LOMBOK TIMUR – Krisis air bersih di wilayah Lombok Timur bagian selatan kian meluas. Kondisi tersebut terlihat dari terus bertambahnya keluhan masyarakat kepada pemerintah agar mendapatkan suplai air bersih untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari.
Menanggapi kondisi tersebut, MIM Foundation bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lombok Timur dan Relawan Galaksi Lotim menyalurkan bantuan sebanyak 25.000 liter Air bersih kepada warga terdampak kekeringan di Dusun Telone, Desa Sekaroh Timur, Kecamatan Jerowaru, Sabtu (15/8/2026).
Bantuan air bersih tersebut didistribusikan kepada lebih dari 150 kepala keluarga (KK) yang berada di RT 1 dan RT 2.
Ketua RT 1, Rahma, menyampaikan terima kasih atas bantuan air bersih yang diberikan kepada warganya. Menurutnya, wilayah tersebut mengalami kekurangan air bersih hampir setiap tahun, terutama selama musim kemarau yang berlangsung sekitar enam bulan.
“Setiap tahun kami selalu kekurangan air bersih, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun masjid. Hal ini karena jaringan perpipaan air bersih belum sampai ke wilayah kami,” ujar Rahma.
Ia berharap pemerintah Kabupaten Lombok Timur maupun pemerintah pusat dapat segera memperluas jaringan perpipaan air bersih hingga ke wilayah Telone.
“Kami sangat berharap kepada pemerintah Lombok Timur maupun pemerintah pusat agar jaringan perpipaan air bersih bisa segera sampai ke wilayah kami,” harapnya.
Rahma menjelaskan, sebagian besar warga setempat bekerja sebagai nelayan dan petani. Hasil tangkapan nelayan biasanya dibawa dan dijual ke Pasar Tanjung Luar. Sementara itu, para petani umumnya bekerja sebagai buruh tani tembakau maupun palawija.
Hal senada disampaikan Awaludin, salah seorang warga Telone penerima bantuan. Ia mengatakan, saat musim kemarau tiba, keluarganya harus membeli air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Selama musim kemarau sekitar enam bulan, kami membeli air bersih satu tangki seharga Rp 250 ribu dengan kapasitas 5.000 liter. Kadang air tersebut dibagi dua dengan tetangga karena kami belum memiliki penampungan yang besar,” ungkapnya.
Menurut Awaludin, satu tangki air tersebut hanya mampu memenuhi kebutuhan keluarganya sekitar 15 hari. Sementara kebutuhan air untuk tempat ibadah, khususnya Masjid Jami Baitul Izzah, dipenuhi melalui kas masjid yang bersumber dari warga setempat.
Sementara itu, Iwan, petugas BPBD Lombok Timur dari Tim Kedaruratan Logistik (Darlog), mengapresiasi kerja sama antara BPBD, MIM Foundation dan Relawan Galaksi dalam membantu masyarakat yang mengalami krisis air bersih.
Ia menilai sinergi antara pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk menghadapi persoalan kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah Lombok Timur.
“Krisis air bersih bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan kepedulian dan partisipasi masyarakat Lombok Timur,” tegasnya. (Asbar)













