Seni  

Lestarikan Warisan Budaya Tenun, Pokdarwis Tunggul Gelar Sekolah Tenun

Lombok Timur – Untuk mempertahankan warisan budaya yang sudah turun temurun, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Tunggul, Desa Pringgasela Kecamatan Pringgasela menggelar Sekolah Tenun yang bertajuk “Pelatihan Tenun Generasi Muda”. Kegiatan diikuti 26 peserta dan digelar selama lima hari mulai dari 15 hingga 19 November 2021 di Showroom Gallery Tenun Pringgasela.

Ketua Pokdarwis Tunggul, Rona Iskandar menjelaskan bahwa kegiatan ini digelar atas inisiatif dari Pokdarwis dan sejumlah masyarakat penenun. Tujuannya adalah memberikan edukasi kepada generasi muda di Pringgasela untuk terus mempertahankan dan melestarikan budaya menenun yang sudah turun temurun sejak nenek moyang mereka.

“Jadi penginisiasi dari kegiatan ini adalah Pokdarwis.Timbulnya ide sekolah tenun ini adalah aspirasi dari masyarakat tenun untuk terus mempertahankan dan mengembangkan budaya kita di Pringgasela,” jelas Rona pada media ini, Selasa (16/11).

Kegiatan ini, lanjut Rona, akan terus dilakukan dalam bentuk sekolah atau pelatihan tenun. Oleh karenanya ia berharap kepada pemerintah baik dari tingkat desa hingga pusat untuk terus mendukung baik secara moril dan materil.

“Karena ini adalah identitas desa dan merupakan simbol dari daerah kita. Dan juga dapat memberikan dampak secara ekonomi untuk masyarakat. Jadi, mau tidak mau harus didukung penuh dan diprioritaskan jadi program wajib dan unggulan,” harapnya.

Selain itu, ia juga sedang menyusun sebuah dokumentasi budaya dalam bentuk sebuah buku yang isinya menceritakan tentang sejarah tenun, filosofi dan proses pembuatannya.

“Jadi dari buku itulah nanti pembelajaran-pembelajaran itu bisa diambil oleh siswa-siswa ini sebagai referensi atau panduan pembelajaran tenun,” terang pemuda yang juga tour leader ini.

Dikatakannya, program sejenis ini di Pringgasela mungkin pernah dilakukan, hanya saja ia melihat hanya sampai pada pelatihan dan tidak berkelanjutan.

“Misalkan pelatihan-pelatihan satu hari, dua hari, tiga hari sampai satu minggu karena itu program dari pemerintah baik tingkat desa, hingga pusat tapi tidak berkelanjutan,” sesalnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Timur, diwakili Kepala Seksi Pengembangan dan Pelestarian Nilai Budaya, Abdul Wahid mengucapkan terima kasih dan sangat mengapresiasi kegiatan tersebut.

Dia menjelaskan bahwa Tenun Pringgasela merupakan warisan budaya yang sudah diakui secara nasional sebagai warisan budaya takbenda dan satu-satunya di NTB.

“Nah, oleh karena itu, sebagai sumbangsih dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi yang ada di Jakarta, memberikan sedikit semangat terhadap kita di Kabupaten Lombok Timur, khususnya di desa Pringgasela,” katanya.

Oleh karenanya, ia berpesan bahwa ini harus dijaga dan dilestarikan. “Kalau lima tahun ke depan, tidak ada yang nenun tentu SK kita akan dicabut dan tidak ada lagi warisan budaya di Pringgasela,” tuturnya di sela-sela kunjungannya pada kegiatan tersebut.

Kepada adik-adek yang sedang mengikuti pelatihan, ia berpesan untuk diikuti secara seksama dan serius. (wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *