LOMBOK TIMUR — Meski belum berhasil melaju jauh di ajang Liga 4 Nasional, penampilan Perslotim menorehkan catatan positif bagi peta kekuatan sepak bola Lombok Timur. Skuad berjuluk Laskar Lombok Timur (Lotim) tersebut dinilai mampu memberikan perlawanan sengit dan bersaing dengan klub-klub dari daerah yang memiliki tradisi sepak bola lebih maju.
Ketua PSSI Lombok Timur, Muhammad Yusri, menegaskan bahwa kualitas para pemain Perslotim sejatinya tidak kalah saing dengan tim-tim dari Pulau Jawa, Sulawesi, maupun wilayah lainnya di Indonesia.
“Dari segi kedalaman tim, strategi bermain, kerja sama, hingga skill individu, kita sudah cukup baik dan tidak jauh berbeda. Saat berada satu grup dengan mereka, pengalaman dan kultur sepak bola mereka justru menjadi motivasi bagi pemain kita untuk tampil lebih percaya diri,” ujar M. Yusri saat ditemui di kediamannya, Rabu (10/6).
Di balik penampilan kompetitif tersebut, Yusri mengakui timnya menghadapi kendala krusial berupa singkatnya waktu persiapan. Usai memastikan diri lolos dari Liga 4 tingkat provinsi (Piala Gubernur), manajemen hanya memiliki waktu sekitar tiga minggu untuk membentuk skuad dengan merekrut pemain dari klub lokal lain seperti Kejora, Gazala, dan Ramzan Wadi.
“Penyesuaian tim tentu membutuhkan waktu. Meski persiapan tidak maksimal, Alhamdulillah Perslotim tetap mampu menunjukkan performa yang kompetitif di tingkat nasional,” katanya.
Sebagai bukti daya saing tim, Yusri mencontohkan pertandingan melawan salah satu tim asal Jawa Timur yang pernah berlaga di kasta Liga 2. Dalam laga tersebut, Perslotim mampu merepotkan lawan meski akhirnya harus takluk dengan selisih satu gol.
“Kalau persiapan lebih panjang dan matang, peluang untuk menang sangat terbuka. Kami optimistis ke depan Lotim bisa mencetak sejarah dan melangkah lebih jauh di Liga 4,” tegasnya.
Menatap kompetisi mendatang, PSSI Lotim berkomitmen untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh. Evaluasi tersebut mencakup perpanjangan masa persiapan tim, pengetatan seleksi pemain, hingga pembinaan usia dini yang lebih berjenjang.
“Ke depan persiapan harus lebih matang. Pembinaan pemain muda akan diperkuat agar kualitas tim terus meningkat,” jelas Yusri.
Selain pemain, peningkatan sumber daya pelatih juga masuk dalam radar prioritas. Mengingat mayoritas pelatih di Lotim saat ini baru mengantongi lisensi dasar, PSSI berencana mendorong program pelatihan dan kepelatihan lanjutan.
“Kami ingin pelatih lebih profesional dalam membina tim. Karena itu peningkatan lisensi menjadi salah satu prioritas,” ujarnya.
Namun, ambisi besar tersebut masih terbentur realita minimnya ketersediaan dana. Yusri mengungkapkan, upaya menggaet sponsor dari perusahaan swasta di daerah belum membuahkan hasil.
“Kami masih menghadapi kendala anggaran. Beberapa proposal sudah diajukan ke perusahaan-perusahaan di Lotim, namun dukungan yang diharapkan belum terpenuhi,” katanya.
Menutup keterangannya, PSSI Lotim menyatakan akan terus membuka pintu kolaborasi dan berharap adanya sinergi lintas sektor demi kemajuan olahraga daerah.
“Sepak bola adalah milik masyarakat. Potensi kita besar, tapi butuh dukungan bersama dari pemerintah, swasta, dan masyarakat agar talenta muda Lombok Timur bisa berkembang dan mengharumkan nama daerah,” pungkasnya. (*)












