Nelayan Sekotong Sukses Ganda: Tangkap Kepiting Sekaligus Jadi Tumpuan Ekonomi Sesama Nelayan

Hendra Patoni, nelayan sekaligus pengepul asal Dusun Madak Belek, Desa Cendi Manik, Sekotong, menunjukkan kepiting hasil tangkapannya. Selain melaut sendiri, ia juga menampung hasil laut dari nelayan lain di desanya.

LOMBOK BARAT – Tidak hanya piawai melaut, Hendra Patoni, warga Dusun Madak Belek, Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, juga menjadi sosok penting bagi perekonomian nelayan di desanya. Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan penangkap kepiting itu juga merangkap sebagai pengepul hasil tangkapan nelayan setempat.

Dalam kesehariannya, Hendra berangkat melaut sejak dini hari berjalan kaki menggunakan alat tradisional untuk mencari kepiting bakau di sekitar pesisir Sekotong. Kepiting berukuran besar yang ia dapatkan, seperti terlihat dalam foto, menjadi salah satu komoditas unggulan yang memiliki nilai jual tinggi.

“Saya turun melaut sendiri cari kepiting. Kalau lagi musim, bisa dapat 3-5 kg per hari. Tapi saya juga tampung hasil tangkapan teman-teman nelayan lain. Mulai dari ikan, udang, sampai kepiting juga,” ujar Hendra saat ditemui di kediamannya, Minggu (11/5/2026).

Jadi Jembatan ke Pasar

Peran ganda Hendra sebagai nelayan sekaligus pengepul ternyata sangat membantu warga sekitar. Banyak nelayan kecil yang kesulitan menjual hasil tangkapannya langsung ke pasar karena keterbatasan transportasi dan akses pembeli. 

Dengan adanya Hendra, para nelayan cukup menyetor hasil laut ke tempatnya. Hendra kemudian menyalurkan ke pembeli besar di Kota Mataram hingga pengiriman ke luar daerah. Sistem pembayaran yang cepat dan harga yang dinilai adil membuat nelayan lebih memilih menjual ke Hendra.

“Kasihan kalau mereka harus bawa sendiri ke kota. Ongkosnya besar, belum tentu laku. Di sini saya timbang langsung, bayar langsung. Jadi mereka bisa cepat melaut lagi,” tambah Hendra.

Harapan untuk Dukungan Pemerintah

Meski usahanya sudah berjalan bertahun-tahun, Hendra mengaku masih menghadapi kendala, terutama soal fluktuasi harga dan minimnya fasilitas penyimpanan seperti cold storage. Saat hasil tangkapan melimpah, harga sering jatuh.

Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan pendampingan dan bantuan alat tangkap yang lebih modern, serta pelatihan manajemen usaha untuk pengepul kecil seperti dirinya. 

“Kalau ada cold storage, kepiting dan ikan bisa tahan lama. Harga juga bisa lebih stabil. Nelayan jadi tidak rugi,” harapnya.

Kisah Hendra Patoni menjadi bukti bahwa di pesisir Sekotong, semangat gotong royong dan kemandirian ekonomi masih tumbuh kuat. Satu orang bisa berperan ganda: mencari nafkah untuk keluarga sekaligus membuka jalan rezeki bagi tetangganya.

DPRD Lombok Timur

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *