Buah Pena

Aku berpikir siapakah aku?
Kau?
Berpikir siapakah engkau?
Lalu siapakah kita?

Sinarku ialah rentetan bait puitis
Tertuang dalam secarik kertas melalui pena yang dipacu pikiran
Kubangun bangsa dengan fondasi imaji berjubah literasi
Inilah pemberianku, aku yang tengah duduk di bangku persekolahan.

Heh.. Kau sangka aku jemawa bersama sejumput sajakku?
Hai.. Tunjukkanlah kuasamu!
Pamerkan wacana perihal akar penopang tumbuhnya negara!
Jangan apatis merasa tiada berguna!
Kita dilahirkan ibu Pertiwi bukan sebagai penonton semata, namun lakon yang membalas jasa dengan karya.

Lihatlah ke belakang!
Ada pahlawan yang menuntut aku dan engkau merawat burung Garuda
Mereka tak mau titisan Nusantara meruncingkan bambu untuk merdeka
Mereka enggan menyaksikan pertumpahan darah demi berkata-kata
Kita hanya butuh tinta, yang disampul jelita kesaktian berbahasa.

28 Oktober 1928 berkalang tanah di Batavia
Yang kini mereka sebut dengan ibu kota Jakarta
Riuh para pemuda pemudi melisankan janji setia atas nama bangsa Indonesia
Aku bertumpah darah satu
Aku berbangsa satu
Aku berbahasa satu
Semuanya bermuara pada heroiknya semboyan Bhineka Tunggal Ika

Ha ha ha.. ekh..(tangisan)
Para berjasa yang aku kasihi berani bersumpah
Kita yang hidup di zaman ini hanya mengingat serapah
Seperti mereka, bukankah berkarya membuatmu terlihat gagah?

Siapakah kita sekarang?
Apa masih harus bersembunyi dibalik tirai pengecut itu?
Sadarlah!
Tolong.

DPRD Lombok Timur

Respon (20)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *