Lombok Timur – Lombok Titik ke 27 dari 24 kota,Tour Kukuh Prasetya Kudamai tahun 2022, setelah singgah di beberapa Kota di Jawa Barat, Jogja, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan berakhir di Lombok. Tour dimulai dari Magelang tanggal 14 Mei dan berakhir 14 Juni 2022, di Lombok.
Mendung Tanpo Udan yang artinya mendung tak berarti hujan, yang dinyanyikan versi dangdut oleh Ndarboy Genk hingga kini Viral di media sosial, telah mendapat viewer sekitar 46 juta. Namun, masih banyak orang yang belum tahu bahwa penyanyi asli dari lagu tersebut adalah Kukuh Prasetyo (29), seniman serba bisa asal Kabupaten Madiun, Jawa Timur yang sekarang menetap di Bantul.
Setibanya di Lombok Senin(11/6) sehari sebelum live di Tempasan, Kukuh Kudamai live Talkshow di Studio Pepadu Badjang Masbagik milik Helmy Prastowo Budi, esok harinya sebelum live perform di tempasan Aranka, Kukuh Prasetya Kudamai dan crew terdiri dari Pemain inti , Engineering, dan Road Manager, menyempatkan diri untuk melihat Sanggar Seni Teruna Bebadosan di Lenek Daya, mereka disuguhkan tarian Dare Ngindang dan Tari Gagak Mandi.
Sebelum Tampil pada malam harinya massmedia berkesempatan wawancara dengan Kudamai, nama panggung Kukuh Prasetyo di Aranka Tempasan Pringgasela Lombok Timur, pada Selasa malam (14/7).
Kukuh Prasetya menceritakan bahwa, lagu-lagunya tercipta 90% dari pengalaman teman-temannya. Begitu juga lagu yang viral Mendung Tanpo Udan yang artinya mendung tak berarti hujan diciptakan saat Ia di Jakarta. Setelah diberhentikan dari pekerjaan semula yaitu bermain Sinetron Para Pencari Tuhan, akibat dari pandemi covid-19 merebak tahun 2020. “Saya menjadi pengangguran dan tidak bisa pulang ke kampung halaman,” sebutnya dengan rasa penuh prihatin.
Lebih lanjut, Pria lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tahun 2017 tersebut mengatakan bahwa dalam suasana terjepit tidak ada pekerjaan, lalu dia merenung sambil merokok. “Saya harus bikin karya, sesuatu yang diasah pasti akan tajam,” katanya. Maka terciptalah Mendung Tanpo Udan yang sempat viral cukup lama.
Lagu ini tentang harapan tetapi berhenti di tengah jalan. Semua lagu-lagu yang diciptakannya, emosi setiap lagunya akan lebih sangat terasa jika didengarkan sekaligus. Karena saling terkait satu lagu dengan lagu yang lainnya. “Meski masing-masing lagu bisa juga dinikmati secara mandiri,” sebutnya.
Menurut Pria yang masih lajang ini lagu-lagu dalam Mini Album tersebut seperti keluarga. “Masing-masing anak bisa hidup sendiri, tapi kalau didengarkan bersamaan, suasananya akan lebih hidup. Justru inilah salah satu kekuatan Album pertamanya, Mendung Tanpo udan ini,” terangnya.
Saat pertunjukan berlangsung Kukuh Prasetya Kudamai menyanyikan Tujuh lagu berbahasa Jawa berturut-turut. Diselingi canda tawa kelucuan yang ia ciptakan di atas panggung sebagai seniman serba bisa. Sehingga candaannya membuat penonton tertawa bahagia dalam cuaca dingin 23° C.
Ketujuh lagu tersebut sebagai lagu pembuka Mendung Tanpo Udan, dilanjutkan dengan Mendung Ketemu Udan, Mendung Udan Terus Terang. Diselipkan lagu terbaru yang akan rilis pada Album kedua PSWT MBR (spoiler album selanjutnya), Udane Ora Roto, dan lagu Terang (sebagai jawaban dari lagu Mendung Tanpo Udan) dan diakhiri lagu yang lagi viral versi Pop Mendung Tanpo Udan berhasil membius penonton untuk ikut nyanyi bareng.


Di akhir acara pukul 22.30 WITA, Kukuh Prasetya Kudamai memenuhi Nazarnya, yaitu bila Tour Kudamai ini selesai di 27 Titik maka dirinya akan memotong rambut, diawali dengan doa dan penuh rasa syukur. Pemilik Aranka Tempasan Sareh Erwin yang memulai memotong rambut Kukuh, dilanjutkan dengan Crew Kudamai dan penonton lainnya. Dengan penuh haru dan kedamaian, membuat kesan yang berbeda berada di Pulau Lombok yang indah, dan membuat mereka ingin kembali ke Lombok, seperti lagunya Amtenar, Lombok I love you. (Asbar)













