Opini  

Kurban sebagai Kurikulum Tersembunyi

Oleh: Hamzani Wathoni

Idul Adha selalu kita kenal sebagai momen ibadah, pengorbanan, dan kepedulian sosial. Pesan itu benar dan tetap penting. Namun, mungkin sudah saatnya kita tidak hanya bertanya berapa banyak hewan yang dikurbankan, tetapi juga nilai apa yang kita pelajari dari cara kita berkurban, dan teladan apa yang kita wariskan kepada generasi berikutnya?. Pertanyaan ini penting karena pendidikan tidak hanya terjadi di ruang kelas tapi juga di halaman masjid, di dapur panitia, di tempat pembagian daging, di percakapan grup WhatsApp warga, dan di layar media sosial. Di ruang-ruang itulah kita diam-diam belajar tentang cara memberi, cara memperlakukan penerima, cara menunjukkan kebaikan, dan cara menjaga martabat sesama.

Dalam pendidikan, ada pelajaran yang tidak tertulis di buku, tetapi sangat kuat membentuk cara kita berpikir dan bersikap. Pelajaran semacam ini sering disebut sebagai hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi. Ia bekerja melalui kebiasaan, tata cara, nada bicara, pembagian peran, dan relasi sosial yang kita anggap biasa. Thornberg (2009) dalam penelitiannya “The moral construction of the good pupil embedded in school rules” menunjukkan aturan dan praktik keseharian di sekolah dapat membentuk gambaran moral tentang siapa yang dianggap baik, tertib, bertanggung jawab, dan layak dihargai. Artinya, manusia tidak hanya belajar dari nasihat, tetapi juga dari suasana sosial yang ia alami. Dengan cara pandang ini, kurban bukan hanya peristiwa menyembelih hewan dan membagikan daging, kurban adalah ruang belajar sosial. Di dalamnya, kita belajar tentang cara memberi, cara menerima, cara memperlakukan orang lain, cara menunjukkan kebaikan, dan cara mengelola hubungan antara yang mampu dan yang membutuhkan, yang justru di bagian inilah sering muncul pelajaran paling kuat, meskipun jarang dibicarakan.

Kita sering mengatakan kurban mengajarkan keikhlasan. Namun, praktik sosial di sekitar kurban kadang mengajarkan hal berbeda. Misalnya, ketika yang paling banyak disebut adalah nama penyumbang, ukuran hewan, jumlah sapi, atau gengsi kelompok, maka bisa jadi pesan diam-diam yang terlihat adalah – kebaikan perlu ditampilkan sebagai status. Kita mungkin berniat baik, tetapi cara kita mengelola simbol kebaikan bisa membuat generasi berikutnya belajar bahwa ibadah sosial harus selalu disertai pengakuan. Ini, tidak berarti nama yang berkurban tidak boleh disebut atau laporan kegiatan tidak perlu dibuat, transparansi tetap penting. Tetapi ada perbedaan antara transparansi dan pamer. Transparansi bertujuan menjaga amanah, sementara pamer bertujuan mencari sorotan. Di sinilah kurban menjadi cermin: apakah kita sedang mendidik diri dan masyarakat untuk bertanggung jawab, atau sedang membiasakan diri menjadikan kebaikan sebagai panggung?

Pelajaran lain yang mungkin tidak kalah penting adalah bagaimana cara kita memperlakukan penerima daging kurban. Kita perlu bertanya dengan jujur: apakah penerima kita sapa dengan hormat, atau hanya dipanggil sebagai daftar nama? Apakah mereka menunggu dalam antrean yang tertib dan manusiawi, atau dibiarkan berdesakan seolah-olah bantuan selalu boleh membuat orang kecil kehilangan martabat? Apakah wajah mereka didokumentasikan dengan izin dan kepekaan, atau dijadikan bukti bahwa kita telah berbuat baik? Ini penting, sebab tidak jarang cara kita memberi seringkali lebih mendidik daripada isi pemberian itu sendiri. Jika penerima diperlakukan dengan ramah, didahulukan yang paling rentan, dan tidak dibuat malu, kita sedang mengajarkan bahwa berbagi harus menjaga martabat manusia. Sebaliknya, jika penerima diperlakukan seperti objek belas kasihan, kita sedang mengajarkan jarak sosial: ada pihak yang merasa lebih tinggi karena memberi, dan ada pihak yang tampak lebih rendah karena menerima. Padahal, nilai kurban seharusnya meruntuhkan ego, bukan memperkuat hierarki sosial.

Paulus dkk. (2013), dalam artikel “Learning how to help others”, menjelaskan bahwa anak usia dua tahun lebih mungkin melakukan tindakan membantu setelah melihat contoh perilaku prososial dari orang dewasa. Temuan ini diperkuat oleh Schuhmacher dkk. (2019) dalam studinya “Modeling prosocial behavior increases helping in 16-month-olds”. Mereka menegaskan bahwa pemodelan perilaku sangat membantu dan berperan penting dalam perkembangan awal perilaku menolong manusia.  Temuan ini penting bukan hanya untuk memahami anak, tetapi juga untuk membaca masyarakat sebagai ruang publik yang sebenarnya bekerja seperti ruang belajar. Tindakan yang terus kita ulang di depan orang lain akan menjadi contoh yang diam-diam membentuk kebiasaan sosial. Karena itu, Idul Adha sebaiknya tidak hanya dikelola sebagai acara teknis, tetapi juga sebagai pengalaman pendidikan. Panitia, guru, orang tua, tokoh agama, dan warga sebenarnya sedang menjadi model sosial. Ketika mereka bekerja sama membersihkan tempat, mengatur pembagian secara adil, mendahulukan lansia, menjaga antrean, dan berbicara dengan santun kepada penerima, mereka sedang menunjukkan bahwa agama memiliki wajah sosial yang lembut dan bertanggung jawab. Sebaliknya, ketika yang tampak adalah saling menyalahkan, berebut peran, pamer dokumentasi, atau menonjolkan kelompok sendiri, kita juga sedang mengajarkan pelajaran lain: bahwa ritual bisa kehilangan ruh sosialnya.

Di era media sosial hari ini, pelajaran tersembunyi dari kurban menjadi lebih rumit. Dokumentasi kurban tentu dapat bermanfaat sebagai laporan, arsip, edukasi, dan ajakan kebaikan. Masalahnya bukan pada dokumentasi itu sendiri, sebab dalam banyak kegiatan publik, dokumentasi memang diperlukan untuk laporan dan akuntabilitas. Yang perlu dijaga adalah agar kamera tidak mengalahkan kepekaan. Dokumentasi dapat bergeser menjadi pertunjukan moral ketika kebaikan lebih diarahkan untuk dilihat daripada untuk dirasakan manfaatnya. Lavertu dkk. (2020), dalam studi “The extended warming effect of social media”, menunjukkan kesadaran tentang adanya audiens online dapat mendorong seseorang melakukan tindakan prososial di dunia nyata. Akan tetapi, dorongan itu sering dimediasi oleh kesadaran citra publik dan motivasi eksternal. Mereka menekankan bahwa ketika seseorang merasa sedang dilihat oleh audiens online, ia cenderung mengelola perilakunya agar tampak baik di hadapan publik digital. Dengan kata lain, kesadaran bahwa kita sedang atau akan dilihat dapat mengubah cara kita berbuat baik. Karena itu, masalahnya bukan pada kamera, melainkan pada niat, cara, dan batas etis penggunaannya. Mengunggah kegiatan kurban dapat dibenarkan jika tujuannya untuk edukasi, transparansi, dan pertanggungjawaban. Namun, kita mungkin perlu lebih hati-hati ketika kemiskinan dijadikan latar belakang konten, atau ketika wajah penerima bantuan ditampilkan tanpa sensitivitas. Pada titik tertentu, praktik seperti itu dapat menggeser makna kurban dari ibadah sosial menjadi tontonan sosial. Di sinilah pelajaran penting bagi kita dan generasi berikutnya, kebaikan tidak hanya dinilai dari apa yang diberikan, tetapi juga dari cara ia dilakukan. Idul Adha seharusnya mengajarkan kemampuan membedakan antara berbagi untuk membantu dan berbagi untuk dilihat.

Maka, kurban sebagai kurikulum tersembunyi menuntut kita lebih peka terhadap hal-hal kecil yang sering dianggap sepele. Cara panitia memanggil penerima, cara kita menyebut orang miskin, cara antrean diatur, cara bantuan diserahkan, dan cara kegiatan didokumentasikan, semuanya mengandung pelajaran sosial. Dari hal-hal sederhana itu, kita sedang mengajarkan apakah berbagi berarti menghormati, atau justru memperlihatkan jarak antara yang memberi dan yang menerima. Kita juga perlu memikirkan bagaimana generasi muda dilibatkan. Apakah mereka hanya diminta mengangkat kantong daging, atau diajak memahami mengapa sebagian warga harus didahulukan? Apakah mereka hanya melihat proses pembagian, atau diajak merenungkan bahwa memberi bukan sekadar memindahkan barang dari tangan kita ke tangan orang lain, melainkan juga menjaga perasaan dan kehormatan penerima? Di sinilah keluarga, sekolah, pesantren, masjid, dan masyarakat memiliki peran penting: mengubah kurban dari kegiatan teknis menjadi pengalaman pendidikan.

Kurban mungkin akan lebih bermakna jika setelah pembagian daging selesai, kita masih menyisakan ruang untuk bertanya: siapa yang belum terjangkau? Apakah distribusi kita sudah adil? Apakah cara kita memberi sudah menghormati penerima? Apakah dokumentasi kita benar-benar mendidik, atau hanya memperindah citra? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini membuat Idul Adha tidak berhenti sebagai acara tahunan, tetapi menjadi latihan moral dan sosial untuk terus memperbaiki cara kita hidup bersama. Pada akhirnya, yang dikurbankan dalam Idul Adha tidak semestinya hanya hewan. Ada ego yang juga perlu disembelih: ego untuk dipuji, ego untuk terlihat paling dermawan, ego untuk merasa lebih tinggi daripada penerima, dan ego untuk menjadikan kebaikan sebagai panggung. Jika ego-ego itu mampu kita kendalikan, Idul Adha benar-benar menjadi pendidikan yang hidup. Ia tidak hanya mengajarkan kita untuk berbagi, tetapi juga mengajarkan cara berbagi yang menjaga martabat, merawat empati, dan meninggalkan teladan yang lebih bersih bagi generasi berikutnya.

DPRD Lombok Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *