LOMBOK BARAT – Matahari mulai condong ke barat ketika tiga nelayan Dusun Madak Belek, Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong tampak berjalan beriringan di pematang tambak. Memikul pikulan bambu, jaring-jaring hitam dan kantong hijau penuh hasil tangkapan, mereka pulang dengan langkah mantap. Di antara mereka, seorang bocah kecil ikut berjalan kaki, menandakan warisan melaut yang turun temurun.
Dalam foto yang diambil warga, terlihat sosok Nasrah bersama kawan-kawannya baru saja menyelesaikan aktivitas panen di area tambak dan muara sekitar dusun. Bukit hijau Sekotong menjadi latar, menambah kuat kesan hidup pesisir yang masih bergantung pada alam.
Mengandalkan Tambak dan Muara
Berbeda dengan nelayan yang melaut jauh, warga Madak Belek banyak memanfaatkan tambak, sungai, dan hutan mangrove di sekitar teluk. Komoditas utama mereka antara lain ikan, udang, dan kepiting bakau. Alat yang dipakai pun sederhana: bubu, jaring, dan pikulan bambu untuk mengangkut hasil tangkapan ke darat.
“Kalau air bagus, satu kali angkat bisa dapat lumayan. Ini kita bawa ke pengepul dulu, sisanya untuk lauk di rumah,” ujar Nasrah saat ditemui usai melintas di pematang.
Tantangan Nelayan Pesisir
Meski hasil hari ini terlihat cukup, nelayan Madak Belek masih menghadapi kendala klasik. Akses alat tangkap modern terbatas, harga jual ke pengepul tidak stabil, dan cuaca sering tidak menentu. Sebagian besar dari mereka belum memiliki perahu sendiri, sehingga hanya bisa menggarap area tambak dan muara dangkal.
Harapan terbesar mereka adalah adanya bantuan sarana seperti sampan fiber atau perahu kecil. Dengan itu, jangkauan tangkap bisa lebih luas ke area mangrove seberang teluk yang dikenal kaya kepiting dan udang ukuran besar.
Warisan untuk Generasi Berikutnya
Pemandangan bocah kecil yang ikut mengiringi rombongan nelayan siang itu jadi simbol tersendiri. Anak-anak pesisir Madak Belek sudah akrab dengan lumpur tambak dan aroma laut sejak dini. Bagi Nasrah dan kawan-kawan, laut bukan hanya sumber nafkah, tapi juga identitas yang ingin mereka jaga.
“Kalau ada rezeki lebih, kita ingin anak-anak ini nanti sekolah tinggi. Tapi ilmu tentang laut dan tambak jangan sampai hilang,” tambah satu nelayan lainnya.
Potensi Desa Cendi Manik
Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong memang punya potensi perikanan yang besar. Garis pantai panjang, tambak rakyat, dan ekosistem mangrove jadi modal utama. Dukungan pemerintah untuk alat tangkap, pelatihan budidaya, dan akses pasar diyakini bisa mengangkat ekonomi nelayan kecil seperti Nasrah dan kawan-kawan.




