecial yang memanggil kawan.
Burung-burung itu datang bukan karena ingin berteman, tapi karena merasa wilayahnya direbut. Mereka menyerang. Dan di situlah mereka lengket, terperangkap.
“Terperangkap, saya ambil langsung masukkan kadang,” ucapnya singkat.
Burung yang jadi incarannya hanya satu yaitu burung kecial. Bukan karena hobi. Karena hanya itu yang bisa dijual mudah di cari dan modal kecil.
Satu ekor kecial dihargai Rp 2.000 di pengepul.
“Kalau dapat 10 ekor sehari, dapat Rp 20.000. Cukup untuk beli beras. Untuk menyambung hidup keluarga,” tuturnya. Kalimat itu ia ucapkan sambil tersenyum, tapi matanya menatap jauh.
Terkadang Tuhan memberinya 20 ekor. Seringnya hanya 5 ekor. Kadang hanya 1 ekor. Sangat jarang ia pulang dengan tangan kosong, karena ia tidak berani pulang dengan tangan kosong.
Ia mencari siang, kadang malam. Siang panasnya menyengat, malam gelapnya menakutkan. Tantangannya beda, tapi laparnya sama.
Di punggungnya bukan hanya kurungan burung. Di punggungnya ada 4 anak dan seorang istri yang menunggu beras itu menjadi nasi.
Mungkin bagi kita, kicauan burung kecial hanyalah suara kecil di atas pohon mangga. Bagi Dahlan, itu adalah suara dapur yang tetap mengepul hari ini.
Dahlan (45) memperlihatkan burung hasil tangkapannya di dusun Polak penyayang Masbagik Selatan beberapa waktu lalu. Mungkin banyak orang belum tahu, mencari burung di perkampungan sangat banyak tantangannya. Sering kali seorang pencari burung bertemu hewan buas, mendengar suara gaib, hingga bertemu langsung ular.
Saat ditemui, Dahlan sedang berada di tanahnya Asmuni kampung Polak Penyayang Kampung Baru Masbagik Selatan sedang memasang perangkap burung atau sering di sebut KELIMBER sambil membawa kurungan burung. Warga Tunjang Utara paokmotong, Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur, ketika bertemu bersedia mau menceritakan berbagai pengalaman menjadi seorang pencari burung keliling kampung kandang ke pinggiran hutan, Senin(19/09).
Dahlan mempunyai 4 anak dan satu istri setiap hari mencari burung tidak hanya menjelajahi pedalaman perkampungan biasanya yang banyak pohon mangga. tapi juga beberapa kali memasuki hutan-hutan.
Burung yang menjadi incarannya hanya burung kedit atau burung kecial. mencari burung bukan hanya karena hobi memelihara. tapi, juga untuk mengais rezeki untuk memenuhi hidup sehari hari, burung hasil tangkapannya lalu di jual kepada pengumpul dengan harga 1 burung kecial 2000 rupiah kalau hanya dapat 10 ekor sehari hanya dapat uang 20.000 rupiah cukup untuk beli beras menyambung hidup keluarga,” tutur Dahlan.
Mencari burung hanya Ia lakukan di siang hari, bisa juga di malam hari. Masing-masing waktu mempunyai tantangan berbeda.
Bekal yang dibawanya untuk mencari burung siang hari lumayan banyak. Parang, lem tikus atau lem burung, kandang burung kecil minimal lima buah, sapu lidi, MP3, makanan minuman, dan tembakau. Salah satu kandang kecil berisi burung kecial yang nantinya digunakan sebagai pancingan untuk memanggil burung mendekat.
Sekitar jam 07.00 pagi, biasanya sudah mulai memasuki kampung- kampung menyisir sungai . saat sudah berada tempat banyak burung, Dahlan lantas membuat perangkap dari sapu lidi yang dibawanya. dua bilah lidi dan kayu kecil dioleskan lem burung. Lalu diletakkan burung kecial di sampingnya.
Secara bersamaan juga dibunyikan MP3 dengan nyaring suara burung kecial memancing supaya burung kecial datang untuk menyerang. “Terperangkap, dan saya tangkap dan langsung dimasukkan ke kandang burung” jelas Dahlan.
Begitulah keseharian Dahlan saat ini Terkadang burung yang berhasil dibawanya pulang hingga 20 ekor. Jika sedang tidak beruntung, Dahlan hanya membawa pulang burung lima ekor. bahkan bisa juga hanya satu. Tapi sangat jarang tidak dapat,” ungkapnya. (Asbar)











