Lombok Timur – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki aset lembaga pendidikan pondok Pesantren hampir Ribuan dan salah satu pendiri pondok pesantren adalah Almaghfurlah Maulana Syaikh yang juga pendiri Nahdlatul Wathan (NW). Hal itu menyebabkan NTB memiliki Pahlawan Nasional.
Demikian diungkapkan Kepala Dinas Sosial NTB H. Ahsanul Khalik saat mewakili Gubernur Zulkieflimansyah saat menyampaikan sambutannya dalam ulang tahun Pondok Pesantren (Ponpes) Darussholihin NW Kalijaga ke 59 di Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur (Lotim) yang dirangkaikan dengan Haul TGH. Muhammad Saleh Ahmad ke-11, Sabtu (23/07).
“Semua orang harus mengakuinya dan itu salah satu yang menyebabkan Almagfurullah Maulana Syaikh KH. Zainuddin Abdul Madjid menjadi Pahlawan Nasional,” ungkapnya.
Lebih lanjut Ahsanul Khalik mengatakan, kekompakan dan persatuan umat menjadi modal dasar dalam melaksanakan sebuah pembangunan di suatu daerah. Untuk itu, peran jamaah NW sebagai salah satu ormas terbesar di NTB, sangat vital dalam berkontribusi menyukseskan pembangunan di wilayahnya.
“Pastinya, jika jamaah NW itu kokoh bersatu dan enggak terpecah belah, maka pembangunan yang diprogramkan oleh Pemkab Lotim dan Pemprov NTB akan bisa sukses sesuai harapan kita semuanya,” ujarnya.
Selain itu, di hadapan ribuan jamaah dan juga tamu undangan yang terdiri dari para Tuan Guru dan juga Wakil Bupati Lombok Timur, H. Rumaksi, Ahsanul menegaskan, keberadaan sosok Pahlawan Nasional TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau karib disebut Maulana Syaikh selaku pendiri ormas NW, layak dijadikan teladan oleh para jamaah NW di manapun berada.
Ahsanul menuturkan, Ia langsung masuk sebagai salah satu tim penyusun dan perumus pengusulan Maulana Syaikh sebagai Pahlawan Nasional. Ia menilai sosok Maulana Syaikh adalah sosok pahlawan hebat.
Terlebih lagi mantan Kepala BPBD NTB tersebut sempat berdiskusi langsung dengan salah satu sejarawan nasional, Prof. Dr. Anhar Gonggong terkait sosok Maulana Syaikh. Di mana, Wakil Ketua Tim Pengkaji dan Peneliti Gelar Nasional (TP2GN) juga membenarkan manakala Maulana Syaikh, merupakan sosok pahlawan yang lengkap.
Sebab, selain berjuang melawan penjajahan Belanda. Maulana Syaikh juga mampu membawa masyarakat keluar dari kebodohan.
Menurut dia, banyaknya bangunan pondok pesantren dan lembaga pendidikan yang didirikan oleh Almaghfurlah Maulana Syaikh. Salah satunya, di Ponpes Darussholihin NW Kalijaga, Kecamatan Aikmel, tidak lain adalah upaya Maulana Syaikh untuk terus berjuang memberikan bekal pendidikan kepada anak anak muda pada zamannya.
Tentunya, hal tersebut adalah kehebatan luar biasa yang tidak dimiliki oleh orang lain. Karena itu, perjuangan Almaghfurlah Maulana Syaikh menjadi bukti untuk para jamaah NW, agar mulai fokus tidak terpecah belah lagi dalam bersikap, berakal budi dan cinta Tanah Air.
Terlebih, lanjut Ahsanul, saat ini, ormas Islam yang memiliki ponpes dan lembaga pendidikan Islam yang paling banyak di Provinsi NTB, adalah Nahdlatul Wathan (NW).
“Ingat, keberhasilan pembangunan di daerah adalah terletak dari kekompakan umat Islam, salah satunya NW dalam meneruskan nilai-nilai kepahlawanan yang telah dicontohkan oleh Maulana Syaikh,” jelas Ahsanul Khalik. (HH)












