Peristiwa yang sama di Gunung Rinjani Juni 1982 dan Juni 2025

Med Mugni

Lombok Timur – Peristiwa jatuhnya Pendaki Gunung Rinjani yang terjadi puluhan tahun lalu akan menjadi cerita yang dikenang oleh saksi mata dan masyarakat sekitar. Beberapa saksi mata yang selamat dari kejadian tersebut mungkin masih mengingat detail-detail peristiwa, termasuk kondisi cuaca, jalur pendakian, dan detik-detik terakhir sebelum kecelakaan terjadi. 

Cerita mereka, meskipun mungkin sudah tidak utuh, tetap menjadi bagian penting dari sejarah pendakian gunung tersebut.

Berikut cerita yang menggambarkan kejadian 43 tahun silam tentang  peristiwa yang serupa, oleh Med Mugni (77) walaupun tidak sepenuhnya sama dalam rentang waktu berselang 43 tahun atau pada Juni 1982 dan Juni 2025.

Tragedi  lama ada dalam kenangan catatan sejarah tragedi baru yang viral medsos dan memenuhi ruang pemberitaan media online, cetak maupun elektronik, menyibukkan ujung jari netizen pegiat media sosial untuk ditampilkan di layar handphone berupa ulasan berbagai komentar, kritik dari mereka bahkan gambar terkini dari tragedi yang terjadi, sampai lupa tentang Sampah Gunung.

Sembari menghela nafas Med Mugni mengenang dan mengingat-ingat kembali peristiwa 43 tahun yang lalu ketika bertugas di kantor Humas Pemda Kabupaten Lombok Timur.

Cerita masa lalu Med Mugni ini diceritakan kepada massmedia Jum’at ( 27/6) tentang apa yang terjadi pada bulan Juni 1982 (43 tahun  silam ) mungkin sebagian besar netizen yang mengabarkan kepada kita tentang peristiwa hari ini belum lahir.

Pada saat ini komunikasi lebih dipermudah dengan adanya Handphone ( HP)  dan Drone sehingga mobilisasi dan evakuasi dapat dipermudah, sangat jauh berbeda dahulu saat bertugas kita menggunakan Handy Talky(HT).

HP (handphone/ponsel) dan HT (handy talky) terletak pada fungsi dan cara kerjanya. HP digunakan untuk komunikasi pribadi melalui jaringan seluler, sedangkan HT digunakan untuk komunikasi nirkabel jarak dekat melalui gelombang radio, seringkali dalam konteks kelompok atau Tim. 

Hari itu seperti biasanya saya duduk di meja operator radio komunikasi 2 meter band di kantor Pemda Lombok Timur, tiba-tiba masuk panggilan, CQ CQ YC 9 HOTEL SERRA (call sign Bupati Lotim Haji Saparwadi) langsung mikrofon saya ambil panggilan itu datangnya dari Sekretariat ORARI DAERAH NTB di Mataram, ya disini YD 9 GAT (call sign Med Mugni) monitor, Dalam pikiran saya ini ada peristiwa penting sampai harus bicara dengan Bupati dan betul saja

saya diminta menyampaikan kepada Bupati tentang ada kecelakaan pendaki gunung Siswa SMAN No 1 Malang, yang bernama Muhamad Alfan,  yang terperosok di lereng Gunung Sangkareang dalam perjalanan dari Senaru menuju Segara Anak, dimana Bupati dimohon mengendalikan penyelamatan dan pencarian.

Selesai saya lapor ke Bupati saya diperintah menghidupkan Stasiun Radio di Pendopo dan beliau menelpon KODIM 1615 Lombok Timur untuk dibawakan PETA.

Sementara dari Mataram sudah berangkat YC 3 QL Soekardi Wibisono bersama temannya Alfan (yang terperosok itu.) Memang operasi pencarian dan penyelamatan itu dikendalikan langsung Bupati Lombok Timur saat itu.

Pada saat di Pendopo itu baru saya tau kegunaan peta yang di Kodim itu, Bupati berkomunikasi dengan Sukardi. jadi pencarian itu dikendalikan  dari Stasiun Radio dengan membaca peta militer (istilah saya), ya memang Bupati Lombok Timur saat itu Kolonel RPKAD (KOPASSUS).

Setelah Pak Sukardi menginformasikan posisi tepatnya dengan derajat derajat yang saya tidak mengerti langsung diarahkan bergerak turun kekiri dan ke kanan sekian derajat lengkap dengan keadaan medannya kemiringan  ada batu besar dan ciri ciri lainnya, berlangsung sampai  menjelang malam.

Korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di kedalaman  jarak dari titik jatuhnya 200 meter lebih, Untuk evakuasi Bupati menelpon Danlanud Rembiga untuk meminta bantuan helikopter membawa jenazah ke Mataram karena jalan darat tidak memungkinkan dimana  jalan Sambelia  ke Sembalun belum sempurna  tidak bisa dilewati ambulan sementara Pesugulan  ke Sembalun masih hutan belantara.

Malam itu juga saya diperintah berangkat ke Sembalun “kamu berangkat selanjutnya ambil inisiatif”.kata Bupati, begitulah perintah cara tentara, atau kamu berangkat sampai ditujuan tunggu perintah selanjutnya.

Malam itu juga kami bertemu Kepala Desa Sembalun Lawang untuk menyiapkan kedatangan helikopter dan tim evakuasi cara Sembalun dimana Pak Kades menghubungi beberapa orang yang biasanya nyeran (berburu) di lokasi tempat jatuhnya korban dan berangkat sebelum subuh untuk evakuasi korban ke Sembalun.

Evakuasi berlangsung lancar sore hari sesampai di Sembalun jenazah korban diterbangkan ke Mataram untuk diserahkan ke pihak keluarga. 

Dalam Tragedi baru-baru ini Juliana Warga negara Brazil itu, YB 9 KA (Soekardi Wibisono ) menjelaskan kalau ORARI NTB juga menyiapkan bantuan stasiun radio komunikasi,untuk stand by manakala tidak ada sinyal BTS. (Asbar)

DPRD Lombok Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *