Lombok Timur – Rencana pembukaan rute penerbangan langsung (direct flight) antara Darwin, Australia, dan Lombok membawa angin segar bagi industri pariwisata di Nusa Tenggara Barat. Namun, di balik optimisme tersebut, terselip harapan besar agar rencana ini benar-benar terealisasi dan tidak hanya menjadi janji manis pemerintah.
Edy, salah satu pelaku wisata di Lombok Timur, menyatakan bahwa aksesibilitas udara adalah kunci utama jika Lombok ingin bersaing secara global. Menurutnya, keramaian wisatawan di Bali saat ini adalah bukti nyata dari banyaknya koneksi penerbangan internasional.
“Sangat berdampak. Semoga saja terealisasi dan jangan ‘PHP’ (Pemberi Harapan Palsu) lagi dari pemerintah. Bali ramai karena banyak penerbangan dari berbagai negara,” ujar Edy kepada massmedia.id saat ditanya dampak dari rute penerbangan baru tersebut, Rabu (15/1).
Belajar dari Pengalaman Masa Lalu
Edy mengenang masa sebelum gempa bumi melanda Lombok pada 2018 silam. Saat itu, rute penerbangan dari Perth ke Lombok sempat beroperasi dan membawa dampak signifikan bagi jumlah kunjungan wisatawan asal Australia. Namun, program tersebut terhenti pasca-bencana dan belum kembali normal sepenuhnya.
Ia menambahkan, berdasarkan interaksi langsung dengan tamu-tamu mancanegara, kendala utama yang mereka hadapi adalah keharusan untuk transit, terutama melalui Bali atau Jakarta.
“Sering saya tanya tamu, bagaimana untuk meningkatkan kunjungan ke Lombok? Mereka jawab: perbanyak penerbangan langsung. Tamu-tamu dari Eropa seperti Prancis, misalnya, mereka ingin sekali ada penerbangan internasional langsung ke Lombok tanpa perlu transit ke Bali,” ungkapnya.
Mengincar Pasar Sydney dan Melbourne
Selain Darwin, Edy juga mendorong pemerintah untuk melirik kota-kota besar lainnya di Australia seperti Sydney dan Melbourne. Menurutnya, potensi pasar dari dua kota tersebut sangat besar dan bisa membuat pariwisata Lombok “ngeri” dalam artian positif karena lonjakan kunjungan.
Saat ini, penerbangan internasional langsung ke Lombok masih terbatas pada rute Malaysia dan Singapura. Edy menilai keterbatasan rute ini membuat citra bandara internasional di Lombok belum maksimal.
“Kita kan cuma ada penerbangan langsung dari Malaysia dan Singapura, kesannya seperti untuk jalur pekerja migran saja,” selorohnya.
Promosi Sudah Final, Saatnya Eksekusi Akses
Menutup keterangannya, Edy menegaskan bahwa urusan promosi destinasi Lombok sebenarnya sudah berada pada tahap yang sangat baik. Alam dan budaya Lombok sudah dikenal luas. Kini, yang dibutuhkan hanyalah kemudahan bagi wisatawan untuk menginjakkan kaki di Bumi Gora.
“Untuk promosi saya rasa sudah final. Solusi terbaik untuk meningkatkan kunjungan ke Lombok tinggal memperbanyak penerbangan langsung. Itu kunci utamanya,” pungkas Edy. (wan)












