Lombok Timur – Mimpi Masyarakat yang sudah lama yaitu ingin jembatan penghubung melintasi Sungai Tempasan sebentar lagi akan terwujud. Pasalnya, jembatan impian tersebut kini sudah mulai dibangun. Jembatan ini akan menghubungkan Desa Pringgasela dan Desa Pengadangan Barat dengan spesifikasi panjang sekitar 60–65 meter, lebar 1,20 meter, dan tinggi 3 meter dari permukaan sungai terendah.
Menurut inisiator dan penghubung masyarakat dengan Vertical Rescue Indonesia (VRI), Barry Perdana Putra, kepada massmedia Kamis, (4/12) mengatakan, bahwa, Pengerjaan Jembatan Gantung Extension Sungai Tempasan resmi dimulai hari Kamis 4 Desember 2025. “Ini sebagai bagian dari Program Nasional 1000 Jembatan Gantung untuk Indonesia oleh Vertical Rescue Indonesia (VRI). Kami dari Aranka Tempasan berperan sebagai fasilitator komunikasi antara Masyarakat dan VRI,” terang Barry.
Lebih lanjut, Barry menerangkan pada hari pertama, Tim VRI melakukan pemetaan lokasi agar bisa menyusun kontur teknis seperti apa Jembatan kana dibangun. “Pengerjaan Jembatan hari pertama difokuskan pada profiling lokasi, mencakup pemetaan teknis kontur sungai, titik pondasi, akses logistik, dan aspek keselamatan kerja,” imbuhnya.
Nantinya, setelah mulai berfungsi, jembatan ini akan mampu dilintasi oleh 3 orang pejalan kaki dan 1 unit kendaraan roda dua secara bergantian. “Setelah berfungsi penuh, Jembatan diproyeksikan mampu dilintasi tiga pejalan kaki secara bergantian maupun satu unit kendaraan roda dua secara bergiliran, sehingga menghadirkan akses yang lebih aman untuk kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Dadan Ridwan salah seorang perwakilan dari VRI Pusat, menjelaskan bahwa, Pembangunan jembatan ini merupakan bantuan dari Sonam Group, yang diwujudkan melalui pelaksanaan teknis oleh Tim Relawan Vertical Rescue Indonesia serta keterlibatan langsung Masyarakat. “Inisiatif ini bersifat non-komersial dan semangat kerja kemanusiaan berbasis gotong royong,” tuturnya.
Menurut Dadan, pengerjaan profiling berjalan dengan lancar yang merupakan dasar teknis dari pembangunan jembatan tersebut. “Tahap profiling berjalan lancar dan menjadi dasar teknis yang menentukan ketepatan serta keselamatan konstruksi jembatan hingga peresmian nanti,” ungkap Dadan.
Koordinator Vertical Rescue Indonesia NTB, Rasikin Hamdi, menegaskan bahwa pembangunan dilakukan melalui kebersamaan masyarakat dan relawan tanpa orientasi proyek. Ia menekankan pentingnya rasa memiliki bersama, termasuk untuk menjaga jembatan setelah selesai.
Tahapan selanjutnya setelah profiling adalah mendatangkan material untuk pembangunan. “Dengan selesainya kegiatan profiling di hari pertama, pembangunan akan berlanjut pada mobilisasi material dan perakitan struktur awal dalam beberapa hari mendatang,” terangnya.
Sementara itu, lanjutnya, masyarakat dari dua wilayah tetap terbuka untuk terlibat dalam bentuk tenaga dan gotong royong sesuai tahapan. “Jembatan ini dibangun untuk masyarakat dan akan dijaga bersama oleh masyarakat, sehingga keberhasilannya tidak hanya diukur dari rampungnya konstruksi, tetapi juga dari keberlangsungan pemeliharaan dan kebersamaan setelah peresmian nanti,” tegasnya.
Amaq Alwi salah seorang Warga Tempasan menyampaikan rasa syukur atas di bangunnya Jembatan Gantung Sungai Tempasan. “Masyarakat di sini menaruh harapan besar terhadap kehadiran jembatan karena dapat memperlancar aktivitas sehari-hari seperti menuju sawah, mencari rumput, dan membawa hasil bumi,” terang Amaq Alwi dengan penuh rasa syukur.
Pembangunan Jembatan Gantung Tempasan diharapkan berdampak terhadap perekonomian Masyarakat, mempermudah aksesibilitas dan mobilitas Masyarakat setempat. (Asbar)














